Kabar Terkini

Berproses di Sepanjang Resital


Arties1Kamis malam lalu Goethe Haus menjadi tuan rumah pertunjukan yang diprakarsai oleh Institut Français Indonesia yang mendatangkan piano kuartet Arties. Kuartet asal Prancis ini digawangi oleh empat musisi, pada biola Sullimann Altmayer, biola alto Julien Dabonneville, cello Gauthier Herrmann dan pada piano Romain Descharmes.

Resital malam itu sendiri berlangsung dengan cukup sederhana. Dengan berbalut pakaian hitam-hitam, mereka menampilkan karya Gabriel Fauré Piano Trio dalam D minor op.120, dan berturut-turut karya Piano Kuartet Mozart dalam Es mayor KV.493 dan Piano Kuartet op.47 karya Schumann yang juga bernada dasar Es mayor.

Pada pembukaan recital, dalam format Piano Trio dengan instrument piano, biola dan cello, Altmayer, Herrmann dan Descharmes tampil dengan bangga membawakan karya negara asal mereka. Sebagai karya yang lahir di tahun 1923 karya ini ditulis ketika sang komponis telah berusia 78 tahun, Piano Trio cenderung menampilkan sisi impresionis Prancis dengan permainan warna yang beragam dengan dan berporos pada alur unison yang terkesan minimalis. Menarik bahwa karya ini tersaji dengan manis yang sungguh menggambarkan bagaimana seorang begawan di usia senjanya berusaha mempertahankan idiom musik yang telah ia bantu bina di sepanjang hayatnya. Permainan piano Descharmes tampak dengan rajin merangkai keseluruhan karya.

Kuartet Mozart dan Schumann boleh jadi adalah kepenuhan dari kuartet piano ini. Dengan personil yang lengkap, permainan pun secara mengherankan tampil lebih hidup dibandingkan karya Fauré yang mendahuluinya. Dengan pendekatan yang elegan keempat pemain tampil dengan warna yang berbeda pada Mozart, Altmayer tampak hidup dengan permainan yang antusias, yang didukung dengan permainan Dabonneville pada biola alto yang cukup musikal didasari oleh cello Herrmann. Sesekali Herrmann pada cello pun mengeluarkan tajinya dengan mengambil alih arah karya. Suasana yang kerja sama yang kondusif ini juga terdengar pada karya Schumann yang lebih terkesan bebas berekspresi dengan terus mempertahankan warna melodi yang kuat. Kerja sama pun terbina dengan menarik.

Walaupun demikian jelas sekali terdengar bahwa Arties ini adalah sungguh sebuah kuartet yang dibentuk oleh sebuah label dalam rangka proyek keliling Indonesia ini. Formasi ini pun sengaja dipilih untuk mengetengahkan format musik kamar yang yang tidak sering kita dengar, yakni piano kuartet. Walaupun kerjasama dan musik yang tersusun cukup baik, rapi dan musikal, namun terasa benar bagaimana keempat pemain ini masih berusaha menyesuaikan antar mereka masing-masing, seakan memang belum sungguh mengenal warna suara rekannya dan bermain dengan kesatuhatian. Jalinan kalimat sering terasa belang ketika mereka menjalinnya bersama-sama. Namun mengesankan bahwa sejalan resital ini berjalan, suara mereka perlahan mendapatkan bentuk padunya, seakan berproses bersama dengan berlangsungnya resital malam itu.

Alhasil resital malam itu di dalam Goethe Haus yang 60% terisi, walaupun terasa indah dan mendetail, belum sungguh-sungguh menyentuh pendengarnya. Mungkin dengan seiring usainya tur mereka keliling Jawa yang dibuka di Jakarta ini, mereka sungguh baru akan menjadi satu unit yang utuh. Kita lihat saja.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: