Kabar Terkini

Titik Temu Tradisi, Malam Kedua Pekan Komponis Indonesia 2013


pekan-komponis-flyerWEBLayar merah terbelah di hari kedua pagelaran Pekan Komponis Indonesia dengan tema Instrumen Dawai – Tradisi dan Inovasi. Enam orang musisi mengetengahkan ‘Ammalisi’, karya Hamrin Samad dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Solo. Berangkat dari pola tradisi ala Pulau Salayar yang terbersit pada permainan tiga kecapi dan riff gitar sederhana, musik kemudian seakan berevolusi dalam tatanan yang seakan terus berubah bersama senandung morinkhuur (rebab Mongolia). Drone vokal (nada yang ditahan panjang tidak berubah) mengubah dendang tradisi perlahan menjadi riff-riff pendek di gitar bass yang akhirnya bersambut dengan dendang blues pada biola, gitar dan gitar bass yang bersambut dengan kecapi yang tidak mau kalah berdendang dalam tangga nada blues. Sebuah renungan akan tradisi memang yang terus bergerak dan akhirnya ditutup konklusi disonan. Sekedar iseng atau memang merupakan pertanda gagapnya kita akan percampuran tradisi dan kosmopolis, tiada dari kita yang bisa menjawabnya.

Ya, Selasa malam ini Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, meneruskan acara sehari sebelumnya di Gedung Kesenian Jakarta. Sintesis musik dan eksperimentasi musik tradisi bercampur dengan alur berpikir masyarakat dan musik modern menghasilkan percampuran keindahan yang agaknya berbeda. Adalah karya dari tiga orang komponis muda dari Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar dan Institut Kesenian Jakarta bergantian mengambil panggung untuk mempresentasikan seni mereka di atas panggung gedung pertunjukan tertua di ibukota ini.

Komponis muda Ramasona Alhamd dari Institut Kesenian Jakarta muncul dengan warna yang berbeda. Berangkat dari seni gambang kromong, Ramasona menciptakan ‘Culo’ sebagai kwintet gesek Betawi yang terserap dari tradisi Tionghoa. Erhu bersahut dengan para penampil yang bersahut, dan akhirnya bersahut dalam corak minimalis dengan repetisi pada 2 tehyan yang bersahut seakan improvisatoris namun dilandasi dengan permainan rebi dan siter yang mengingatkan penulis akan kerangka keroncong awal mula. Erhu pun yang seawal menjadi primadona, bergerak untuk mendukung permainan ritme siter. Pada saat pertunjukan perlu diacungi jempol bahwa kelima penampil tampil dengan sangat fokus terlebih dengan kejadian mati lampu di dalam gedung pertunjukan, permainan musik berjalan terus walau dalam keadaan gelap gulita hingga lampu menyala kembali, sebuah konsentrasi yang patut diacungi jempol.

Sebagai penampilan terakhir, giliran ‘Simpang Siur’ karya Yan Priya Kumara Janardhana dari Institut Seni Indonesia Denpasar yang diketengahkan. Komponis sendiri melukiskan bahwa Simpang Siur adalah sebuah lokasi persimpangan jalan yang riil ada di Bali melalui perpaduan kesenyapan dua mandolin yang bertegur sapa perlahan dan terpaut jarak yang begitu jauh. Kesenyapan menjadi pangkal lahirnya keriuhan. Karya pun bertransformasi menjadi  duet biola dan rebab dengan duo mandolin yang kemudian berpencar dalam empat alur polifoni dalam kesatuan ritmis yang kental dengan kehadiran intrikasi poliritme khas Bali yang semakin menekankan ‘Simpang Siur’ yang terkesan berantakan namun tetap memiliki proporsi yang terus berpadu dalam akumulasi energi yang semakin kuat dan cepat hingga hilang pada akhirnya.

Perjumpaan malam itu dalam konser malam kedua Pekan Komponis Indonesia, bisa jadi menawarkan warna tradisi yang begitu kental, dengan pengembangan yang cenderung kembali ke akar. Sesekali semburat musik industri memberi warna yang berbeda dari musik yang digubah. Namun secara umum seringkali perlu pemaknaan lebih dari segi komponis, pemusik maupun audiens untuk membangun imaji dan dimensi bunyi dalam musik yang disampaikan. Konsep haruslah kuat dan menggenggam audiens, termasuk dalam pengembangan ide sehingga tidak serta merta menjadi carut-marut. Sebuah apresiasi karya seni selalu patut untuk dibangun, demikian juga malam ini. Untuk itulah mengapa malam seperti malam ini di mana karya musik baru ditampilkan, selalu menjadi momen bersama untuk mendengarkan dan berbagi.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Gathuk, Tanpa Pretensi, Malam Ketiga Pekan Komponis Indonesia 2013 | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: