Kabar Terkini

Eksplorasi dan Kembali ke Akar


BMS ProcopioHadirnya konduktor sekaligus organis Bruno Procopio di Jakarta mengajak kita untuk melihat spektrum lain dari musik dan kelompok musik yang kita kenal. Dan memang itulah keistimewaan dari kehadiran konduktor dan pemimpin tamu dalam sebuah ensembel, di satu sisi selain memperkaya juga memberikan warna lain dari musik dan juga pergelaran itu sendiri.

Adalah kelompok paduan suara Jakarta yang sudah tidak asing lagi, Batavia Madrigal Singers (BMS) yang dipimpin Procopio malam ini. BMS yang seringkali diklaim sebagai paduan suara terbaik Indonesia kali ini tampil dalam format paduan suara kamar/chamber dengan 16 orang penyanyi. Bersama Procopio yang didatangkan oleh Institut Français Indonesia dalam rangkaian Festival Printemps Français 2013, BMS pimpinan Avip Priatna mengeksplorasi warna lain dari musik yang memperkaya program sajian mereka selama beberapa tahun ini.

Apabila untuk BMS konser malam ini adalah sebuah proses eksplorasi, bagi Procopio konser malam ini adalah sebuah proses kembali ke akar rumput yang menjadi domain utamanya sebagai pemusik. Sebagai seorang kelahiran Brazil yang mengecap pendidikan musiknya di Conservatoire de Paris – Prancis dengan spesialisasi harpsichord dan continuo, Procopio menjadi pemimpin unik yang mampu untuk membagikan kekayaan musik dari kedua negara.

Konser malam ini dibuka dengan serangkaian ordinarium misa dengan tajuk Misa Grande karya komponis asal Portugal yang bermigrasi ke Brazil kolonial, Marcos Portugal. Dikenal sebagai komponis yang aktif menulis musik rohani Portugal yang hidup semasa Mozart dan Beethoven mengedepankan gaya elegan masa klasik berpadu emosi yang populer di masa itu dan menjadi cikal bakal gaya musik romantik sesudahnya. Dari segi struktur, karya yang diperuntukan bagi paduan suara dengan iringan organ pipa dikembangkan dengan sistematika yang lazim kala itu dengan berpusat pada bagian Gloria yang dibentuk secara kaya. Pengembangan harmoni dan kontrapung menunjukkan bahwa Portugal adalah komponis yang sungguh fasih dengan idiom musik angkatannya di Eropa.

Pada karya ini Bruno Procopio tampil sebagai dirigen sekaligus organis pengiring. Tampil di Gereja Imanuel yang bersejarah, Procopio menunjukkan kepiawaiannya dalam bermain orgel pipa asli buatan tahun 1843 itu. Pemilihan suara orgel yang mendukung sembari menggiring paduan suara dalam gaya musik era klasik Eropa yang agaknya kurang familiar dalam khasanah dunia paduan suara lokal Indonesia.

Bagi BMS adalah sebuah tantangan tersendiri untuk menyanyikan karya Portugal yang elegan ini dengan tempo yang dipilih oleh Procopio yang tergolong mengalir. Berdiri di balkon lantai dua gedung gereja yang berbentuk lingkaran dengan kubah besar dengan gaung yang begitu mewah dan terkesan membanjir menjadi rintangan yang tidak mudah dilalui. Fokus pada kejernihan eksekusi gaya dan ornamentasi seringkali berbenturan dengan gaung yang tidak kunjung lenyap dari ruangan dan menyebabkan ketidakjelasan teks lagu, terutama bagi para penonton yang mayoritas memenuhi lantai dasar. Proyeksi dinamika yang cenderung berlebih agaknya kontraproduktif untuk akustik gedung yang sebenarnya tergolong sensitif ini. Sedangkan suara yang kurang terfokus akan habis dilalap akustik tanpa tersisa bagi penonton. Memang agar terdengar indah bagi seluruh audiens dalam Gereja Imanuel adalah sebuah tantangan tersendiri yang tidak mudah untuk dilalui oleh setiap penampil yang menjajal salah satu gereja Protestan tertua di DKI Jakarta ini.

Berbeda kisah ketika bagian kedua konser dimulai. BMS kali ini turun ke lantai dasar untuk membawakan karya-karya akapela dengan pimpinan Procopio sebagai konduktor. Kali ini dengan posisi panggung yang sejajar dengan mayoritas audiens, terdengar bahwa BMS bernyanyi dengan cukup seksama. Setelah karya klasik Portugal, giliran karya chanson accapella Prancis abad 15 karya Clément Janequin yang diujukkan. Tidak ada lagi gumaman yang banyak mengisi babak pertama. A ce joli mois de mai, L’Alouette dan La Guerre dibawakan dengan lebih mengena walaupun terdengar bahwa seluruh anggota paduan suara sedang menyesuaikan diri pula dengan akustik sekeliling yang berbeda, berakibat pada sedikit penyesuaian intonasi maupun warna yang kerap terjadi pada paduan suara.

Namun baik paduan suara dan Procopio sungguh nyaman ketika memasuki bagian terakhir dari konser malam itu dengan karya-karya Brazil yang santai namun penuh warna. Irama samba dan rumba terdengar lembut mengalun lewat suara vokal paduan suara yang memenangkan banyak kejuaraan internasional ini. Elastisitas BMS nampaknya sungguh padu dengan ke-Brazil-an otentik konduktor yang sukses meniti karir di Amerika Selatan dan Eropa ini. Rosa Amarela karya Villa-Lobos, Muié Rendêra lagu rakyat dari Brazil penuh dengan ilustrasi khas Amerika Latin yang dinamis namun tetap santai dan mempesona. Sejenak anggota BMS yang menikmati penampilannya disulap menjadi sungguh orang Amerika Latin hingga karya Mamão Tristeza pé no chão menutup rangkaian konser malam itu.

Tepuk tangan pun membanjir dan memaksa konduktor dan paduan suara membawakan kembali 2 karya dari bagian kedua konser ini La Guerre dan Rosa Amarela (ralat: Muié Rendêra) yang terdengar lebih lepas dan asyik daripada ketika kali pertama dibawakan.

Ya, konser malam ini adalah sebuah eksplorasi bagi Batavia Madrigal Singers yang tampil tidak bersama konduktor pimpinannya Avip Priatna, namun sebuah perjalanan menelusuri asal-muasal bagi konduktor dan organis Bruno Procopio. Sebuah acara yang layak disaksikan di dalam salah satu bangunan bersejarah di Jakarta yang saat ini sedang direnovasi demi terjaganya warisan arsitektur Indonesia ini.

~ BMS dan Bruno Procopio akan tampil sekali lagi di Gereja Katedral Bandung, Jl. Merdeka 2 Juni 2013 pk.20.00 Gratis

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Eksplorasi dan Kembali ke Akar

  1. Lagu tambahannya muie rendera dan la guerre, mike. Thanks tulisannya

  2. Terimakasih bu Bojel atas ralatnya…. Salah catat saya.. Sudah diralat di artikelnya. Sukses buat besok🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: