Kabar Terkini

Keindahan Esai Musik dari Orchestre des Champs-Elysées


Champs1Setelah sukses mendatangkan orkes barok, Musiciens du Louvre in Grenoble di awal tahun ini, kali ini Institut Français mendatangkan Orchestre des Champs-Elysées sebagai sebuah orkestra yang secara reguler mengeksplorasi karya-karya musik dari zaman klasik dan romantik, dari pertengahan abad-18 hingga awal abad-20 dengan menggunakan instrument-instrumen yang didesain pada masa tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian Festival Printemps Français 2013, konser ini memperkaya khasanah bunyi yang kita kenal. Membawakan karya-karya dari komponis zaman klasik, adalah sebuah pengalaman tersendiri untuk mendengar suara otentik sebuah orkes yang memainkan karya-karya musik dari abad-18 tersebut.

Adalah karya dari komponis Henri-Joseph Rigel yang membuka konser yang diadakan di gedung pertunjukan bersejarah di Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta. Symphony no.10 dari komponis yang berkarier di Paris sejak tahun 1767 ini di usianya yang ke-26. Sebagai sebuah komposisi dari seorang komponis dari awal zaman klasik, simfoni ini secara berbeda menampilkan musik Prancis yang kental dengan unsur klasisisme Jerman yang terstruktur rapi dan cenderung ringkas.

Tampil dengan dipimpin oleh konduktor sekaligus concertmaster (pimpinan barisan biola 1) Alessandro Moccia, sedari awal orkes yang sudah tampil di berbagai panggung ternama dunia seperti Concertgebouw (Amsterdam), Musikverein (Wina), Barbican Hall (London) dan Lincoln Center (New York) menampilkan gregetnya untuk bermain hidup dan lepas. Adalah sebuah kebiasaan pada masa itu bahwa seorang konduktor orkes bukanlah seorang yang berdiri di depan orkes, melainkan bermain bersama orkesnya. Alessandro Moccia pun memimpin dengan bahasa tubuh yang lincah sembari berdiri memainkan biolanya. Ketidakhadiran seorang dirigen yang identik dengan mengaba dengan tangan membuat orkes ini terlihat begitu atentif dalam mendengarkan dan mengorganisasikan suara sembari secara aktif melihat dan merespon pemain prinsipal di bagian masing-masing. Alhasil, terciptalah permainan yang spontan dan dinamis yang fasih membentuk kalimat musik yang bergairah namun tetap terkendali.

Sebagai setelah simfoni yang tergolong singkat, Konserto untuk Klarinet karya komponis kenamaan W.A. Mozart yang ditampilkan. Bermain dengan instrumen otentik abad 18, adalah sebuah kesenangan tersendiri untuk mendengarkan permainan dari orkestra yang mengambil nama dari sebuah nama jalan utama di kota Paris ini. Instrumen otentik memungkinkan permainan yang lincah dan elegan yang menjadi ciri karya zaman klasik begitu masuk akal dan seakan ditakdirkan berada di tempatnya dengan dimainkan dengan instrumen aslinya.

Adalah Nicola Boud yang menjadi solois clarinet untuk karya ini dengan klarinet kunonya. Perlu dicatat, ketika Mozart menulis karya ini, klarinet adalah salah satu keluarga alat musik yang baru saja ditemukan. Mozart pun secara spesial menulis karya ini untuk mengeksplorasi bunyi klarinet yang khas dengan beragam warna pada berbagai registernya. Namun untuk dapat menghasilkan bunyi yang diinginkan, klarinet kuno jauh lebih menantang dibandingkan klarinet modern. Selain keterbatasan katup, klarinet inipun juga kurang stabil dalam menghasilkan warna dan bunyi, terlebih dengan perubahan cuaca hari itu yang lembab akibat hujan deras. Walaupun di beberapa bagian sulit beberapa kali seakan kehilangan arah, permainan klarinetis yang lahir di Australia ini secara menakjubkan penuh dengan kontrol yang mendetail untuk menghasilkan warna permainan yang cemerlang – sebuah hal yang cukup sulit dibentuk dengan instrumen kuno yang cenderung kurang resonantif ini.

Sebagai penutup rangkaian konser di babak kedua, orkes yang saat ini dipimpin oleh direktur artistik ternama Phillipe Herreweghe yang spesialis musik otentik abad-18 ini, memainkan karya Symphony No.40 dalam G minor dari W.A Mozart. Menarik bagaimana orkestra beranggotakan 28 orang ini mengemas suara simfoni Rigel di babak pertama dengan suara simfoni Mozart ini secara berbeda. Sebagai sebuah simfoni yang ditulis di tahun 1788, Orchestre des Champs-Elysées ini membentuk modal dasar suara yang bulat dan cenderung lebih berisi, yang memungkinkan pemain untuk mengeksplorasi lebih jauh aspek emosi, ketegangan dan dinamika – sedikit berbeda bila dibandingkan dengan simfoni Rigel. Dalam karya ini, penonton juga diajak untuk merasakan simfoni yang disusun lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Seksi gesek orkestra pun saling bercakap lewat permainan yang jernih tanpa terkesan terlampau berat. Seksi tiup kayu pun bermain dengan cemerlang dan sederhana. Pun, french horn kuno secara menarik membungkus nada dengan lembut sembari sesekali menyalak benderang. Setiap tikungan kalimat musik pun diselesaikan dengan penuh cita rasa, tanpa terkesan terburu-buru seperti pada permainan cello dan bass yang menggeram rendah.

Malam itu, musik dari era klasik seakan semua berada pada tempatnya, di Gedung Kesenian Jakarta dengan akustik yang cukup mewah, dengan permainan Orchestre des Champs-Elysées yang otentik lewat kehadiran alat musik otentiknya dan pimpinan konduktornya yang luwes. Sebuah esai musik untuk dicerna oleh seluruh pendengar yang memadati auditorium malam itu.

~Orchestre des Champs-Elysées akan tampil di Bandung tanggal 13 Juni 19:30 di Auditorium RRI Bandung

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: