Kabar Terkini

Mercusuar Musik Renaisans – Tallis Scholars


20130815-211347.jpg

Setelah konser orkestra semalam, ternyata rangkaian Prom Rabu kemarin tidak selesai begitu saja. Masih ada sajian late night Prom yang dimulai pukul 22:15, waktu yang cukup malam namun masih dianggap masuk akal untuk sajian konser di musim panas ini.

Konser larut malam kemarin memang menyajikan musik yang sedikit berbeda. Kali ini tampil di panggung Prom Royal Albert Hall, paduan suara kamar Tallis Scholars yang menjadi salah satu mercusuar dari paduan suara spesialis karya-karya masa renaisans. Tampil bersama konduktor sekaligus pendiri kelompok ini, Peter Phillips, Tallis Scholars yang tahun ini berusia 40 tahun membawakan karya-karya paduan suara akapela dari Gesualdo dan John Taverner, yang kesemuanya adalah karya-karya abad 15-16.

Tampil dengan repertoar yang menjadi andalan mereka, Peter Phillips mencoba untuk mengemukakan perbedaan antara repertoar musica sacra Renaisans Italia dengan Inggris dalam kurun waktu yang hampir sama. Karya-karya Gesualdo yang diangkat malam itu kebanyakan adalah karya-karya motet devosional berupa pujian kepada Maria. Karya-karya ini lalu diselingi dengan karya ordinarium misa dari Taverner Gloria, Credo, Sanctus-Benedictus, dan Agnus Dei yang diambil dari Misa Gloria tibi Trinitas. Kyrie Leroy dari Taverner semalam didapuk menjadi karya pembuka rangkaian konser ini.

Dengan teks yang relatif lebih pendek, pujian-pujian seperti “Ave, dulcissima Maria”, “Ave, regina caelorum”, dan “Maria, mater gratiae” dikemas Gesualdo dengan lebih mengutamakan polifonik kontrapungtal yang cukup kompleks, dengan garis alur yang cukup panjang dan membuai. Pemakaian kromatis yang cukup banyak namun tetap menjaga integritas karya juga menjadi ciri khas Gesualdo yang ditampilkan malam itu. Sedangkan karya dari John Taverner memang banyak berputar pada teks ordinarium yang sudah baku dan beberapa diantaranya cukup panjang, seperti Gloria dan Credo. Cara Taverner dalam mengemas polifoni cukup unik. Ia mencoba menggubah musiknya secara lebih sederhana supaya lebih mudah dimengerti terutama dengan teks berbahasa latin yang cukup panjang. Kesederhanaan dalam menggubah polifoni ini yang menurut para ahli menjadi salah satu bagian dari ciri panjang musik Inggris berabad-abad kemudian yang terbilang cukup mudah untuk dicerna. Ya, sederhana namun tetap memiliki kualitas dan ciri unik tertentu yang membuatnya layak disebut karya dengan kualitas yang baik.

Tallis Scholars sendiri tampil dengan sangat mengesankan. Tampil hanya dengan 14 orang maksimal, atau terkadang hanya bersembilan, Tallis Scholars yang kualitasnya diakui sebagai ensemble profesional yang berkualitas mampu menyedot seluruh penonton masuk ke dalam intrikasi jalinan-jalinan nada dan alur yang disusun oleh sang komponis. Timbre suara seakan dipilih sedemikian rupa agar cocok dengan karya dan cocok antara satu orang dengan orang lain dalam grup, intonasi pun terjaga dengan begitu mengagumkan di sepanjang konser.

Peter Phillips sungguh tahu benar bagaimana harus mengelola kelompok ini. Setiap akhir kalimat seakan merupakan persiapan untuk jalinan kalimat baru yang hidup. Tanda diam dan istirahat pun seakan berbunyi dan begitu bermakna bagi setiap alur suara. Disiplin mereka dalam artikulasi kalimat juga luar biasa dan berkat arahan sang konduktor bentuk olahan tematik menjadi jelas. Pun setiap akhir karya seakan sedemikian bersih terjaga secara diksi dan intonasi sehingga setiap karya sedemikian mencengangkan. Mereka pun tampil dengan sederhana, dengan pakaian serba hitam dan yang pria dibalut jas hitam akan tetapi kualitas yang mereka bawakan sedemikian prima dan indah bersahaja.

Tallis Scholars sungguh menjadi suguhan penutup hari yang berkesan dan akhirnya sepanjang jalan pulang membuat semua berpikir kembali tentang makna dan keindahan musik-musik vokal renaisans dalam kehidupan bermusik saat ini. Dan dengan kualitas yang mereka bawakan semalam, tidak heran mereka menjadi salah satu acuan penting di dunia dalam eksplorasi karya-karya vokal zaman renaisans selama 40 tahun terakhir ini.

20130815-211447.jpg

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Mercusuar Musik Renaisans – Tallis Scholars

  1. thank you for sharing. GRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: