Kabar Terkini

Pertama, Festival Musik Barok Jakarta


Festival Barok1Musik barok dan repertoar dari komponis Johann Sebastian Bach bisa jadi merupakan makanan wajib bagi mereka yang secara serius menggeluti musik klasik. Pun nama komponis asal Jerman ini terbilang besar yang paling tidak pernah terdengar di telinga khalayak yang lebih luas, bukan hanya sekedar pemerhati musik klasik saja. Namun sebuah festival yang memang dikhususkan untuk musik barok ini bisa dibilang merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan istimewanya digalang pertama kali di Indonesia dengan nama Festival Barok Jakarta 2013 dengan Budi Utomo Prabowo sebagai direktur artistik.

Dengan tema festival yang berkonsentrasi pada sang komponis J.S. Bach, pergelaran malam  ini terbilang cukup beragam, dengan tersentral pada Camerata Vocale Jakarta, Konsort Harmoni dan beberapa orang solois yang tergabung dalam sanggar Musicasa. Camerata Vocale yang diperkuat 26 orang kali ini berkonsentrasi pada lima karya motet dari J.S. Bach dengan format paduan suara ganda (double choir). Ketiga motet itu adalah Singet dem Herrn (BWV 225), Komm Jesu Komm (BWV 229), Der Geist Hilft unser Schwachheit auf (BWV 226), dan Lobet den Herrn (BWV 230).

Di sisi lain Konsort Harmoni secara total tampil pada Konserto Brandenburg no.5 (BWV 1050) sembari juga mengiringi beberapa orang solois dalam potongan-potongan aria dari Pasio St. Yohanes (BWV 245) yang juga adalah salah satu dari dua musikalisasi kisah sengsara Yesus dari Bach yang kita kenal saat ini. Sejenak tampil juga kuartet ganda untuk membawakan motet Ich lasse dicht nicht (BWV 159) yang sempat dikenal sebagai motet Bach, namun saat ini diragukan kepenulisannya – apakah sungguh ditulis oleh komponis yang didaulat sebagai puncak keemasan musik zaman barok ini. Heaseoung Kang yang adalah organis asal Korea pun juga menampilkan dua nomor Partita untuk organ selain juga mengiringi motet dengan organ pipa bambu.

Joseph Kristanto Pantioso sebagai begawan vokal juga tampil membawakan beberapa aria dari pasio- Mein teurer Heiland dan Betrachte, meine Seel’. Terlihat bagaimana, bariton lulusan Freiburg Musikhochschule ini sedemikian fasih dan meyakinkan dalam membawakan karya-karya yang memang menjadi spesialisasinya. Anita Kristiana dengan suara alto yang bulat melahap aria Es is vollbracht yang secara dramaturgi menjadi titik kulminasi dari karya pasio ini. Soprano Fika Djaja tampil dengan dramatis pada Ich folge dir gleichfalls sedang tenor Edward John membawakan resitatif dengan diksi yang sedemikian menggigit.

Dalam konser yang beraneka ragam ini, Camerata tampil dengan cukup mengesankan, terlebih dengan membawakan repertoar standar paduan suara di Barat namun agaknya dihindari banyak paduan suara Indonesia karena tingkat kesulitannya yang tinggi dan gaya yang khas. Walaupun sempat belum panas di motet pertama, namun di motet kedua terasa bahwa paduan suara menggenggam karya ini. Walaupun ada ketidakmerataan diksi serta kematangan eksekusi dan intonasi, namun seperti yang dikatakan Joseph Kristanto yang juga adalah pengarah vokal paduan suara ini, repertoar ini adalah repertoar menantang yang menuntut setiap anggota paduan suara untuk berada pada puncak teknik vokal mereka. Dan hasil malam kemarin di Usmar Ismail Hall sungguh dapat dibanggakan, dengan arsitektur yang jelas dan tergarap lewat arahan Budi Utomo Prabowo yang bertindak sebagai pengaba. Namun, terlihat bahwa sekalipun dibawakan dengan musikal, tidak semua anggota paduan suara paham betul dengan makna apa yang diucapkan bibir mereka. Kesungguhan para penyanyi untuk memahami setiap kata yang mereka nyanyikan bisa jadi adalah kunci untuk semakin meningkatkan kualitas interpretasi paduan suara yang baru berusia lima tahun ini.

Di sisi lain, Konsort Harmoni sebagai sebuah grup tujuh instrumentalis bermain kompak. Sebagai satu-satunya grup di Indonesia yang secara khusus berniat untuk menggerakkan musik barok, flutis Metta Ariono, violinis Inge Karyadi dan Ali Hanapiyah, violis Jane Sutiono bekerja sama dengan kontinuo Rachman Noor pada cello, Yunas Aditya pada kontrabas dan R. Leonard Reza Saputra pada harpsichord. Dengan pendekatan yang cukup baku pada musik barok, adalah sebuah kebanggaan melihat musisi-musisi Indonesia bermain musik barok dengan citarasa dan kesungguhan, walau keajegan musik pendekatan musik bisa lebih digarap. Dengan harpsichord akustik yang khas serasa perlahan kerinduan untuk mendengarkan alat musik kuno dimainkan oleh orang Indonesia sedikit terobati. Juga angan bahwa Indonesia memiliki konsort dan orkes dengan sepenuhnya dengan alat musik zaman barok/kuno seakan tidak lagi begitu jauh untuk terwujud dan malam ini Konsort Harmoni bersama dengan Prabowo sebagai pengaba adalah mereka yang pertama membuka jalan untuk mengembangkan praktek musik otentik yang kalau di Eropa sana sudah booming selama 50 tahun terakhir.

Musik era barok dan Johann Sebastian Bach memang adalah menu wajib banyak musisi muda dalam perkembangannya sebagai musisi yang handal, namun sayangnya sedikit dari mereka yang secara sungguh ingin berkembang di jalur ini. Tidak banyak orkes dan ensemble yang berani membawakan karya Bach dalam konser publik, hal yang sama juga terjadi pada paduan suara. Namun dengan festival serba-serbi ini sebagai yang pertama, semoga kecintaan akan musik ini di atas pentas sungguh dapat terbina dikemudian hari, dan bukan hanya terbatas sebagai repertoar akademik saja.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: