Kabar Terkini

Tersembunyi dalam Hening, Terkuak dalam Nada


Musik adalah buah dari kesunyian yang terbentang pada sehelai kain lebar bernama waktu. Terlukis seturut nafas kehidupan, tercermin dalam nada dan suara yang menghiasi keheningan.

Pergerakan yang nyata dalam Suita Bach no.2 untuk Cello di awal konser, nampaknya tetap kental dengan nuansa hening. Suara cello di tangan cellist Mario Brunello, menggetarkan dalam kesederhanaannya. Di tangan cellist asal Italia ini, seakan lantunan nada dari komposer kelahiran abad 17 ini seakan terangkai jadi satu dalam untaian melodi yang panjang yang hidup namun tetap terbersit sendu.

Demikian juga Suita Bach no.4 untuk Cello yang mengawali babak kedua. Brunello dengan cello Maggini yang dibuat pada abad-17, mencoba mengemas dalam permainan dengan kesederhanaan yang cenderung transparan tanpa vibratto. Pun secara menarik, cellist yang menjuarai Tchaikovsky Competition di Moskow ini menguasai bow/busur penggesek agar mengeluarkan nada-nada jernih yang mengingatkan penulis pada permainan viola da gamba yang populer pada abad-17 dan 18. Ketika banyak interpretasi menawarkan permainan yang dinamis dengan unsur tarian suita yang kuat, cellist yang pernah bekerja sama dengan orkes kenamaan dunia antara London Symphony, Munich Philharmonic, Philadelphia Orchestra, NHK Symphony, Orchestre National de France, La Scala dan musisi dunia antara lain, Jurowski, Ozawa, Abbado, Chailly, Muti, Koopman, Gidon Kremer, Argerich, Pollini dan kuartet kenamaan seperti Alban Berg Quartet malah menawarkan permainan yang arkaik/kuno yang sederhana namun mendalam.

Demikian juga permainan karya modern dari komponis asal Inggris Judith Weir untuk solo cello “Unlocked”. Bertabur kelincahan permainan ritmis dalam hentakan kaki, badan cello yang dipukul, petikan senar, siulan serta nada-nada blues, dan sesekali ritme jig Irlandia seakan masuk mengisi karya dengan 4 bagian “Make me a garment”, “No Justice”, “The Wind Blow East”, “ The Keys to the Prison” dan “Trouble, trouble” ini. Namun demikian pesona yang terlahir bukanlah hiruk pikuk, namun ketenangan dan kesunyian manis yang bertabur gemerlap suara.

Brunello

Judul kaya Alone dari komponis dan juga cellist Italia Giovanni Sollima juga memberi warna yang berbeda. Permainan polifonik dengan drone/satu not panjang yang terus ditahan, dan permainan tangganada eksotik daratan Timur Tengah yang telah dimodifikasi menjadi sajian yang membawa pendengar menuju alam suara yang berbeda di dataran mediterania dengan eksekusi yang brialian dengan hiasan pizzicati dan teknik thumb stop yang inovatif. Dengan permainannya, Brunello yang juga adalah pimpinan Orchestra d’Archi Italiana juga menghidupkan lewat kecepatan gesek dan aksentuasinya yang lincah menutup perjumpaan malam itu.

Inilah kesan yang begitu kuat tercermin dalam permainan Mario Brunello yang asal Italia dalam resitalnya Kamis malam ini. Dalam keheningan yang begitu pekat, cellist dari Italia ini tampil di atas panggung yang luas seorang diri. Lewat setiap helaan nafasnya dan nada-nada dari cellonya, Brunello mampu membuat seluruh penonton seakan takjub dan masuk dalam keheningan, bahkan di setiap peralihan bagian dalam karya, penonton tidak bertepuk tangan sekalipun. Tampil solo seorang diri sepanjang resital, tanpa alat musik pengiring adalah bukti bahwa seniman yang didatangkan Institut Kebudayaan Italia ini mampu membentuk atmosfer yang sedemikian hening lewat permainannya.

Brunello dan cellonya malam itu menyampaikan bahwa daya seorang diripun cukup untuk menyedot seluruh auditorium dengan kapasitas hampir 400 orang dan mengerti pesan dan makna akan kesunyian itu. Sehingga walaupun tanpa tepuk tangan membahana dan sorak, sadar-tidak sadar resital ini menjadi malam refleksi dalam hening bagi pemirsa yang perlahan beranjak keluar dari Gedung Kesenian Jakarta malam ini. Tajuk resital “Voci Nascoste, Voci Rivelate” yaitu “Suara yang Tersembunyi, Suara yang Terkuak” sungguh menjadi nyata.

~ my recital tiket is a courtesy of Julien Pantas

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: