Kabar Terkini

Cemerlang Imajinasi Gergiev & London Symphony Orchestra


20130814-080928.jpg

Malam ini Royal Albert Hall dipenuhi oleh penonton yang datang untuk menyaksikan pertunjukan musik istimewa dari Prom 41 di hari Selasa malam ini. Dan sungguh mereka tidak pulang dengan kecewa. Ya, malam ini orkes kebanggaan kota London tampil di panggung gedung konser besar ini – London Symphony Orchestra (LSO) bersama dengan konduktor utamanya Valery Gergiev dengan program konser yang seluruhnya berasal dari Rusia, negara asal konduktor yang juga adalah Artistic dan General Director dari Mariinsky Theater ini.

Dan memang pertunjukan malam ini begitu menyengat. Sedari awal, lewat serunya Symphony no.2 dari Borodin, orkes yang didapuk sebagai salah satu orkes terbaik dunia ini telah menunjukkan kualitasnya yang sedemikian cemerlang, seakan tiada warna yang tidak dapat dibuat oleh orkes ini. Dari register rendah yang selembut sutra hingga register tinggi yang membelah hingga ke penghujung Royal Albert Hall, semua dibina dengan gemilang oleh seksi gesek, sedang seksi tiup kayu dengan penuh karakter yang membaur utuh dengan keseluruhan orkestra. Seksi tiup logam pun berpadu dengan karakternya yang terang namun juga mampu dengan lembut membuai pendengarnya. Orkes ini seakan mampu mengeluarkan semua suasana dalam kontrol yang baik tanpa harus kehilangan kedalaman akan musik yang dibawakan. Karya Borodin yang penuh kekuatan sekaligus kelembutan seakan terpancar keluar dengan spontan.

Tampil sebagai solois pada Piano Concerto No.2 karya Glazunov yang menutup babak pertama adalah Daniil Trifonov. Pianis muda yang tahun ini berusia 23 tahun dan telah memenangi Kompetisi Chopin di Warsawa serta Kompetisi Tchaikovsky di Moskow tampil dengan stamina dan musikalitas yang tidak terbendung. Bermain dengan virtuositas tinggi, di tangannya setiap denting piano memiliki makna yang mendalam sekaligus disertai keteguhan hati yang kuat yang terproyeksikan ke seluruh gedung pertunjukan. Badannya yang membungkuk di depan piano menunjukkan betapa ia menyelam jauh ke dalam musik yang ia mainkan tanpa kehilangan tenaga untuk membuat piano 3 meter yang ia mainkan bergoyang karena tenaga yang ia keluarkan dalam concerto ini yang dieksekusi attaca – tanpa jeda panjang antar bagian. Walaupun hari ini adalah debut pertamanya di Prom, ia berhasil mengundang decak kagum penonton hingga berbuah sorak dan sebuah encore yang menjadi penutup babak pertama ini.

Masuk ke bagian kedua, karya komposer kelahiran tahun 1931 Sofia Gubaidulina dengan tajuk ” The Rider on the White Horse” menjadi ajang eksplorasi seksi perkusi yang luar biasa. Permainan karakter suara dalam berbagai instrumen perkusi terutama denging glockenspiel yang digesek bersama dengan 3 bass drum membentuk suasana mistis sekaligus bersahutan dalam teror tubular bells yang menjawab ritmis bersama dengan getar tenang vibraphone. Sesekali instrumen tiup dan gesek membunyikan sebuah melodi indah, namun nyatanya adalah karya ini adalah karya programatik yang secara cerdas menggambarkan situasi kiamat dan penunggang kuda putih yang turun dari langit sebagaimana digambarkan dalam Kitab Wahyu lewat permainan warna setiap seksi instrumen yang dibina secara cermat oleh Gubaidulina bahkan termasuk keheningan yang tercipta di tengah-tengah karya. Karya ini terkesan mencekam namun juga sungguh indah dan penuh makna hingga akhir, sampai-sampai penonton semua tercengang dan tidak ada yang berani bertepuk tangan sampai lebih dari 20 detik suara terakhir berhenti berbunyi.

Sebagai sajian penutup konser ini, Gergiev membawakan karya populer Mussorgsky “Pictures in an Exhibition” yang diaransemen untuk orkestra oleh komponis sekaligus orkestrator ulung Maurice Ravel. Ravel sebagai orkestrator yang sungguh mengerti instrumen musik menuliskan orkestrasinya dengan kuat dan memang hanya akan dapat dieksekusi dengan baik oleh seorang konduktor yang memang memiliki visi tersebut. Dan Gergiev sebagai konduktor kawakan yang saat ini memiliki peran penting dalam dunia musik Rusia dan cukup signifikan di belahan dunia lain adalah orang yang cocok. Tampil mengaba dengan gayanya yang unik, di sini ia memilih untuk mengaba dengan tangan hampa setelah pada babak pertama ia mengaba dengan tongkat mininya yang lebih mirip seperti tusuk gigi dibanding baton dirigen. Namun dengan keunikannya itulah semua seakan tertarik bagai magnet padanya bahkan para penonton yang berdiri beberapa meter di arena tampak seakan tersedot pada kharismanya yang sedemikian besar. Di bawah arahannya, Setiap pemain orkes diberi kesempatan untuk bernafas secara natural dan mengolah kemampuan mendengar sebagai ensembel, yang tentu dieksekusi dengan maksimal oleh LSO. Tapi terlihat secara jelas dan pasti dalam kebebasan tersebut, Gergiev mampu mengendalikan seratus lebih anggota orkes dalam visi dan imajinasi yang sama dan prima. Setiap warna dan momen seakan diukir secara khusus oleh konduktor yang tahun ini berusia 60 tahun lewat lambaian dan getar tangannya serta permainan yang halus tapi begitu menuntut. Balans suara pun tercipta dengan indah, dan bahkan di saat-saat terkeras suara trombon dan trompet bisa berbunyi keras, mantap dan tepat di batas atas dinamik tanpa terdengar pecah dan kasar di telinga pendengar paling depan sekalipun.

Yang menyenangkan dan istimewa adalah melihat betapa seluruh pemain berusaha sebaik mungkin untuk membagikan musik secara total di bawah arahan Gergiev. Semua bermain dengan penuh semangat di depan audiens dari seluruh negeri lewat siaran langsung radio BBC3. Selain itu mereka juga tampil dengan begitu bebas dalam ekspresi yang terarah. Kepuasan mereka pun dapat dibaca dari wajah pemain ketika konser usai. Dan tentunya musik yang disampaikan memang sedemikian luar biasa, membuka pintu baru untuk menerabas batas imajinasi, juga mengundang senyum bahagia dan kekaguman di wajah para penonton yang berarak pulang dari Royal Albert Hall malam itu. Luarbiasa!

20130814-080950.jpg

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Cemerlang Imajinasi Gergiev & London Symphony Orchestra

  1. lucky you Mike, how many times you have come to the Proms?🙂 Gergiev ini juga salah satu favorit gue, dia bisa conduct pake pensil atau tusuk gigi katanya ya🙂 hehe

  2. I saw him with his toothpick yesterday… Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: