Kabar Terkini

Menengok Tristan und Isolde di Royal Albert Hall


20130727-234327.jpg

Blogger A Musical Promenade hari ini berkesempatan menonton satu dari rangkaian konser BBC Proms di London. Proms 19 tahun 2013 ini mengambil tempat di gedung peruntunjukan Royal Albert Hall dengan menampilkan karya monumental Wagner opera Tristan und Isolde. Promenade ini sendiri juga menjadi salah satu inspirasi nama blog ini.

Berangkat sebagai karya musik dramatik di masa keemasan musik romantik, karya ini menjadi salah satu puncak dan titik tolak perkembangan musik dan ilmu harmoni yang patut dicermati, terlebih dengan peran Wagner dan pandangan politiknya yang menjadi inspirasi bagi ide Fasisme di abad ke-20.

Wagner sendiri menulis karya dengan durasi 5.5 jam ini dalam jangka waktu 2 tahun, dari tahun 1857-1859. Dan tidak seperti kebanyakan penulis musik opera, Wagner selain menulis musik juga menulis libretto untuk karya ini. Dan karya ini pun dikerjakan bersamaan dengan dikerjakannya siklus 4 operanya yang ternama, Der Ring des Nibelungen. Karenanya seringkali Tristan und Isolde dianggap sebagai bentuk ekonomis dari siklus opera Ring yang secara total memakan waktu sekitar 20 jam.

Menyaksikan karya Tristan und Isolde adalah suatu hal yang menantang sekaligus menarik. Menantang karena durasinya yang bukan main-main untuk ditontong dengan 2 kali istirahat, menarik karena adalah sesuatu hal yang berbeda untuk menyaksikan sebuah karya Jerman dimainkan oleh BBC Symphony Orchestra Inggris dan dipimpin oleh konduktor Rusia Semyon Bychkov dalam gaya konser dan bukan di atas panggung dengan setting.

Sebagai opera dramatik Jerman, Tristan und Isolde sebenarnya mengambil setting perselisihan Irlandia dengan Inggris berbalut kisah cinta tragis dua sejoli. Dan kehadiran BBC Symphony Orchestra dan Bychkov membawa warna melodius dramatis yang kuat ala Inggris. Mungkin bagi mereka yang pernah menyaksikan opera ini di Jerman dan Bayreuth, mungkin pembawaannua serasa kurang jagged dan solid. Namun agaknya hal ini malah membantu nuansa melodramatis menyanyi yang seringkali dianggap kelas dua dalam repertoar yang penuh dengan klimaks dan perpaduan harmoni yang menggigit ini.

Pemeran Bragäne, Miwoko Fujimura, tampil mengesankan dan begitu kuat untuk menemani karakter Isolde yang dimainkan dengan cemerlang oleh soprano dramatik Violeta Urmana. Baritone Boaz Daniel juga memainkan peranan yang menarik sebagai Kurnewal yang merupakan tangan kanan sekaligus sahabat Tristan yang dibawakan oleh tenor spesialis Wagner asal AS, Robert Dean Smith yang telah mencetak namanya di Bayreuth Festival. Bass Kwangchul Youn juga berperan mengesankan dengan kedalaman suara dan proyeksi yang menggetarkan seluruh Royal Albert Hall yang berkapasitas mencapai 5200 orang. Bariton Inggris David Wilson-Johnson tampil sebagai Melot dan juga ada Andrew Staples dan Edward Price melengkapi 9 pemeran utama opera ini. BBC Male Chorus dan BBC Male Symphony Choir juga memeriahkan pergelaran ini sebagai kelompok pelaut.

Adalah suatu hal yang menarik menyaksikan sebuah gedung konser dengan kapasitas besar ini memiliki akustik demikian baik untuk memproyeksikan seluruh orkestra dan pemeran. Dan di hari jadi ke-200 Wagner, Promenade menampilkan seluruh siklus The Ring beserta Tristan und Isolde yang agaknya kecil kemungkinan akan ditampilkan di Jakarta. Ditampilkan dalam format konser, memang banyak tata panggung dan bahkan blocking diabaikan yang seringkali menantang penonton untuk bereksplorasi dengan imajinasinya sendiri tanpa tatanan panggung apapun kecuali penempatan pemusik dan pemain di beberapa tempat di panggung besar Royal Albert Hall untuk mendapat efek yang menarik.

Yang pasti Henry Wood Promenade Festival dengan konsep musiknya yang pluralistik tiket berdiri bahkan dengan harga £5 (setara Rp.75.000), disiarkan di televisi dan radio menjadi suguhan musik yang patut dicermati dan mungkin diadaptasi di Indonesia.

20130727-234419.jpg

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Menengok Tristan und Isolde di Royal Albert Hall

  1. Sebuah tulisan menarik, terutama epilogue yang menyebutkan bahwa Indonesia mungkin bisa mengadaptasi pergelaran seperti ini, dimana suasana konser di ’emulasi’ seakan2 di sebuah taman, seperti gagasan awalnya Proms ini. Pergelaran Ariah di Monas agaknya sudah menjawab hal itu, walau barangkali harus lebih sering lagi taman2 kota atau ruang publik lainnya menyuguhkan sajian musik, lebih khusus orkestra. Rindu juga melihat pergelaran seperti New York Philharmonic live at Central Park, atau Symphony on the Domain di Sydney. Dulu seingat saya Pak M. Atti Bagio penggagas dan pendiri Bina Musika pernah mewacanakan hal ini. Mungkin juga pernah membuat pergelaran musik di ruang2 publik ibukota, pada masanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: