Kabar Terkini

Catatan Jakarta : Sekelumit Perjalanan Orkes-orkes Ibukota


NSO Cousteau 2010 1

Nusantara Symphony Orchestra di Balai Sarbini

Membentuk orkestra simfoni yang berdedikasi memang bukan perkara mudah. Namun tampaknya lebih mudah untuk membubarkan ataupun menon-aktifkan sebuah orkes dibandingkan membentuknya.

Telah banyak Orkes kita saksikan berdiri di Jakarta. Sedari zaman kolonial sampai dengan era reformasi hingga saat ini. Harus dikatakan bahwa orkestra berdiri dan tenggelam sejalan dengan dinamika sebuah metropolitan seperti kota Jakarta dengan sekitar 9 juta penduduk ini dan lebih dari 2 juta komuter setiap harinya. Nyatanya kehidupan orkestra sebagai sebuah organisasi tampaknya harus kembang-kempis setiap hari.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita tidak punya pasarnya? Banyak kalangan yang mengeluhkan bahwa orkes di Jakarta tidak punya pasar yang cukup, penontonnya sedikit. Bisa jadi. Ada pula yang mengeluhkan karena kota metropolitan ini kurang musisi, sebuah pertanyaan untuk sebuah kota yang memiliki ratusan sekolah musik vokasional informal, sedikitnya 4 perguruan tinggi yang menawarkan perkuliahan di bidang musik. Belum lagi dengan membanjirnya pemain dari kota-kota di sekitar Jakarta yang punya denyut budaya musik yang tidak kalah hidup seperti Jogja dan Bandung.

Di masanya dulu tahun 1960an, Jakarta mengenal Orkes Radio Jakarta dan Orkes Studio Jakarta. Orkes Radio Jakarta berakhir di dekade 60an sedang Orkes Studio Jakarta hidup hingga dekade 70an. Di dekade ini kita mengenal cukup banyak orkes di Jakarta. Namun sedikit sekali orkes yang mampu mempertahankan kesinambungannya. Orkes Simfoni Jakarta contohnya timbul tenggelam dan baru 3 tahun berselang menelurkan nama Jakarta Philharmonic Orchestra sebagai brand komersial dari orkes yang memiliki sejarah panjang sejak zaman gubernur Ali Sadikin di tahun 1978 dan kini dipimpin Yudianto Hinupurwadi. Di medio 90an, orkes ini pun sempat timbul tenggelam, padahal memiliki reputasi yang kuat di kala itu sebagai orkes berkualitas bahkan di Asia Tenggara.

NSOOrkes seperti Nusantara Symphony Orchestra yang berkembang dari sebuah orkes kamar di tahun 1988 menjadi orkes simfoni di bawah arahan Yazeed Djamin, sempat secara rutin mengadakan konser simfonik dan menarik perhatian publik. Tampil dengan rutin dengan konduktor Hikotaro Yazaki asal Jepang dan bertempat di auditorium Balai Sarbini yang terletak tepat di tengah kota telah tampil dan sukses berkolaborasi dengan berbagai orkes di Jepang, China, Thailand, Korea dan Australia. Namun selama hampir 2 tahun lebih ini, orkes ini agak terseok-seok dengan jumlah pertunjukan agaknya kurang dari jari di satu tangan selama 2 tahun ini.

TwiliteLain lagi dengan Twilite Orchestra yang digawangi Addie MS sejak tahun 1991. Sebagai orkestra pops yang juga memainkan karya-karya simfonik, orkes ini cukup sustainable dalam menggarap karya-karya simfonik namun memang seperti yang diungkapkan Addie MS, bahwa memang orkes ini tidak didedikasikan untuk mengembangkan musik klasik secara rutin, namun lebih sebagai orkes pops yang sesekali membawakan repertoar klasik. Namun perlu dicatat bahwa mungkin orkes yang telah berusia 20 tahun ini secara memiliki basis penggemar di kalangan muda dan cukup populer di telinga awam akan orkes simfoni klasik, bahkan entah salah kaprah atau tidak, menganggap bahwa orkes ini adalah orkes simfoni klasik murni.

JCO10thyearAvip Priatna dengan Jakarta Concert Orchestra-nya memiliki approach yang sedikit berbeda. Juga berkembang dari Jakarta Chamber Orchestra, Avip Priatna lebih menekankan aspek orkes sebagai pengiring dan pelengkap dari paduan suara Batavia Madrigal Singers (BMS) yang terlebih dahulu dibentuknya dan memiliki reputasi nasional dan dunia. Walaupun sekarang orkes yang memasuki tahun ke-11 ini sudah lebih sering memainkan karya simfonik dan secara rutin mengadakan konser bersama BMS dan mengiringi solois-solois, namun sepertinya orkes ini memang belum diarahkan sebagai orkes simfonik rutin oleh direktur musik sekaligus pendirinya.

Jakarta juga memiliki orkes-orkes remaja dan pemuda independen dan juga yang tergabung dalam sekolah musik. Di antara orkes tersebut yang aktif mengembangkan sayap saat ini adalah Capella Amadeus yang dikenal sebagai string orchestra dari Sekolah Musik Amadeus sejak tahun 1993 dan tampil rutin paling tidak 1 tahun minimal 1 kali. Di tahun 2010 kemarin, Grace Sudargo selaku pimpinan mencoba mengembangkan seksi tiup dan mengembangkan orkes gesek ini sebagai orkes simfoni penuh dengan dukungan Goethe Institut. Telah beberapa kali orkes gesek yang memiliki kualitas ini tampil dalam format orkes simfoni dan masih harus kita cermati sepak terjangnya di usianya yang ke-20, kali sebagai orkes simfoni.

IMG_0126

Capella Amadeus dan Jakarta Festival Chorus

Selain Capella Amadeus, kita juga masih ada beberapa orkes lain yang mewakili sekolah musik seperti Orkes Simfoni Nasional Jakarta yang dipimpin Kuei Pin Yeo sebagai direktur artistik yang anggotanya berasal dari SMM maupun konservertori Yayasan Musik Jakarta, walaupun jarang terdengar tampil di venue-venue umum. Pun Konservertori Musik Universitas Pelita Harapan juga memiliki orkes yang cukup sustainable dengan mayoritas beranggotakan mahasiswa-mahasiswa UPH jurusan musik yang saat ini dipimpin oleh Tomislav Dimov, dosen biola sekaligus direksi di UPH. UPH sendiri masih harus berani untuk tampil di venue-venue di luar kampus untuk terus mengasah kemampuan pemain dan juga membangun citra sebagai orkes berkualitas Jakarta. Bahkan juga ada orkes berbasis komunitas seperti Orkes Taman Suropati yang berlatih di Taman Suropati dan Karawaci Community Orchestra.

TYO-logo-smallDi sisi lain Twilite Youth Orchestra yang beranggotakan remaja dan pemuda serta telah lepas dari Twilite senior saat ini sedang memasuki masa vakum, sama seperti medio 2007-2008 yang lalu. Orkestra yang saat ini secara artistik dipimpin oleh konduktor dan pemain trompet Eric Awuy sedang kembali mengumpulkan momentum untuk melaju di tahun 2014 yang secara kebetulan juga menjadi peringatan 1 dekade berdirinya orkes yang sempat memiliki stature yang cukup baik di kalangan orkes-orkes remaja dan pemuda di Jakarta ini. Kabar pun berhembus bahwa orkes ini memunculkan wajahnya yang baru di usianya yang kesepuluh.

Selain itu, ada orkes remaja yang sekarang sudah tidak lagi aktif seperti National Youth Orchestra yang dipimpin oleh Iswargia Sudarno. Setelah aktif beberapa tahun akhirnya orkes ini tidak berkelanjutan. Demikian juga di tahun 1990an, kita mengenal adanya Erasmus Chamber Orchestra yang mengambil tempat di Erasmus Huis dan didukung oleh Pusat Kebudayaan Belanda dan tampil dengan rutin. Pun akhirnya orkes ini pun bubar setelah tiadanya dukungan dari Pusat Kebudayaan Belanda.

Saat ini orkes yang masih berdiri tegak adalah Jakarta Simfonia Orchestra yang bermarkas di Aula Simfonia Jakarta, 4 tahun terakhir ini. Menarik karena orkes ini dirintis di tahun 2008 oleh Pendeta Stephen Tong yang hingga saat ini masih menjadi principal conductor. Dengan jumlah konser rutin di atas 6 kali setahun ditambah dengan acara intern mereka, bisa dikatakan bahwa Jakarta Simfonia adalah satu-satunya orkes yang saat ini secara rutin menyuguhkan musik klasik dan terbuka untuk umum. Namun sampai kapan, sesungguhnya kita tidak tahu, karena tentunya sulit untuk mendukung sebuah insiatif seni hanya bermodalkan dukungan finansial dari satu kalangan saja.

400px-Jakarta_Skyline_Part_2Kalau Anda bertanya, sebenarnya Jakarta identik dengan orkes mana? Pertanyaan ini tergolong sulit untuk dijawab. Yang pasti yang menjadi ukuran adalah komitmen untuk mengembangkan musik itu sendiri secara berkesinambungan. Dahulu, kita memang memiliki Orkes Simfoni Jakarta yang bahkan menjadi identik dengan kota ini. Namun setelah mati suri, orkes ini belum dapat kembali pada statusnya semula. Twilite Orchestra pun pernah menjadi mercusuar musik klasik lewat penampilannya di berbagai kampus untuk mengenalkan musik klasik, namun kini program rutin dan program binaan serupa juga tampaknya vakum. Nusantara Symphony Orchestra juga pernah membawa panji musik klasik ketika rutin tampil setahun 6 kali. Namun tampaknya memang saat ini, hanya tinggal Jakarta Simfonia yang memegang piala bergilir ini, tanpa mengecilkan orkes lain yang menjadi media pembibitan para pemain yang semakin hari semakin banyak.

Namun adakah orkes yang memang milik Jakarta? Yang identik dengan kota Jakarta ini? Saya rasa, saat ini kita belum memilikinya, dan untuk pertanyaan ini mungkin hanya akan terjawab sejalan dengan waktu.

~mungkin topik ini masih bisa dikembangkan lebih lanjut untuk secara jelas melihat sejarah perkembangan musik orkestra di Jakarta

Iklan
About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

10 Comments on Catatan Jakarta : Sekelumit Perjalanan Orkes-orkes Ibukota

  1. pertanyaannya… Mahawaditra kalo dijejer di tulisan tadi, letaknya ada dimana ya? 🙂

  2. Mmm… Mungkin dengan orkes2 dari institusi pendidikan dan orkes dari universitas dan sekolah2 berbasis amatir yang pernah muncul di kota ini…

  3. Tommy Prabowo // 25 Juni 2013 pukul 11:40 pm //

    Orkes Bina Musika ?

  4. Boleh mas diceritakan, saya sendiri memang belum menyelidiki seluruh orkes yang ada… termasuk orkes bina musika… Bisa diceritakan Mas?

  5. Reblogged this on My Blog Here and There… and commented:
    Sebuah tulisan menarik yang mengulas dan mengupas kehidupan ‘berorkestra’ di Jakarta, baik secara kronologis maupun substansial. Ada tulisan serupa yang juga pernah saya baca, bahkan menyebut nama Orkes Simfoni MAHAWADITRA milik Universitas Indonesia; yang diungkapkan disitu sebagai orkestra berbasis mahasiswa dengan kalender pertunjukan yang tidak teratur.
    Ada sesuatu yg “missed” jika blog sdr. Mike BM ini tidak turut menyebutkan institusi tsb sebagai suatu kelompok musik yang pernah dan masih hadir di blantika musik orkestra Indonesia. Terutama jika mengingat Mahawaditra turut pula menyumbangkan sebagian alumninya menjadi pemain pada beberapa orkestra yang disebut-sebut di dalam blognya.

  6. Tommy Prabowo // 26 Juni 2013 pukul 11:56 am //

    Bina Musika di tahun 80-an akhir adalah orkes sebuah sekolah musik. Guru2nya musisi Orkes Simfoni Jakarta. Bp. Atti Bagio menjadi pemimpinnya ( pendiri juga ?) anggota cukup banyak. Sekolah dan Orkes pelan-2 mati bersama dengan meninggalnya beliau. Alat2 musik yang dia beli entah ke mana semua. Selebihnya saya tidak tahu.
    Rasanya perlu dibedakan antara orkes bayaran dan yang bukan karena yang bukan bayaran biasanya kan orkes dari yang masih belajar dan berlatih rutin. Orkes ini biasanya akan mengalami krisis bila pemain yang sudah terlatih beralih ke orkes yang dibayar sehingga orkes seperti ini sulit survive apabila apabila pembinanya meninggal atau sumber dananya berhenti.
    Yang bayaran dan berlatih rutin hanya OSJ yang juga sudah mati. Kalau orkes bayaran kan seperti orkes proyek. Dibayar setiap proyek berapa tergantung jumlah latihan dan jumlah penampilan. atau ada juga orkes hibrid? Yang latihan rutin dan bayaran. Sistem serupa sudah ada di dunia tari (Eki Dance Company). Musik tidak ada.

  7. Tommy Prabowo // 26 Juni 2013 pukul 12:04 pm //

    Sebagian besar musisi orkes kita tidak siap terjun ke industri. Banyak orkestrator2 Indonesia yang tuntutan musiknya cukup tinggi dan mereka merekam di luar negeri karena pemain kita tidak mampu memainkannya sesuai tuntutan mereka. Meskipun banyak pentas musik industri dengan orkestra di panggung live atau di layar kaca, harus diakui ini kebanyakan penipuan karena suara tidak murni berasal dari yang terlihat. Teknologi menipu kita semua. Banyak musisi berbakat tetapi pendidikan dasar musik sangat kurang. Dalam hal ini klasik dan di luar instrumen piano.

  8. Marcel Prasetyo // 29 Juni 2013 pukul 6:53 am //

    Iya betul, orkes UI Mahawaditra belum disebut-sebut padahal kalo dipukul rata sebagai sesama orkestra musik, Mahawaditra adalah orkestra yang paling tua saat ini (berdiri sejak 1983) tanpa pernah on-off, terutama karena berada dibawah naungan UI sih ya. Mantan pemain Bina Musika juga banyak yg berkiprah disini. Pada eranya Mahawaditra adalah satu-satunya orkestra universitas non-musik, disamping orkestra ISI Jogjakarta. Baru belakangan ini mulai timbul orkestra universitas lain seperti orkestra IKJ, ITB Bandung dan UPH.
    Bahkan semua pentolan musik orkestra seperti alm.Yazeed Djamin, Addie MS, Avip Priatna dll semua tahu betul mengenai keberadaan orkestra ini, terutama mengingat dahulu Mahawaditra pernah dipimpin alm.Praharyawan Prabowo yang merupakan mantan konduktor OSJ & orkestra RRI. Mungkin karena penulis jebolan UPH kali ya, makanya lebih tahu ttg orkes UPH dan Orkes Taman Suropati ketimbang yg lainnya.

  9. Tommy Prabowo // 29 Juni 2013 pukul 6:56 am //

    UI, bukan UPH.

  10. Marcel Prasetyo // 29 Juni 2013 pukul 7:03 am //

    Oh iya, saya baru ngeh… hahaha… ! Soalnya baru belakangan baca profilnya 😀
    Lah tapi kok jebolan UI sendiri masa gak tau UI punya orkestra…? Hmmm berarti “kurang membekas di hati”… hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: