Kabar Terkini

Dutoit, RPO dan Musik yang Manusiawi


20130816-072236.jpg

Tiga cellis duduk berdampingan bersiap untuk menyambut musik. Mereka adalah celis Finlandia Arto Noras dengan Leonard Elschenbroich dan Daniel Müller-Schott yang keduanya berasal dari Jerman. Tidak banyak karya yang dibuat untuk tiga solois cello diiringi oleh orkes simfoni, salah satunya dibawakan malam kemarin di Royal Albert Hall. Karya Penderecki “Concerto Grosso” yang ditampilkan perdana tahun 2001 adalah salah satunya.

Bahu-membahu membangun bagian solo ketiga solois yang juga aktif bermain musik kamar saling bertanya jawab dengan hidup, membangun struktur yang kuat untuk karya yang terdiri dari 6 bagian yang menyatu satu dengan yang lain dan juga dengan seluruh orkestra. Sebagai karya modern, Penderecki menggubah dengan gayanya yang berdasar pengembangan motivik ala Beethoven. Tanpa ketergantungan pada tonalitas tertentu, komponis yang lahir di Polandia 1933 ini menjelajah alur kalimat dan ekspresivitas seakan tanpa henti dalam karya ini tanpa terkesan dibuat-buat. Hanya imajinasi yang kuatlah yang mampu menyatukan karya ini, dan penampil semalam melakukannya dengan baik.

Adalah Royal Philharmonic Orchestra (RPO) dan konduktor utama sekaligus Direktur Artistik Charles Dutoit yang menjadi tuan rumah dalam konser kemarin. Dan memang konser kemarin menjadi sumber imajinasi bagi penonton yang memadati gedung konser yang berada di selatan Hyde Park ini.

RPO yang juga memiliki afinitas yang kuat terhadap musik-musik di luar repertoar musik klasik standar agaknya memang ingin menunjukkan titik kuatnya dalam membangun imaji di telingan pendengarnya, terbukti dari pilihan karya yang diambil yaitu Fireworks dari Stravinsky, La Mer dari Debussy dan Suite no.2 dari Daphnis and Chloë karya Ravel. Bersama Dutoit yang memiliki reputasi untuk musik-musik Prancis, RPO bermain seakan untuk memicu imaji di benak para pendengarnya.

Fireworks yang pendek membuka konser dengan penataan klimaktik di akhir karya layaknya kembang api yang meletus. Merupakan salah satu karya awal Stravinsky, karya ini memang belum begitu rumit layaknya Firebird yang melambungkan namanya, namun dramatisasinya begitu terasa. Lalu di babak kedua, giliran La Mer dan Daphnis and Chloë Suite no.2 yang ditampilkan. Sebagai karya simfonik besar dari Debussy, La Mer diselesaikan di tahun 1905 dan terbagi dalam 3 bagian yang menggambarkan berbagai nuansa samudra, dari ombak, angin hingga gemerlap hari di permukaan laut. Sedang Suita no.2 yang dibentuk dari sebuah karya balet dengan judul yang sama, berkisah dengan ritme dan irama serta kerumitan orkestrasi khas Ravel yang indah.

Sebagai orkestra yang memang sering berpetualang dengan karya-karya di luar musik klasik, Royal Philharmonic memiliki kekuatan tersendiri dalam membangun nuansa dan warna. Dan kesemuanya digunakan dengan efisien untuk membangun sebuah kisah imajinatif dan deskriptif berdasarkan musik yang yang tertulis. Nuansa tarian sungguh terasa di Daphnis and Chloë hingga mampu terbayang di benak beberapa penari balet bergerak elegan diiringi musk Ravel, begitu juga dengan desir angin dan gelora ombak dalam karya Debussy. Dutoit pun secara elegan namun bertenaga menahkodai kapal untuk bermanuver cantik dalam karya-karya ini dan membina nafas yang berkesinambungan.

Sajian malam ini memang bukan sajian yang paling mencengangkan walaupun di beberapa tempat memang menantang secara teknis, tapi merupakan salah satu pertunjukan yang paling imajinatif minggu ini di dalam rangkaian konser Prom. Berpetualang dengan symphonic poems, membangun khayal dan mimpi, itu yang dilakukan orkes yang bermarkas di Cadogan Hall London. Di tangan Dutoit dan Royal Philharmonic Orchestra malam ini, musik seakan bukan berdiri untuk dirinya sendiri saja, namun juga dengan unsur-unsur dan elemen kehidupan lainnya. Sebuah pertunjukan yang manusiawi dan karenanya indah untuk dinikmati.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: