Kabar Terkini

Keriangan Shostakovich di Akhir Bulan Mei


May Concert

“May Concert” inilah tajuk sederhana yang dibawa Jakarta Simfonia Orchestra di konsernya Minggu sore ini. Nyatanya program yang dibawakan tidak sesederhana judul konser hari itu di Aula Simfonia Jakarta.

Seperti beberapa konser JSO sebelumnya yang dibuka dengan tidak lazim, konser malam inipun dibuka dengan permainan piano solo Gloria Teo, seorang pianis muda berbakat yang membawakan karya Scherzo no.1 Frederick Chopin dan The Cat and The Mouse karya Aaron Copland. Kedua karya yang menantang secara musikal dan teknik ini mampu dimainkan Gloria dengan meyakinkan.

Scherzo yang juga menjadi salah satu karya piano yang populer dari Chopin, dibawakan dengan musikalitas yang cemerlang dengan temperamen yang memadai untuk seorang gadis berusia 18 tahun. Pendekatannya yang konvensional juga menunjukkan kepekaannya pada arah tutur musik. Sedangkan permainan kejar-kejaran yang seru The Cat and The Mouse yang dibalut dalam warna blues Jazz dimainkan dengan presisi yang tinggi. Namun nampaknya perlu sedikit pemahaman lebih dari Gloria untuk sedikit lepas dalam bernafas, baik dari segi permainan rubato dan sinkopisasi yang alami untuk musik yang merupakan perkawinan musik abad-20 dengan musik populer kulit hitam yang cenderung bebas. Kecenderungannya untuk mencengkeram karya yang memang secara teknis menuntut ini, seringkali menjadikan karya yang seru dan asyik bagai Tom & Jerry ini seakan hidup hanya untuk memenuhi ketukan biramanya. Walaupun demikian, mengingat usia Gloria yang begitu belia, kita semua diyakinkan akan potensi besar yang dimilikinya.

Konser di sore ini pun diwarnai dengan tiga buah overture, tergolong banyak untuk sebuah konser. Dua buah Overture Franz von Suppé dari dua buah karya panggungnya diketengahkan sesudah seluruh barisan orkes memenuhi panggung, Poet and Peasant Overture dan Light Cavalry Overture. Keseruan Light Cavalry yang seringkali dipakai untuk film-film kartun dan Poet & Peasant dengan melodi yang membius ini menjadi kesempatan bagi orkes untuk bermain dengan lepas di bawah baton Stephen Tong. Di babak kedua giliran The Hebrides Overture karya Mendelssohn yang diketengahkan, lalu dilanjutkan dengan Symphony no.4 op. 90 dengan tajuk “Italian” dari komposer yang sama.

Secara umum permainan orkes di bawah pimpinan Stephen Tong, terdengar bermain dengan seksama. Kemauan pemusik untuk saling mendengarkan dan menghitung yang menjadi titik kunci kesatuan musik yang dimainkan, patut diacungi jempol. Tapi, warna permainan pun sulit untuk seragam dikarenakan interpretasi dinamika yang kurang mengena dari sisi konduktor yang akhirnya mengakibatkan gagalnya arsitektur suara yang hendak dibangun oleh Mendelssohn terlebih dengan kurang cermatnya eksekusi not-not cepat yang sesungguhnya mudah. Walhasil Italian Symphony ini menjadi sulit untuk dinikmati dan dipahami secara musikal karena serasa bergerak dengan mosi sendiri-sendiri. Sungguh disayangkan.

Namun demikian, puncak konser malam itu sebenarnya ada pada akhir babak pertama dengan karya Piano Concerto No.2 dari Dmitri Shostakovich dengan solois piano Indah Lestari Hertanto dan konduktor Timothy Conkling. Permainan piano yang cemerlang dan akurat dari Indah Lestari Hertanto terdengar hidup dalam karya yang ditulis oleh Shostakovich untuk kelulusan anaknya. Perlu dicatat bahwa Indah yang mendalami piano kolaboratif di New York berhasil membuat musik yang ditulis oleh komposer Soviet ini begitu fleksibel dan cair, bukti kemahirannya sebagai pianis kolaboratif ulung yang berbincang dengan orkestra. Permainan piano dengan teknik menantang diimbangi dengan kejernihan nada yang mampu membelah ruang konser tersebut tanpa kehilangan arah terutama dalam karya Shostakovich yang cenderung megah, rumit dan ceria ini.

Permainannya pun dipandu oleh Conkling yang mampu membuat orkestra bermain ringan dan lepas. Timothy Conkling sendiri tampil mendadak menggantikan Asisten Konduktor JSO Billy Kristanto yang tidak dapat hadir karena permasalahan imigrasi. Gerakan dirigen asal AS yang efisien ini terbukti mampu menyampaikan rasa tanpa terkesan mendikte. Walaupun sempat terperangah di tengah bagian ketiga yang rumit dengan birama jamak dengan kedua belah pihak baik orkes maupun piano saling bersoal jawab secara bertubi-tubi, namun Conkling yang juga adalah pemimpin dari Orkes Pemuda Kristen Jakarta ini mampu membentuk kesan hidup dan lincah di babak pertama dan secara mengejutkan menciptakan meditasi yang mendalam pada bagian kedua karya yang ditulis di tahun 1958 ini. Indah pun secara menarik menjawab dengan permainan yang juga tidak kalah sensitif. Karakter yang disampaikan dengan manis dan dekat di hati ini, yang agaknya memberi warna yang berbeda namun tetap logis dari kebanyakan interpretasi konduktor akan karya Rusia ini.

Sudah sekian lama penulis tidak mendengar Orkes Simfonia Jakarta bermain dengan bisik suara lembut yang begitu personal, terlebih ketika dipimpin oleh dirigen yang tampil mendadak. Sebuah kesan yang agaknya sulit lepas dari telinga penonton, sebuah oleh-oleh yang layak dibawa pulang.

===========

Request of Sara Ann to have an English version, so I made one and I apologize for my limited English: (it is quite difficult to translate an Indonesian article, formed by Indonesia structure, to have a good form and sound in English. But I intended to preserve my dialectics in Indonesian, though I know article may become much simpler if I rewrite it using English dialectics)

Joy of Shostakovich at the End of May

“May Concert” is as simple as a title could be, and yet the concert program at Aula Simfonia Jakarta presented by the Jakarta Simfonia Orchestra last Sunday was not as simple as suggested.

Just like previous concerts which were opened in an unusual way, tonight’s concert was opened by the talented young pianist Gloria Teo. Chopin’s Scherzo no.1 and Copland’s The Cat and The Mouse were convincingly presented to the audience.

Scherzo being one of the popular pieces by Chopin, exhibits sheer musicality and temperament of the 18 years old pianist. Her conventional approach to the piece also shows her sensitivity to the musical lines of Chopin while the fun distorted bluesy jazz of The Cat and The Mouse was presented with precision. But seems more understanding of breath is needed from Gloria’s Copland, as it is in rubato playing and natural syncopation for the music which derived parts of its idioms from both the free African American music and the precise 20th century music. Her tendencies to controlled playing often took the piece from its original playful theme and served only the meter of the music, though musically played. And yet, Gloria in such tender age has showed us her potential in becoming a mature pianist.

The afternoon concert was also filled with 3 overtures – quite a number for a single concert. Two overtures by Franz von Suppé for his operettas are the first pieces played after the whole orchestra took the stage. The energetic Light Cavalry which often heard on cartoons and the hypnotic melodies from the overture of Poet and Peasant were able to showcase the expression of the orchestra under the baton of Stephen Tong. While the second part of the concert became all Mendelssohn program with The Hebrides Overture and his famous Italian Symphony no.4.

The orchestra led by Tong played very intently. The strong willingness to listen to one another and to count carefully had become the laudable key to the synergy of the orchestra. But the mismatched colors of the music were resulted from the conductor’s deficiencies to interpret the dynamics for the orchestra. Thus the failure to build a clear structural sound intended by Mendelssohn was eminent, along with the lack of execution on the simple fast notes. Eventually, it is a pity that this Italian Symphony failed to be enjoyed and understood musically, since all elements seemed to move separately.

Nevertheless, the real focus of the concert belongs to Shostakovich’s Piano Concerto no.2 at the end of first half with Timothy Conkling on the podium and Indah Lestari Hertanto on the piano. Indah’s vivacious, clean and accurate playing was apparent in this piece written by the Soviet era Shostakovich dedicated for his son’s graduation. It is notable, Indah who studied collaborative piano in New York, managed to give fluidity and fluency to the music she served, a real evidence of her ability as an accomplished accompanist. Her strong technique balanced with clarity was able to convey the beauty of the tones to the corners of the hall without being disoriented by the grand, complex yet delightful piece.

Her playing was guided by Conkling who successfully got the orchestra to play lightheartedly. Timothy Conkling himself is on the podium after a short notice to replace the orchestra’s assistant conductor Billy Kristanto who was unable to conduct the orchestra because of immigration issues. The efficient movements from the American conductor delivered the moods of the music without being forceful to the players. Though there were some mishaps in the middle of the complex compound meters in the 3rd movement, both Conkling and Indah conversed very closely. The orchestra sounded so alive on the first movement and yet profoundly meditative in the second movement of the piece written in 1958, moving along with Indah on the piano with strong sense of sweetness and personal. This interpretation of the second movement is very much a unique but logical approach of the Russian concerto.

It has been quite a while since Jakarta Simfonia Jakarta was able to speak on a deep, hushed personal tone to the audience. And notably it happened under a short notice guest conductor. An impression that will last, a personal gift to bring home.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Keriangan Shostakovich di Akhir Bulan Mei

  1. Sara Ann // 27 Mei 2013 pukul 6:18 am //

    Hello, and thank you for your wonderful writing. Is it possible to get a translation of this to English? Many thanks in advance for your kindness. Sara Ann

  2. Hi Sara Ann, thank you for reading and leaving a comment here. I have already worked on the translation of this article. Perhaps you can revisit the article or should I send it personally to you?

  3. I very much appreciate your translation. It sounds like it was a wonderful concert. I hope I get to hear this orchestra someday!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: