Kabar Terkini

Boaz Sharon di Papan Nada


Pertunjukan musik bisa jadi memiliki beberapa faset, ada yang condong ke satu sisi, bisa pula condong ke sisi yang berbeda. Ya, demikian juga dengan resital piano solo malam ini yang menampilkan Boaz Sharon, pianis asal Israel yang kini menetap di AS.

Bermain di atas panggung Erasmus Huis, resital malam ini bisa jadi menawarkan cara pandang yang berbeda akan sebuah pertunjukan musik. Tanpa hingar-bingar, resital ini menampilkan seorang profesor bidang piano yang menjadi dosen aktif di Boston University dan direktur departemen piano untuk Boston University Tanglewood Institute.

Berbalut batik biru, pianis yang aktif menjadi juri kompetisi dan clinician yang banyak memberi masterclass di berbagai belahan dunia ini tampil dengan tenang, membuka karya dengan repertoar masa romantik dari Robert Schumann, Arabesque op.18. Sedari awal tampak bahwa pianis yang lahir di Tel Aviv ini sungguh memegang teguh prinsip pianistik yang demikian ekonomis. Dengan teknik dan penguasaan papan tuts yang baik, Sharon tampak tidak bergeming namun permainannya musikal dengan pergerakan yang terarah. Intrikasi jalinan suara seperti dalam Klavierstücke op.76 karya Johannes Brahms terbina dengan baik begitu juga Ritual Fire Dance dari de Falla juga dieksekusi dengan menyala dan penuh gairah tanpa harus sibuk dan heboh bergerak. Sungguh ekonomis.

Dalam 5 buah karya piano Maurice Ravel, Miroirs, Noctuelles, Oiseux Tristes, Barque sur L’Ocean dan Alborada del Gracioso, disuguhkan dengan aspek yang mencoba menjangkau perspektif lain. Maurice Ravel oleh pianis ini disuguhkan sebagai seorang komponis yang kuat secara pianistik dengan gaya bertutur Austro-Jerman namun berbumbu aneka citarasa Prancis – sebuah pendekatan yang tidak lazim. Seringkali memang kita terperangkap dengan citra seorang Ravel orkestrator ulung yang bermain dengan beraneka semburat pelangi dan instrumen orkestra, dan menyuguhkan Ravel yang melankolis dalam kerangka seorang pianis adalah pendekatan yang patut kita catat.

Setelah istirahat, giliran penonton disapu oleh modus Phryrigian khas Spanyol yang terdengar lewat karya-karya Isaac Albeniz lewat Evocation, El Puerto dan El Albaicin. Dikenal sebagai pianis-komponis Spanyol, Albeniz memang menjadi advokat musik dari dataran Andalusia dan meramunya dengan harmoni dan sajian kromatis yang membanjiri Eropa di bagian kedua abad-19. Permainan yang bertenaga dan cepat juga disajikan oleh Boaz dengan rancak sembari terus menjaga pergerakan harmoni.

Sebagai penutup keseruan malam itu, karya George Gershwin yang begitu populer dalam versi orkestra An American in Paris ditampilkan dalam transkripsi Dally dan Sharon sendiri. Mengangkat kisah Gershwin yang baru tiba di Prancis dan ingin belajar dengan Ravel dan Boulanger, karya ini berangkat dari melodi elegan ala Prancis yang terus berkembang dengan warna blues dan jazz Amerika dengan peralihan tempo yang terus berubah. Sharon pun mengemas melodi panjang dengan indah, memberikan penekanan secukupnya pada rangkaian melodi. Demikian pula dengan sinkopisasi jazz dan blues digarap dengan megah, walaupun seringkali penonton kehilangan benang merah karena pendekatan yang cenderung kurang dinamis.

Pergelaran semalam memang mengukuhkan Boaz Sharon sebagai seorang profesor yang sungguh mengerti intrikasi dan mekanisme sebuah komposisi dalam bingkai permainan yang sungguh pianistik. Permainannya yang dibalut teknik tinggi dan ekonomis, tetap pada ketenangan yang tiada duanya. Di tangannya seakan kita dibuat percaya bahwa semua karya yang dimainkan apapun itu sungguh hanya ditulis untuk bertutur dari piano. Seorang akademisi di papan nada, itulah Boaz Sharon.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: