Kabar Terkini

Fenomena Dokumentasi, Sisi Lain Peristiwa Zimerman


Berita fenomena tantrum pianis Krystian Zimerman yang serta merta berhenti bermain di konsernya di Essen dan keluar panggung ketika salah seorang penonton sedang asyik merekam dengan menggunakan smartphone, sedang ramai. Lalu ia pun menjelaskan kepada penonton sebelum melanjutkan konser akan kekecewaannya pada media sosial yang dikatakan membunuh karir banyak pemusik, termasuk lewat video-video yang masuk ke situs-situs seperti youtube yang membuatnya dan banyak pemusik lain ‘dipecat’ dari industri yang membesarkan mereka, karena karya yang akan dipasarkan ternyata pernah direkam oleh penonton dan muncul di youtube. Dalam hal ini masih banyak yang bisa diperdebatkan, apalagi mengingat industri rekaman tidak seperti dahulu 3 dekade yang lalu yang membesarkan karier Zimerman di kancah internasional. Pun seberapa besar efek rekaman seadanya dari smartphone dapat membatalkan deal rekaman besar dengan kualitas mumpuni – sebuah klaim yang harus diperiksa kembali. Namun mari kita melihat sisi lain dari hal ini.

Tendensi penonton masa kini untuk terlibat dalam suatu kejadian lewat media sosial semakin kuat dewasa ini, termasuk di Jakarta pernah saya bahas di bulan September 2008 (tentang Generasi Dokumenter). Dan sejalan waktu untuk menjangkau pasar yang semakin muda, keniscayaan ini tidak dapat ditampik, baik oleh seniman maupun organisator musik klasik. Bahkan karena kasus ini, muncul mosi di media sosial pengamat musik Norman Lebrecht bahwa sudah seharusnya larangan memfoto dan memvideokan oleh penonton harus diubah. Seberapa banyak penonton muda yang akan asyik posting dan check-in ketika dirinya tiba di gedung konser bergengsi, bahkan mengambil gambar ketika ruang auditorium masih kosong? Pun dari media sosial bahkan kita melihat para pemain pun ada yang sempat-sempatnya memfoto panggung dan proses latihan. Ya, media sosial dan berbagi dalam media sosial adalah pandangan hidup masa kini.

Kita seharusnya sepakat bahwa larangan untuk foto dan video bukan sebuah peraturan baku, terutama apabila video dan foto tersebut tidak mengganggu penonton-penonton yang lain ataupun seniman dan organisatornya. Adalah baik apabila menjadi kebebasan setiap penampil untuk menentukan sendiri apakah pertunjukkannya boleh divideokan atau tidak. Pun memang kita menyadari bahwa ada beberapa gedung konser yang mengambil garis keras dalam hal ini seperti ditulis oleh Brian Wise di WQXR, seperti beberapa gedung konser di New York dan juga untuk di Jakarta – Aula Simfonia Jakarta, dimana ada kamera ataupun HP terangkat pasti sudah dilaserpoint oleh usher. Zimerman sendiri sudah secara benar, mengingatkan penonton bahwa ia tidak berkenan untuk direkam, namun tampaknya si tersangka tidak sadar juga dan berhenti malah lanjut memvideo sehingga akhirnya ia mengambil langkah keras untuk keluar panggung. Namun kuliahnya di depan penonton?

Namun seiring dengan itu semua, kita seharusnya berpikir, apakah memang pola pikir untuk mendokumentasikan segala itu adalah pola pikir terbaik? Apakah kecenderungan kita untuk mendokumentasikan segala malahan merampas hak kita untuk menikmati masa kini seutuhnya lewat mata kepala sendiri dan lebih asik menatap layar LCD?

Perlu menjadi kampanye bersama di semua kalangan seniman bahwa menikmati hasil reproduksi adalah sebagian kecil dari pengalaman menikmati karya secara utuh. Hadir untuk menikmati pameran lukisan duplikat saja terasa agak janggal, apalagi sebuah pengalaman konser. Pun saat ini, kita semua sadar bahwa hasil rekaman pribadi tidak sebaik pengalaman kita dengan mata kepala sendiri dan dengan telinga kita. Adalah sebuah kerugian besar apabila terlalu menggantungkan diri pada hasil reproduksi dan tidak pernah sungguh-sungguh hadir dalam pertunjukan tersebut. Di satu sisi, gadget membatasi ruang gerak dan pengalaman. Seringkali kita tersibuk dengan sang gadget, dan malah melewatkan apa yang sungguh terjadi di depan mata kita.

Generasi kita yang terlalu sibuk mendokumentasikan akan sedikit banyak lupa akan keterkaitan emosi yang erat dari pertunjukan langsung di panggung. Ya, berbagi memang berguna dan kita harus menyadari bahwa berbagi menjadi salah satu hal krusial di masa kini, tapi apabila tanpa tersadar kita pun sebenarnya tidak memiliki modal pengalaman instrinsik yang cukup untuk dibagikan, apalah artinya? Kecuali apabila memang esensi untuk berbagi adalah demi gengsi dangkal semata.

Konser pun adalah sebuah proses berbagi. Namun sesungguhnya mereka yang menjadi resipien pertama adalah yang paling beruntung dalam proses tersebut, untuk mengalami sungguh peristiwa musik tersebut. Untuk apa sibuk dengan gadget dan terlepas dari peristiwa tersebut, menjadi resipien kelas dua yang menatap intens layar smartphone, mengintip lewat lensa kecilnya?

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: