Kabar Terkini

Pesta Bebunyian dari Salihara


Pentas Musik UPH4

Dengan tajuk Pentas Musik UPH, sebenarnya sudah dapat kita lihat apa yang ingin disampaikan dalam acara ini. Walaupun menyandang nama Universitas Pelita Harapan, sebuah institusi pendidikan tinggi di Karawaci, pentas ini merupakan sebuah peristiwa unik untuk perkembangan musik baru dewasa ini di Jakarta yang digalang oleh komponis generasi muda, mahasiswa dan alumni Konservatori Musik Universitas Pelita Harapan.

Dibawah arahan dosen komposisi Otto Sidharta, mereka maju untuk mempertontonkan karya, imajinasi dan idealisme mereka dalam inovasi musik baru yang tampaknya sudah cukup matang untuk berkembang lebih jauh dan meramaikan kancah musik baru dan kontemporer tanah air.

Mengambil tempat di Teater Salihara – Pasar Minggu, konser semalam yang menampilkan 13 karya berdurasi rata-rata 6-10 menit dari 8 komponis muda kita bisa jadi adalah tempat yang tepat untuk menata kembali khasanah suara dan bunyi kita yang senantiasa dihujani kebisingan kota. Tampaknya itulah yang menjadi tema umum pentas malam Minggu itu yang diungkapkan oleh kebanyakan komponis yang rindu akan keheningan dan kesendirian. Karya “Tacet” karya Budi Kristanda yang mengutamakan intensitas dalam keheningan dan “Tranquil” karya Stevie Jonathan yang menyelami lolongan soprano dan cello dalam rangkaian interval sekon minor yang menghimpit. Kevin Ivan Renardy juga mengemas keheningan dalam “Winter” yang bening seperti kristal namun juga seakan mencengkeram dengan dingin yang menggigit.

Pentas Musik UPH2

Kekayaan Indonesia dalam musik gamelan pun juga menjadi inspirasi bagi para komponis muda ini. Karya “Footprint” dari Kevin Ivan Renardy untuk gamelan pelog dan slendro, menekankan pada eksplorasi motif yang berulang dalam berbagai nuansa. Di tempat lain, karya Hana Hosea “My Name is Gamelan” mendapat pujian dari Slamet Abdul Sjukur, tokoh senior musik kontemporer Indonesia dalam perbincangan dengan penulis, atas efisiensi dan efektivitas karyanya untuk gamelan slendro yang di telinga penulis sungguh berpakem pada fungsionalitas gamelan Jawa.

Karya Muhammad Arham Aryadi “Quintet for the End of Time” untuk biolin, cello, perkusi, flute dan klarinet serta karyanya yang lain “Topeng” untuk gamelan slendro mengungkap penjara dan karakter manusia yang dikemas penuh unsur drama dengan klimaks yang terarah. “Music of Limitation” karya Stevie Jonathan juga menjadi ajang untuk eksprimentasi dengan ragam bunyi dalam bentuk komposisi yang cenderung formal dan ortodoks, demikian juga karya “Nightmare” yang bertutur dengan lugas ala neoklasik. “Watchman” karya Joshua Sentosa yang mengutamakan percakapan antara piano, cello dan klarinet berkisah akan keindahan pesona alam.

Pentas Musik UPH3

Joshua Sentosa juga membukakan untuk pendengar kekagumannya akan suara mesin jet yang bising dan imajinasi perang udara dalam karya “A.W.A.C.S”. Rekayasa suara elektronik ini mencoba membuka dimensi baru akan suara yang seringkali dianggap menyakitkan dan mencederakan pendengaran kita. Selain itu, kita pun diajak untuk menikmati dan menelaah suara konkret anak ABG dalam jargon-jargon gaul feminin masa kini. “Venus” karya untuk tape dari Christian Febrianto Alexander ini juga mengetengahkan kolaborasi suara dengan seni melukis Andro Kristian, langsung di atas panggung akan citra wanita yang kita kenal. Di sisi lain, Patrick Gunawan mengajak kita untuk menelaah dan berproses lewat karyanya “Noise to Signal” untuk audio/visual. Bahwa dari bisingnya tempaan bengkel pandai besi lambat laun akan tercipta dengung nada gamelan yang indah, semuanya dalam balutan proses yang menyakitkan dan penuh tantangan. Menarik bahwa “Venus” serta “Noise to Signal” proporsinya sendiri untuk menggugah pendengar yang hadir malam itu.

Pentas Musik UPH nampaknya memang menjadi pesta suara dan bunyi bagi pendengarnya. Bahwa musik adalah kekayaan dari suara dan bunyi yang kita temui sehari-hari. Pun budaya Indonesia dan kearifan lokal adalah harta yang demikian berharga untuk kita semua. Malam yang mengasyikkan….

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: