Kabar Terkini

“Ini Orkes Siapa?”


Ini orkes siapa?

Mungkin inilah pertanyaan yang seringkali muncul di benak pecinta musik klasik di Jakarta. Sebuah pertanyaan sederhana tapi memiliki banyak arti dan bisa jadi menjadi sebuah kacamata melihat keadaan perkembangan orkestra di Jakarta.

Pertanyaan “Ini orkes siapa?” sesungguhnya melukiskan bagaimana orkes di Jakarta terdefinisikan. Ya, bagaimana tidak. Sebuah orkes akhirnya menjadi identik dengan siapa yang “memiliki” ataupun siapa yang memimpin.

Seperti pada artikel beberapa minggu lalu, masih banyak orkes yang dikenal melalui konduktornya ataupun manajemennya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa memang organisasi yang baik pastilah dipimpin oleh orang-orang yang kompeten dan memiliki output yang baik pula. Hal ini sungguh relevan dalam dunia orkestra di Jakarta dikarenakan jumlah pemain yang tidak terlalu banyak dan pemain-pemain yang sama bisa jadi bermain dengan kualitas yang berbeda apabila dipimpin oleh oleh orang yang berbeda.

Selain itu kita juga bisa melihat bahwa hingga saat ini orkestra jarang dianggap sebagai entitas independen yang memiliki brandnya sendiri sehingga harus serta-merta menempel dengan imej pemimpinnya, seperti: Twilite-nya Addie MS, Jakarta Concert Orchestra-nya Avip Priatna, EG Orchestra Erwin Gutawa, Jakarta Simfonia Orchestra-nya Stephen Tong dan beberapa orkes lainnya seperti Capella Amadeus-nya Grace Sudargo ataupun dulu Pro Arte-nya Adidharma.

Simfoni Untuk BangsaYang terjadi hingga saat ini adalah masih sulitnya kita untuk melihat organisasi semacam Wiener Philharmoniker, Berliner Philharmoniker ataupun London Symphony Orchestra yang berdiri demi kepentingan musisinya dengan publik sebagai stakeholder utama. Alih-alih orkes sebagai milik bersama musisi-musisi yang bekerja di bawahnya dalam sistem yang demokratis seperti halnya model usaha koperasi, seringkali orkestra menjadi identik dengan gaya usaha bisnis keluarga dengan perngaruh owner yang sedemikian kuat.

Kekurangan dari model yang saat ini berjalan adalah dengan sistem yang cenderung tertutup, sulit bagi sebuah orkestra untuk membangun brand dan kepemilikan publik akan organisasi tersebut. Di sisi musisi, seringkali musisi yang bermain di dalam sebuah orkestra pun tidak merasa bahwa orkes tersebut adalah tanggung jawab bersama untuk dibangun dan dikelola. Orkes menjadi hanya sekedar badan yang menyewa jasa para musisi yang pada akhirnya tidak perlu ambil peduli apa jadinya orkes-orkes ini. Dalam orkestra macam itulah, kata freelance mendapatkan makna sepenuhnya.

Membangun imaji di mata publik bahwa sebuah orkestra berdiri untuk kepentingan publik secara khusus, dan menyuguhkan pertunjukan seni secara berkesinambungan bukanlah hal mudah. Butuh kerja keras dalam pemasaran untuk memastikan bahwa publik sadar akan keberadaan dan pentingnya orkes ini. Dan seringkali yang harus dikerjakan pertama kali adalah bagaimana membentuk brand tersendiri dari orkes tersebut yang terpercaya dan berkualitas serta terlepas dari embel-embel kepemilikannya. Brand utama bahwa orkes tersebut berdiri untuk kelestarian seni dan budaya. Pun, juga bukan untuk memuaskan angan-angan pribadi patron.

Adapun orkestra yang secara entitas mampu berdiri independen, namun dalam prakteknya masih terikat pada satu atau dua pihak untuk kelangsungan hidupnya. Alhasil, kesinambungan pun terancam apabila satu pihak tersebut undur dukungan dari orkestra ini. Katakanlah seperti Orkes Simfoni Jakarta ataupun Nusantara Symphony Orchestra yang sampai saat ini masih belum berhasil bangun tegak dari tidurnya. Banyak pihak, termasuk pecinta musik dan musisi, mengatakan bahwa sayang sekali apabila orkes ini mati suri namun nampaknya niat ini belum hadir secara nyata untuk menopang hidup orkes ini secara tetap dan berkesinambungan.

London di tahun 1920-1950 juga penuh dengan orkestra freelance dan musisi lepas dan menjadi tahun dengan banyak bermunculannya orkestra baru melengkapi London Symphony Orchestra yang telah ada sejak 1908. Orkestra tersebut antara lain London Philharmonic Orchestra, Royal Philharmonic Orchestra – keduanya diprakarsai oleh impresario sekaligus konduktor Thomas Beecham, serta Philharmonia Orchestra yang awalnya dibentuk oleh Walter Legge. Tidak lupa kota itu juga masih memiliki orkes radio BBC Symphony Orchestra untuk mewarnai kehidupan kota itu. Yang menarik adalah walaupun pada awalnya orkes-orkes ini identik dengan kepemimpinan satu orang, namun perlahan dan terbukti bahwa orkes-orkes ini berhasil membangun brandnya sendiri dan walaupun ditinggal oleh pendiri maupun sponsornya. LondonPhil contohnya setelah ditinggal sponsor utama di tahun 1939, mampu menjadi orkes yang berdiri mandiri dan aktif bahkan hingga sekarang. Demikian juga dengan Philharmonia Orchestra yang gagal dibubarkan oleh pendirinya dan terbukti terus bergerak maju hingga sekarang dengan 160 konser setahun.

Lain cerita dengan NBC Symphony Orchestra di Amerika yang dibentuk oleh jaringan NBC untuk dipimpin oleh Arturo Toscanini. Setelah 17 tahun dipimpin olehnya dan bahkan mendatangkan dirigen-dirigen terkemuka pada dekade 1930-1940an, orkes ini gagal membentuk brandnya sendiri dan dianggap bubar setelah Toscanini mengumumkan pensiun dari podium. Walaupun banyak dari musisinya mencoba mempertahankan orkes ini, pada akhirnya pun orkes bubar tiada bersisa di tahun 1963 setelah 10 tahun mencoba bertahan dengan nama baru “Symphony of the Air”.

Sekarang, pertanyaan bahwa apakah sebuah orkestra akan dapat bertahan atau tidak adalah memang bagaimana orkestra sebagai entitas mampu menjawab pertanyaan eksistensial ini, “Siapakah orkes ini?” dan “Orkes siapakah kita?”. Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa pertanyaan ini bukan hanya musti dijawab oleh sponsor, pendiri ataupun musisinya, tapi juga harus dijawab oleh publik penikmatnya. Dan kalau kita lihat saat ini, jalan yang harus ditempuh oleh orkes-orkes di Jakarta untuk mencapai kesinambungan tersebut masih cukup panjang dan pertanyaan-pertanyaan tersebut pastinya akan terjawab sejalan dengan waktu.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

9 Comments on “Ini Orkes Siapa?”

  1. Tidak hanya orkestra saja yang ada sebutan “ini orkes siapa?”. Menurut saya dari segi pemain, juga ada istilahnya “kamu murid siapa?”. Pengalaman saya yang berkecimpungnya sebagai pemain student orchestra, pengelompokan ini masih tampak kental terjadi pada pemain orkes di jakarta. Menurut saya terdapat beberapa “grup” pemain orkes di jakarta, seperti misalnya “grupnya” Pak Adidharma, grupnya YPM, grupnya Amadeus, grupnya UPH.
    Biasanya pada saat ada penampilan kuartet, atau resital, atau katakanlah chamber music, atau saya turut serta dalam orkes itu, saya tanya-tanya kanan kiri “kamu muridnya siapa?” Biasanya kalau jawabannya “Saya muridnya Henry Terahadi” pastilah anggota yang lain tidak jauh-jauh dari “muridnya Oom Adidharma”,”muridnya Ferdinand”,”muridnya Wen-wen”. Tapi kalau jawabannya “Saya muridnya Bu Grace”, pastilah anggota yang lain tidak jauh-jauh dari “muridnya Peggy”
    Kadang pada saat break latihan orkestra yang anggotanya campuran, anggota-anggota orkesnya ngumpul berdasarkan blok itu. Yang dari UI ngumpul sesama anak-anak UI, yang dari UPH ngumpul sesama UPH

  2. Ada suka duka akibat pertanyaan “kamu murid siapa?”. Guru saya yang pertama maupun yang saat ini adalah pemain senior dari Orkes Simfoni Jakarta pada saat kepemimpinan Pak Adidharma. Guru saya yang pertama sudah almarhum, sedangkan guru saya saat ini sudah sepuh. Ketika saya ditanya “kamu murid siapa?” oleh sesama pemain, biasanya nama guru saya masih dikenal oleh orang-orang di lingkungan “Adidharma”, beberapa orang dari lingkungan “YPM” masih tau nama guru saya yang sudah almarhum itu. Ada perasaan bangga, klo nama guru masih dikenal. Dalam hati berkata “Wah, guru saya masih dikenal…”
    Lain halnya pada saat saya membantu teman-teman ikj, ketika ditanya pertanyaan yang sama, namun tidak ada yang mengenal nama guru saya, timbul kesan yang gimana gitu. Pernah pula seorang teman saya sesama pemain cabutan, pada saat sesi break ditanya mengenai gurunya, ketika menyebutkan nama gurunya, ada yang menyahut: “siapa tuh, nggak kenal…”

  3. Suatu ketika saya menyaksikan sebuah resital. Karena yang tampil adalah mantan muridnya Pak Adidharma, maka pantaslah Pak Adi duduk di deretan undangan. Pada saat intermission, seorang wanita mengajak Mayl*ff*yza untuk berkenalan dengan Pak Adi. Sebelum tiba di bangku Pak Adidharma, saya terkejut mendengar mbak May tidak mengenal sosok Pak Adi. Dalam hati saya berseru: “What?! pemain biola, bisa nggak tau siapa Pak Adi??” Dengan alakadarnya, wanita itu menjelaskan tentang Pak Adi kepada Mbak May.

  4. Baru membaca lagi komentar ini, ternyata dunia orkes yang sempit seringkali diikuti oleh sempitnya perspektif sang musisi… Sayang sekali…

  5. Yah kadang main ya tinggal main, yang ngurus belum tentu paham dunia musik klasik.
    Hayo teman-teman musicalprom, jadilah “jendela” bagi dunia musik klasik Indonesia & internasional.

  6. Amin jri,,, that is what exactly we would like to do… hehehe… doain yah bisa lancar… btw lo ada pemikiran yang mau disampaikan? Musicalprom terbuka lhow..

  7. nanti saja Mas Mike, saya masih awam dalam menelaah maupun menulis.

  8. Mike, mungkin aku yang kurang tekun menelisik. Menarik untuk mengetahui apakah sudah ada yang meneliti kasus-kasus orkes tersebut bagi mahasiswi/a yang memelajari “Manajemen/Bisnis Musik”? Aku baru dapat jurusan tersebut di Berklee Online, apa di Inggris ada jurusan semacam Mike.

    Menarik untuk dicermati (dengan segala hormat kepada Sistem IGCSE) sebenarnya kasus manajemen musik seperti ini dapat dijadikan contoh pembelajaran dalam sekolah-sekolah berbasis IB yang mensyaratkan siswa membuat karya penelitian dan praktik ilmiah yang lintas bidang ilmu sebagai syarat kelulusan.

    Contoh kasus di sekolah tempat Ray Jeffryn mengajar, salah satu hasil akhir pembelajaran dari salah satu muridnya adalah berhasil menjalankan secara mandiri ekskul Tari Saman (Kalau tidak salah itu Kelas 11/Kelas 12). Kemampuan manajemen dapat berjalan seiring dengan kepekaan seni, nah sayangnya pendidikan (nasional) Indonesia belum mengembangkan kedewasaan dan refleksi diri dalam mendorong generasi mudanya untuk berdikari dan “muncul”. Yah jadinya asal muncul dan tercerabut dari sekelilingnya seperti pengalamanmu dengan biolis muda tersebut.

  9. Bung JC, di inggris cukup banyak jurusan manajemen bisnis musik dan manajemen musik. Kebetulan yang saya ambil juga serupa dengan jurusan tersebut. Di Indonesia pun seperti di ISI dan IKJ juga sudah ada program paskasarjana untuk manajemen seni pertunjukan tapi seberapa jauh keterlibatan mereka dalam dunia manajemen orkestra belum banyak terlihat memang. Dan mungkin permasalahan lain memang di sisi pendidikan seni, entrepreneurial dan manajemen sama sekali ga jadi bagian dalam diskusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: