20130811-231353.jpg

Bagaimana rasanya mendengarkan Symphony No.9 karya Beethoven dimainkan oleh 130 musisi orkes berusia dibawah 20 tahun dan dinyanyikan oleh lebih kurang 200 orang anggota paduan suara berusia dibawah 24 tahun? Yang jelas antusiasme dan selebrasi yang jelas terdengar di Royal Albert Hall malam ini. Derap semangat muda seakan semakin menghidupkan teks tentang persaudaraan sesama manusia yang diangkat oleh komposer kelahiran Bonn 1775 ini dalam Prom 38 2013 yang tiketnya dibagikan secara gratis dan disiarkan juga di jaringan radio BBC3.

Dipimpin oleh konduktor muda Vasily Petrenko, ratusan orang muda dari National Youth Orchestra of Great Britain, National Youth Choir of Great Britain, Codetta, dan Irish Youth Chamber Choir memberikan warna yang berbeda untuk karya yang agaknya cukup familiar di telinga pendengarnya. Sebagai karya simfoni terakhir L.v. Beethoven, karya ini menjadi begitu monumental dan seringkali digadang sebagai titik puncak perkembangan bentuk komposisi simfoni dan mendengarkan karya ini dibawakan dengan sepenuh hati oleh orang-orang muda sungguh menggetarkan. Petrenko yang juga bertanggungjawab sebagai konduktor utama National Youth Orchestra of Great Britain yang diawaki musisi yang tersebar di seluruh Inggris Raya memimpin dengan kekuatan penuh. Memang tidak mudah untuk memimpin jiwa-jiwa muda dalam musik yang mendalam ini. Namun seakan konduktor didikan St. Petersburg Rusia ini, mampu menggalang setiap titik ekstrim yang ada dalam musik lewat gerakannya yang terkoordinasi dengan rapi, mulai dari forte yang perkusif di bagian pertama hingga kelembutan yang tiada tara di bagian ketiga simfoni ini. Inilah yang akhirnya menggerakan musik untuk terus bergerak maju tanpa kehilangan makna.

Selain keduaratus penyanyi paduan suara dan 130 musisi, juga tampil beberapa solois antara lain Gerald Finley yang tampil optimal dan mencengangkan dengan membelah lautan suara 300 orang lewat suara baritonnya. Demikian juga dengan register tinggi dari soprano Lisa Milne yang berdering hingga ujung auditorium. Mezzo soprano Jennifer Johnston juga tampil indah dengan memberikan dukungan suara yang mumpuni, sedang Toby Spence dengan suara tenor yang terfokus mampu menggerakkan hati para penonton.

Harus dikatakan bahwa tidak mudah untuk menangani keseimbangan suara dari ensembel besar ini di dalam ruang auditorium Albert Hall yang juga tidak kalah besar. Proyeksi menggelegar tutti (seluruh ensembel berbunyi) masih dapat dibendung secara cerdik oleh Petrenko, pun juga dengan bagian-bagian solo yang masih terdengar berbanding seimbang. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak warna instrumen solo yang harus terkompromi dikarenakan volume yang harus diusahakan oleh para solois. Timpani yang terkenal sebagai instrumen yang keras volumenya sekalipun beberapa kali terdengar seakan menyentak hebat untuk mengimbangi seksi orkes yang lain. Jangan heran karena dobel kuartet tiup kayu saja dalam orkes ini berlipat hingga menjadi septupel kuartet, demikian juga dengan seksi tiup logamnya.

Menemani karya Beethoven, karya paduan suara dan orkestra dari komposer Inggris Ralph Vaughan-Williams yang disuguhkan sebagai karya pembuka. Mengambil tema kesementaraan hidup manusia, komposer yang populer di daratan Inggris ini mengambil puisi Walt Whitman yang sarat filosofi dan perenungan “Toward the Unknown Region” dan mengolahnya dalam gubahan musik yang pastoral khas Inggris di awal abad ke-20 hinggs tercipta karya yang cenderung mistis dan indah sebagai perpaduan teks yang retrospektif dengan musik yang membuai.

Di penghujung babak pertama, sebagai jembatan menuju karya simfoni Beethoven disuguhkan karya musik orkestral baru karya komposer Mark-Anthony Turnage dengan tajuk “Frieze” yang terinspirasi oleh Beethoven Symphony no.9 yang disajikan di babak kedua. Sebagaimana karya inspiratornya, karya simfonik ini juga dikomisikan oleh badan yang sama pula yaitu Royal Philharmonic Society of London. Karya ini dibangun sebagai bentuk kekaguman Turnage pada kekuatan pengembangan ide komposer yang meninggal di Vienna tahun 1827 itu. Sebagaimana 4 bagian simfoni Beethoven, bagian pertama merujuk pada tema interval 5 yang menjadi ciri simfoni terakhir Beethoven yang kemudian berbaur dengan irama jazz yang dimotori oleh seksi perkusi yang solid dari orkes namun tetap berpegang pada idiom atonalitas dan semakin condong ke arah swing di bagian kedua. Di bagian ketiga yang bertempo lambat menjadi sentral pengembangan fuga modern hingga ditutup di bagian keempat dengan percampuran ritme yang abrasif hingga akhirnya ditutup dengan lincah bertenaga di akhir karya.

Konser ini secara umum menjadi bagian dari cara masyarakat Inggris melihat secara retrospektif perkembangan musiknya dari waktu ke waktu. Dari masa ketika Beethoven diminta menulis untuk Inggris hingga tahun ini. Dan adalah kegembiraan yang hebat melihat 350 orang muda bermain dengan semangat dan melibas karya-karya yang cenderung berat secara makna dan rumit untuk dimainkan ini terlebih disaksikan ribuan pasang mata dan jutaan telinga di seluruh pesemakmuran. Dan apabila ditanya bagaimana rasanya menonton mereka semua, akan saya jawab bahwa malam ini sungguh mengasyikkan.

20130812-000601.jpg

About these ads