Kabar Terkini

Belajar dari Bebunyian, Malam Pertama Pekan Komponis Indonesia 2013


pekan-komponis-flyerWEBMenyimak Pekan Komponis Indonesia di tahun 2013 ini bisa jadi merupakan kesempatan belajar bagi semua orang. Mengambil topik acara Organologi ‘Instrumen Musik Dawai – Tradisi dan Inovasi’ di tahun ini, Komisi Musik Dewan Kesenian Jakarta kembali menggelar konser karya-karya komponis-komponis muda di hari Senin yang diguyur hujan deras, setelah sore harinya komponis senior Slamet Abdul Sjukur mengupas tentang relasi komponis Prancis Claude Debussy, gamelan dan isu menarik mengenai pendidikan musik di Indonesia.

Pukul delapan malam, tiga komponis dari tiga institusi pendidikan seni dihadirkan di pergelaran semalam di Gedung Kesenian Jakarta. Mereka adalah Seta Dewa dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Dinar Rizkianti dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung dan Rio Eka Putra dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Ketiganya mengetengahkan karya-karya yang menjelajah alat musik dawai baik dari Nusantara maupun internasional.

Seta Dewa muncul seperti hasil undi tampil pertama sebagai pembuka acara malam itu. Seta yang sempat mengecap pendidikan sebagai seorang gitaris, muncul dengan aroma permainan gitar yang cukup kuat pada keempat karyanya yang ditampilkan malam itu. ‘Mind Sick No.1’ sebagai karya pembuka menggunakan gitar dan gitar kontrabas, mencoba mengorek petikan pentatonik yang berbunyi disonan yang saling bertabrak di antara kedua instrumen ini akibat penalaan yang berbeda, namun keduanya disatukan oleh kerangka ostinato (motif berulang) yang sama dan tidak lepas dari unsur kejawaan dengan cita rasa modern. Penggunaan ostinato juga masih terus terasa ketika cello bergabung dengan dua gitar untuk memainkan karya ‘Dreamer’ yang sesekali melenguh bebas dengan permainan yang cenderung ritmis namun kental dengan nuansa hening. Di sisi lain, ‘Awang’ yang diangkat dari lagu anak di Kalimantan, kecapi bergerak sibuk di atas gesekan instrumen rebab yang mendesah dan instrumen sarangi yang samar dipadu dengan fundamen dari gitar bas. ‘Image No.3’ sebagai karya penutup menampilkan bentuk motif dua nada di atas instrumen sarangi dan rebab yang membangun struktur dari dua nada yang terus berulang yang seakan perlahan berdiri semarak lewat diskusi ritmis gitar dan kontra bas serta kecapi. Namun di saat lain sarangi dan rebab juga sempat bernyanyi. Permainan harmonik pada cello menambah warna mistik karya ini. Imaji yang coba dibentuk oleh karya ini memang tampak agak samar namun layak untuk disimak, seperti yang ditulis Seta di buku acara, “seperti apa adanya”.

Dinar Rizkianti sebagai komponis wanita sekaligus termuda di tahun ini, mengambil akar musik yang dekat dengannya sebagai seorang mahasiswi Bandung. Karyanya bertajuk ‘Eunteung’ yang berarti cermin bisa jadi menjadi cermin musik Bandung saat ini. Dinar mencoba mengeksplorasi kekayaan musiknya sendiri dengan permainan duet kacapi ala Cianjuran dengan mengelaborasi format degung yang panjang dipadu dengan vokalisi dua pemain kacapi. Formatnya yang tonal sering dihantam dengan permainan riff-riff gitar akustik yang seakan memberi imbuhan harmoni barat di tengah unsur tradisi tarawangsa dan melodi yang berpaut pada dua biolin. Karyanya seakan memberi gambaran musik tradisi di Pasundan metropolitan saat ini yang menuntut musik yang enak-dengar, menenangkan, namun – meminjam istilah asing – ‘sophisticated‘.

Pekan Komponis

Rio Eka Putra tampil lain lagi dengan mengedepankan perbincangan dalam permainan musiknya. Dimulai dengan respon-respon atraktif dari ghost ghecer dengan bunyi-bunyi twank unik yang bersahutan diantara 3 pemain dengan ritme tradisional khas Minang. Tak lama, banjo yang dimainkan oleh Rio Eka sendiri masuk mengambil alih perbincangan dengan laras Minang dan bertanya jawab dengan mandolin yang seakan berjalan beriringan namun sesekali beradu argumen, sembari dibalas dengan rancak oleh ghost ghecer serta desahan pada kacapi yang digesek. Judulnya ‘Kacapak’ yang menggambarkan riak-riak bundar permukaan air akibat benda yang menyentuh permukaannya, nampak begitu jelas di awal yang terdengar sederhana, namun seperti halnya riak air yang semakin melebar, Rio kemudian membangun dengan pergerakan ritmik ghecer yang berpindah ke tiga talempong dengan ritme yang penuh energi yang terus bersahut. Mandolin dan banjo terlihat sibuk bertukar frase bagai berpantun dengan talempong dan berujung pada klimaks yang enerjetik yang menutup acara malam itu.

Berakhirnya pergelaran malam itu, bukan berarti Pekan Komponis Indonesia 2013 ini usai, malahan baru saja dimulai. Acara yang berlangsung hingga Kamis 5 Desember ini akan menjadi tuan rumah diskusi, konser, pameran alat musik dan peluncuran buku. Ya, acara seminggu ini adalah gratis untuk perkembangan seni yang seperti kata Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Irawan Karseno, adalah alternatif yang menyatukan bagi kita semua. Mari kita ramaikan dan belajar bersama, dari hal sederhana kita bangun keindahan…

 

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Titik Temu Tradisi, Malam Kedua Pekan Komponis Indonesia 2013 | A Musical Promenade
  2. Gathuk, Tanpa Pretensi, Malam Ketiga Pekan Komponis Indonesia 2013 | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: