Kabar Terkini

Billy Elliot dan Impiannya


20130813-162048.jpg

Setelah tayang selama 8 tahun di West End, baru kali ini blog A Musical Promenade berkesempatan menonton sajian teater musikal ini di Victoria Palace Theatre di bilangan Victoria London.

Diangkat dari film dengan judul yang sama di tahun 2000, Billy Elliot merupakan kisah seorang anak laki-laki yang lahir di keluarga pekerja menghadapi dilema ketika ia menemukan dirinya menyenangi menari balet daripada tinju, olahraga yang disenangi bapaknya dan dianggap pantas untuk seorang anak laki-laki. Dilatari situasi panas mogok kerja para pekerja tambang di utara Inggris era Margaret Thatcher, kisah ini menjadi kisah perjuangan seorang anak mencari jati dirinya ditengah kondisi keluarga yang mencekik secara ekonomi dan baru saja kehilangan sosok seorang ibu.

Sesuai dengan temanya, Billy Elliot yang kini juga tayang di Broadway menjadi karya musikal yang kental dengan nyanyian dan tarian dan menjadi spesial dikarenakan juga mengetengahkan banyak aktor, penari dan penyanyi anak-anak yang berperan sebagai Billy maupun teman-teman seusianya. Malam itu, Billy diperankan oleh Elliott Hanna yang berusia 10 tahun yang memiliki stamina dan fisik luar biasa sebagai seorang penari baik balet, tap dance maupun hiphop yang terlihat dari natur gerakan-gerakannya. Ia pun menyanyikan nomor-nomor musik dengan sangat meyakinkan. Begitu juga pemeran cilik Demi Lee yang menjadi sahabat Billy, Debbie. Zach Atkinson yang malam itu memerankan Michael, sahabat laki-laki Billy, juga berperan begitu cemerlang dengan mampu menari tap dancing dengan gemilang dengan kemampuan akting yang mampu memancing gelak tawa penonton.

Malam Senin itu, Anna-Jane Casey berperan sebagai Mrs. Wilkinson yang adalah guru balet yang eksentrik sekaligus baik hati. Sedang David Barsley tampil sebagai ayah Billy yang keras namun sangat menyayangi kedua anaknya, Billy dan Tony yang diperankan oleh Kevin Warren. Aktris kawakan Ann Emery yang menjadi bagian dari produksi awal 2005 tampil kembali sebagai Grandma dengan gemilang. Pebalet Alexander Luxton juga tampil maksimal sebagai Billy Dewasa, dan Claudia Bradley tampil penuh kasih sebagai Ibu Billy.

Naskah dan libretto ini ditulis oleh Lee Hall yang juga menulis naskah filmnya, sebuah langkah yang berani, karena memang tidak semua penulis naskah film mampu menuliskan naskah dan lirik sebuah musikal. Selain itu, karena berlatar belakang kelas pekerja di Inggris Utara penguasaan dialek dan gaya bahasa bahasa Inggris menjadi sangat krusial dan bahkan cenderung kasar. Namun dipadu dengan musik gubahan Elton John, dibawah arahan direktur musik Chris Hatt, semua menjadi masuk akal dan terdengar indah, menarik dan bahkan menyentuh seperti nomor “Electricity”, “Dear Billy”, “He Could be a Star”, “Solidarity” dan “We’d Go Dancing”. Musikal ini bisa juga menjadi begitu kuat berkat nomor-nomor tari dari koreografer Nikki Belsher dan Pippa Ailion dan akting yang meyakinkan berkat arahan sutradara Stephen Daldry. Dari segi musikal, karya ini bukanlah musikal yang seluruhnya dinyanyikan sehingga sungguh dibutuhkan akting yang kuat dari seluruh pemain yang kemarin berhasil dibawakan dengan baik oleh seluruh pemeran. Tata panggung dengan mekanisme hidrolik yang mencengangkan juga memenuhi panggung, menjadikannya panggung yang hidup, penuh warna sekaligus ringkas, dari set rumah Billy, balai pertemuan, tambang hingga panggung teater sungguh patut diacungi jempol dan memancing decak kagum. Walaupun memang penggunaan dialek utara otentik yang cenderung berbeda dari bahasa Inggris yang mungkin biasa kita dengar sedikit menantang bagi mereka yang memang belum terbiasa, bahkan bagi mereka yang berasal dari daratan Inggris sendiri, namun ini tidak menghalangi penonton untuk menikmati acara ini.

Mengejar mimpi dan mengekpresikan diri itulah yang menjadi topik kisah Billy Elliot yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Billy Elliot dan Impiannya

  1. Sungguh mengesankan ceritanya, seorang anak laki-laki yang punya passion di dunia ballet.šŸ™‚

  2. yap, jarang… dan ini juga menjadi sebuah simbolisasi perlawanan terhadap stereotipe yang sering hadir di masyarakat…

  3. fansbillyelliot // 12 Mei 2015 pukul 8:34 pm //

    Coba saja ada Musikal Billy Elliot di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: