Kabar Terkini

Oratorio Al-Masih Sentuhan Ndaru


Oratorio Messiah bisa jadi cukup populer, termasuk di Indonesia. Namun sungguh jarang bagi publik untuk mendengarkan kemasan Messiah seperti yang terdengar malam Sabtu ini di Aula Simfonia Jakarta yang mengetengahkan bagian kedua dan bagian ketiga dari oratorio karangan George Frederick Handel ini. Mengambil tema nubuat salib dari kitab suci Kristen dan harapan hidup kekal, agaknya bertepatan dengan penanggalan tradisional Kristen yang merayakan seluruh orang beriman pada tanggal 1 November yang lalu, sedikit berbeda dengan pendekatan umum yang biasa menampilkan karya ini menjelang Natal.

Adalah Ndaru Darsono, konduktor malam ini, yang menggabungkan tenaga dari dua paduan suara yang dipimpinnya, Gloria Dei Cantore dan Jakarta Festival Chorus bersama Gloriamus Philharmonia untuk menampilkan karya yang ditulis tahun 1741 ini. Kedua paduan suara terdengar bahu membahu membangun arsitektur karya ini. Cukup mengejutkan untuk mendapati paduan suara yang cukup besar ini menyanyi dengan cemerlang, lincah namun tidak kehilangan ritme, intonasi dan daya hidup. Terlihat bagaimana Ndaru, yang dikenal juga sebagai vokalis tenor, secara cermat menempatkan pemahaman teks sebagai titik balans. Walaupun mungkin stamina di babak kedua menjadi sebuah tantangan yang perlu dibina untuk mempertahankan fokus, penampilan secara umum begitu hidup dan mudah dicerna, menjadikan karya ini berbeda dari kebanyakan penampilan Messiah yang biasa kita dengar di ibukota.

Orkestra Gloriamus Philharmonia juga tampil dengan kejernihan dan presisi yang baik, disertai pembentukan kalimat yang cermat di sepanjang konser. Orkes yang terbentuk dari tenaga pengajar sekolah musik Gloriamus ini tampil dengan warna gaya barok yang khas dan mengingatkan penulis akan orkes dengan alat musik kuno yang memang mengkhususkan diri pada repertoar abad 18 ini, padahal mereka bermain dengan alat musik modern. Lain dengan paduan suara yang agak kehilangan stamina di babak kedua, orkes justru terlihat lebih greget di babak kedua dengan proyeksi yang lebih berani untuk berekspresi sembari tetap dalam bingkai zaman karyanya, sedang sebelumnya di babak pertama cenderung kaku dan bermain dengan volume lebih kecil, seakan takut menyalahi kejernihan musik yang dituju.

Malam ini juga tampil empat orang solois yang mewarnai karya yang secara mengagumkan ditulis oleh Handel hanya dalam tiga minggu. Mereka adalah soprano Sylvia Wiryadi, mezzo-soprano Anna Koor, tenor Rubin Lukito dan bass Ferry Chandra. Di antara keempatnya nampak kematangan Sylvia Wiryadi yang mengecap pendidikan di Jerman ini dengan pendekatan yang brilian dan sesuai dengan karakter musik. Dengan proyeksi yang cukup, ia menari di antara kontras dinamika dan titik ekstrim nada dengan lentur dan terukur. Mezzo Anna Koor asal Singapura juga tampil dengan kontrol penuh dalam warna suaranya yang cenderung dramatik dan sedikit gelap. Pendekatannya kali ini lebih cemerlang dan hidup dibandingkan beberapa tahun lalu ketika penulis menyaksikannya membawakan karya ini, alhasil lebih mengena dan nyaman di telinga.

Ferry Chandra dan Rubin Lukito tampil dengan memberikan warna pada karya-karya solonya. Suara bass Ferry pun menunjukkan kelenturannya melewati hadangan melisma (rentetan not cepat) yang perlu dieksekusi dengan lincah dan tepat. Rubin menarik perhatian dengan gaya yang khas menutup satu telinga ketika bernyanyi dengan suara tenornya yang cenderung tebal. Di sisi lain, kedua penyanyi pria ini perlu secara khusus mencermati intonasi nada yang sedikit banyak menghalangi pendengar untuk meresapi musik secara utuh.

Ndaru Darsono sebagai direktur musik nampak sedemikian berhasil mengelola dua paduan suara berbeda ini dan mengawinkannya di atas panggung. Ndaru pun sebagai konduktor mampu menggerakkan orkes yang dipimpin oleh Ferdinand Suganda tanpa harus mencengkeram alur musiknya. Alur musik terdengar berlalu dengan nafas yang natural dan bebas. Tidak tergesa-gesa menunjukkan bahwa konduktor ini paham betul dengan arsitektur karya yang ia bawakan beserta dengan proporsinya. Suguhan semalam bisa jadi merupakan hiburan bernuansa rohani yang kental namun juga dengan sentuhan artistik yang tidak kalah menyegarkan di akhir pekan ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: