Kabar Terkini

Jangkau Pendengar Baru untuk Musik Baru


Seringkali kita terlalu sibuk berpikir bagaimana agar musik baru bisa menjadi bagian dari sebuah pertunjukan musik klasik yang sudah mapan, katakanlah orkestra ternama dan yang rutin menggelar konser. Namun harus kita akui bersama bahwa tidak semua organisasi mau dan peduli untuk menampilkan karya-karya musik baru, hal yang sepatutnya disayangkan. Pun konser yang diselenggarakan atas nama musik baru pun seringkali sepi pengunjung.

Kita seringkali mendengar bahwa industri masa kini dan banyaknya start-ups berawal dari inovasi dan inovasi yang terus membuat perusahaan-perusahaan ini berkembang dan menciptakan pangsa pasarnya sendiri. Gaya hidup pun kini sudah bersumber pada inovasi. Banyak yang kita lakukan sekarang tidak kita lakukan 5-8 tahun lalu, tapi nyatanya perubahan gaya hidup ini bersifat tetap secara umum walaupun bentuknya berubah. Katakanlah di media sosial, 5 tahun yang lalu kita belum terpikir untuk berbagi lokasi kita. Namun sekarang bisa dikatakan telah menjadi gaya hidup bagi sebagian kalangan muda kita untuk berbagi lokasi yang ia kunjungi, check-in dan kemudian mendokumentasikannya via foto dan video.

Sudah seharusnya seniman pun bisa mencoba menyerap dan beradaptasi dengan gaya ini. Musik baru seharusnya bisa menjadi tren baru yang diangkat sebagai suatu kekerenan sendiri di mata publik. Bahwa di sinilah seluruh adaptasi gaya musik baru muncul. Iya, lewat musik baru. Bahwa yang penting bukan mengerti, tapi yang penting menikmati dan tenggelam dalam alunan suara. Bahwa inilah hal baru yang belum ada di pasar dan mereka yang masuk ke sini akan melihat bahwa ini adalah nubuat akan perkembangan musik industri 5-10 tahun ke depan, dengan elemen-elemen musik baru yang ternyata diserap masuk ke musik industri. Nyatanya dalam pemasaran, pasar akan terbentuk sejalan dengan value creation dari sebuah karya.

Nyatanya tidak banyak komponis yang mencoba melihat karya ciptanya dari segi nilai-nilai apa saja yang bisa didapat pendengarnya. Komponis menjadi terlalu subyektif yang hanyut dalam pemikiran bahwa sebagai komponis, ia sudah seharusnya terkucilkan, dan dianggap berbeda. Sayangnya para komponis ini lebih sering menganggap diri berbeda dibandingkan sungguh dianggap berbeda oleh orang lain. Berapa banyak orang saat ini – di luar para komponis – berusaha keluar dari konformitas? Banyak dan saat ini adalah sebuah fenomena yang mewabah di kalangan muda di Indonesia yang sedang berkembang ini. Kelaraan dianggap sebagai satu-satunya penggerak inspirasi, padahal tidak.

Mengganggap diri berbeda menghancurkan kemungkinan untuk merangkul dan berinteraksi dengan orang-orang lain. Eksklusivitas berlebihan pun menghancurkan. Pendapat bahwa “musik saya bukan untuk sembarang orang” secara tidak langsung membunuh musik itu sendiri. Agaknya komponis dan pemerhati musik baru harus lebih berbesar hati, bahwa mereka bukanlah satu-satunya pemegang panji di dunia, dan bahwa sebenarnya banyak ingin bergabung asalkan diberikan akses untuk masuk dan merasakan sendiri. Buka pertunjukan musik baru untuk umum, supaya publik merasakan dan mulai melihat. Ajak lebih banyak teman di luar kalangan musik untuk menonton, bukan untuk pertama-tama mengerti atau untuk merasa terhibur, tapi merasakan sensasinya terlebih dahulu, untuk berada di luar jalur konformitas yang mulai mengikat keseharian.

Namun kunci pertama adalah buka diri, dan jangan terpaku pada dikotomi bahwa musik kontemporer adalah anak dari musik klasik… Tapi bahwa ini adalah musik inovasi baru yang menarik untuk diikuti?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Jangkau Pendengar Baru untuk Musik Baru

  1. Mike, emg selama ini ada dua kubu yang uda lama sekali saling berseberangan banget di dunia oenciptaan musik baru, yaitu dari yg latar belakang klasik kental dan yg sekadar pengen kedengaran aneh saja. Menurut gw pribadi, setiap pencipta musik memang harus bersentuhan secara langsung dengan audiens di jamannya, dgn orang2 di sekitarnya, dgn musik yg didengarkan audiens itu juga. Sama spt Mozart, Bach, Stravinski, hingga Boulez pun juga hadir di tengah budaya mendengarkan musik yg seperti apa di jamannya dan di masyarakatnya, shg mereka nyambung, dan apa yg mereka ciptakan jg otomatis nyambung dgn khalayak.

    Ya, ada juga sih orang2 spt Conlon Nancarrow yg menyendiri dan kemudian ‘ditemukan’ dan karyanya dianggap penting oleh komponis yg uda lebih punya nama kemudian. Tp gw cenderung lbh menikmati karya komponis2 yg memang masuk ke lingkungan masyarakatnya. Entah kenapa ada sesuatu yg mgkn lebih komunikatif dan lebih memberikan ruang interpretasi bagi pendengarnya dalam karya2 mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: