Ariah2Perjuangan melawan kesewenang-wenangan berpadu dengan perjuangan cinta sejati menjadi kisah perjuangan Ariah di tanah Betawi. Parasnya yang cantik menjadi rebutan tiga pria, Tuan Mandor yang sebenarnya telah beristri, Oey Tambah Sia juragan Cina playboy dengan centeng-centeng yang pesakitan, serta pemuda Betawi jago silat Juki yang mengajarkan Ariah untuk mempertahankan. Kisahnya juga menjadi kisah perjuangan mempertahankan martabat di tengah carut-marut moral di masa kolonial. Pemberontakan historis di Tambun menjadi inspirasi Sang Gadis Paseban Kampung Sawah untuk melawan penindasan dan berjuang untuk cintanya kepada Juki.

Adalah sebuah suguhan kolosal di kaki Monumen Nasional (Monas), drama musikal tari yang ditulis dan disutradarai oleh Atilah Soeryadjaya kembali mengangkat tokoh pejuang wanita bertepatan dengan usia ibukota ke-486. Menggandeng Pemerintah Provinsi DKI dan dan Gubernur Joko Widodo yang telah familiar dengan karyanya yang juga berkisah tentang kepahlawanan wanita Surakarta lewat drama musikal tarinya Matah Ati yang telah dipentaskan di Jakarta, Singapura dan Pura Mangkunegaraan Solo. Atilah sendiri mengemas kisah ini untuk berfokus pada Ariah dan cinta segiempatnya dan mengolah budaya berbalas pantun yang menjadi bentuk sastra kebanggaan putra Betawi. Tidak lupa ia menyertakan goro-goro dalam bentuk bodoran (komedi) di tengah cerita untuk berkisah lebih jauh akan latar belakang, sembari melucu dan menyentil permasalahan-permasalahan yang hangat di masyarakat, menjadikan kisah ini sungguh khas Betawi.

Ariah 1Jay Subyakto selaku penata artistik sungguh tidak mengecewakan, dengan panggung terbesar di Indonesia selebar 72 meter dan bertingkat hingga menjangkau sekitar 10 meter. Kemiringan sekitar 20-30 derajat ke arah penonton memberikan kedalaman pada panggung yang juga ia gunakan di pentas Matah Ati. Permainan warna kostum, lampu sorot dan bahkan proyeksi animasi/video mapping begitu kental di atas panggung terbuka itu. Monas pun berfungsi sebagai layar proyeksi menjulang untuk ikut bertutur dalam cerita, bersama dengan permainan pyrotechniques yang semarak (permainan api dan kembang api). Harus dikatakan bahwa permainan cahaya dan warna menjadi teramat krusial untuk karya kolosal dengan panggung sebesar ini dan harus dikatakan semuanya dieksekusi dengan memukau.

Didukung 200 orang penari lewat tarian Betawi yang bertenaga ditata oleh koreograger Eko Supendi dan Wiwiek Sipala untuk memaksimalkan panggung miring yang menantang sekaligus berbahaya bagi para penari. Karakter Ariah diperankan Ida Sunaryono, Juki oleh Fajar Satriadi, Yuniati Arfah sebagai Mak Emper Ibu Ariah, kesemuanya besar sebagai penari. Unsur tarian rakyat ibukota lewat tarian yapong dan topengnya mewarnai gerakan enerjik yang terkadang akrobatik dalam bersilat memberi warna tersendiri. Pun permainan uler-uleran di antara seluruh penari yang sesungguhnya sederhana terasa menarik karena mewarnai panggung yang indah. Duel bersilat antara Juki dan Ariah yang berlatih bersama namun penuh warna kemesraan menjadi duet penari yang perlu menjadi catatan tersendiri yang begitu menyentuh dalam pagelaran ini.

photo 2Musik yang ditata dan disusun oleh Erwin Gutawa juga berbicara sedemikian banyak dengan kekuatan bertutur yang tidak kalah kuat. Warna-warna musik Betawi dan tematik Wak-wak-gung begitu terasa dalam pengembangan karya ini. Dengan fakta bahwa Jakarta adalah medan akulturasi, permainan ritmis khas Melayu yang pernah ia tampilkan dalam musikal Laskar Pelangi juga muncul seketika, bersama dengan senandung-senandung pentatonik Tiongkok yang memang secara musikologis berperan membentuk musik cokek tanah Betawi. Kemampuan Erwin untuk membentuk musik tarian yang ritmis dan bergelora juga diimbangi dengan kemampuannya menyulam melodi yang menggetarkan seperti pada Adegan X Gemuruh Hati antara Juki, Mandor dan Oey. Juga pada aria pilu Juki begitu istimewa dalam Perkelahian Ariah, Piun dan Sura yang mengantar Ariah ke akhir perjuangan hidupnya begitu menyentuh. Dengan didukung orkestra besar dan paduan suara dengan total 120 orang personel, musik Ariah menjadi pewarna emosi yang padu dengan tarian dan menjadi nafas utama dari drama tari musikal ini.

Pagelaran ini sungguh mampu berbicara banyak. Suguhan berkualitas namun menghibur, memadukan unsur tradisi dan urban masa kini namun juga mengena dan bahkan populis adalah nilai tambah dari musikal Ariah. Sebuah konsep menarik di kaki Monumen Nasional yang menggambarkan api perjuangan bangsa yang tak kunjung padam, semoga perjuangan Ariah hingga titik darah penghabisan mampu memberi warna baru bagi perkembangan seni pertunjukan Jakarta.

photo 4~photos courtesy of Sandy Veronica. Thanks

About these ads