Kabar Terkini

Ketika Sibuk Soal Mobil Murah, Seni Murah Berkualitas Kapan?


Saat ini, Jakarta sedang sibuk menanggapi isu kebijakan mobil murah yang sedang didengungkan Kementerian Perindustrian yang kontraproduktif dengan situasi di Jakarta. Mobil yang katanya mahal, sekarang ingin dibuka kerannya agar ada mobil murah yang ramah lingkungan yang akan menjawab permasalahan transportasi. Polemik pun bermunculan terutama menyoal mobil murah bukan sebagai solusi, melainkan masalah baru. Banyak dari mereka berpendapat bahwa solusi terbaik adalah membangun infrastruktrur transportasi yang baik beserta dengan moda transportasi masal yang terpadu.

Iseng-iseng, saya jadi berpikir soal Jakarta kita dan hidup berkesenian kita. Seringkali memang susah untuk mengatakan bahwa seni dan budaya kita adalah barang mahal di Jakarta. Bilamana tidak, banyak yang beranggapan bahwa seni bukanlah aset mahal yang patut dijaga dan dikembangkan. Sungguh menyedihkan memang. Seni rakyat adalah seni murah dan cenderung dianggap murahan. Kualitas jadi hal nomor kesekian. Pun kalau ada seni yang berkualitas yang ada adalah mahal sekali hingga tidak bisa diakses oleh publik.

Sesungguhnya tidak ada seni yang murah. Seni yang sungguh seni pastilah mahal karena merupakah buah pemikiran, waktu, keringat dan bahkan cucuran airmata pelaku seni yang merupakan cerminan masyarakat di mana seni itu berkembang. Seni yang seperti inilah yang berkualitas. Dan yang namanya kualitas pasti datang dengan harga yang tidak murah, karena tenaga pelaku seni tidak murah.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah pemerintah kita berpikir soal seni berkualitas yang murah dan terjangkau masyarakat? Seni yang menjangkau masyarakat lebih jauh dan sebagai kendaraan sosial masal yang membawa peradaban menjadi lebih baik?

Sungguh saya percaya bahwa keadaban manusia berawal dari apresiasi antar makhluk, menghargai keindahan yang ada di sekitarnya, yang ada di diri sesamanya. Dan itu semua bisa disokong oleh apresiasi seni yang baik. Lagi, seni murah bukan berarti kemelaratan pelaku-pelaku seni, akan tetapi dalam bentuk terbukanya akses seni berkualitas bagi masyarakat sekaligus tetap menjaga keberadaan seniman dan kesejahteraannya. Ini yang nampaknya masih terlupakan pemerintah kita. Subsidi seni seringkali dilihat dari imbal baliknya sebagai investasi dalam ekonomi kreatif, bukan sebagai modal pendidikan sosial yang menyeluruh. Alhasil, seni hanya dilihat dari seberapa duit yang dihasilkan, bukan seberapa pribadi yang tercerahkan. Pendekatan yang mirip bukan dengan pendekatan Kementerian Perindustrian kita untuk mengejar KPI (Key Performance Index) mereka?

Padahal subsidi seni dan pengembangan budaya seharusnya menjadi modal peradaban. Seniman idealis yang berkualitas seharusnya bukan identik dengan seniman melarat. Mereka disokong pemerintah untuk menghasilkan karya-karya yang dapat dinikmati sedemikian banyak orang, membuka cakrawala pemikiran masyarakat bahwa di dunia ini masih banyak keindahan yang patut dinikmati. Memanusiakan manusia, kabarnya ini jadi nilai yang kuat di masyarakat kita, namun nyatanya tidak menyentuh masyarakat kita. Padahal keindahan itu adalah pembuka jendela hati.

Salah satu yang penting adalah sebenarnya regulasi dan sokongan terhadap perkembangan seni kita. Sokongan itu bisa berarti pendidikan seni yang lebih komprehensif dan menyentuh aspek akal budi para siswa, menyediakan guru-guru terampil untuk mengajar di bidang ini. Dukungan seni juga bisa berarti membukakan pintu akses bagi kegiatan-kegiatan seni bagi masyarakat dengan tiket murah ataupun tidak berbayar. Dukungan terhadap pusat-pusat budaya dan konservasi, seperti sanggar, galeri, dan museum juga menjadi kunci. Menarik bahwa kita punya banyak museum dengan akses murah, tapi apakah murah berarti sungguh terawat dan dikelola dengan baik? Baru saja kita mendengar artifak berharga Museum Nasional kita kecurian dan ternyata sistem CCTVnya diketahui rusak selama 6 bulan. Tragedi miris dan terdengar bodoh untuk sebuah museum yang digadang-gadang sebagai barometer dunia permuseuman nasional.

Sedang banyak seni pertunjukan lokal kita yang berkualitas entah mahal sekali dan hanya untuk orang kaya, atau murah sekali namun senimannya melarat. Banyak seniman di daerah yang begitu teguh berpegang untuk kelestarian seninya namun sama sekali tidak dilirik pemerintah hingga terlunta-lunta. Padahal seni yang digelutinya sangat krusial bagi kekayaan kebudayaan daerah tersebut. Banyak juga seniman yang disokong keuangan dari sisi swasta kuat namun sebenarnya belum tentu berkontribusi nyata pada perkembangan keadaban publik lewat seni yang berkualitas. Namun kesemua kenyataan ini sebenarnya pertanyaannya sama: Mana peran pemerintah kita menyediakan infrastruktur berkesenian yang baik? Kapan?

Kadang terpikir boro-boro berpikir soal seni, toh untuk menyelesaikan masalah keterhubungan di Indonesia ini, yang dipikirkan adalah mobil murah, bukan perbaikan infrastruktur yang masih carut-marut ini. Aneh? Ya, selamat datang di Indonesia.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: