Kabar Terkini

Gathuk, Tanpa Pretensi, Malam Ketiga Pekan Komponis Indonesia 2013


pekan-komponis-flyerWEBGathuk, mungkin inilah istilah yang kerap dilontarkan Slamet Abdul Sjukur mengenai karya komposisinya yang dimainkan pada malam ketiga Pekan Komponis Indonesia. Iseng-iseng lelucon dari komponis kawakan ini justru mengajak semua orang secara tidak langsung untuk berpikir lebih cerdas namun sekaligus meninggalkan seluruh prasangka dan kerangka berpikir hanya untuk sekedar merasakan. Dalam karya Game-Land no.5 yang ditulisnya dalam rangka mengenang 150 tahun lahirnya komponis terkenal Prancis Debussy yang konon jatuh cinta pada gamelan. Slamet mencoba merangsang berpikir bahkan dari saat pertama membaca nama komposisi sebagai plesetan ‘gamelan’ sekaligus sarana bermain-main dengan suara.

Bagian pertama yang merupakan permainan tangan dan suara bertajuk ‘Biarkan Bunyi Berbicara Sendiri’ mengajak kita dalam kreasi suara yang tersusun dengan kreatif. Tepuk tangan dengan berbagai variasi suara, suara pemain yang memekik dan bahkan keisengan pada kemanak, terasa begitu menarik. Di bagian kedua, ‘Sungai’ menjadi inspirasi dalam permainan piano yang awalnya berdenting dalam tangga nada pentatonik tetapi juga menggeram, bergaung dan berderik. Pianis berdiri untuk memainkan dawai piano dengan tangan, menjadi sapuan bunyi yang mengalir dalam sepi. Di bagian terakhir berjudul ‘Seandainya’, sang pianis meninggalkan papan nada dan duduk di depan Gong-ageng dan memainkan musik, mengetuk, mengelus hingga meggedor dengan kedua tangannya. Kesan mistis terdengar, seakan Slamet yang mengenyam pendidikan musik di Prancis di tahun 1960-an mengungkapkan inti dari kekaguman Debussy akan suara perkusif manusia, rangkaian permaianan kemong dan sarong serta gaung pamungkas dari gong yang hampir selalu menjadi kesimpulan permainan karawitan Jawa. Akal-akalan dari komponis ini seakan mengajak pendengar untuk berpikir dan terus mencerna suara, sebuah konsep yang sebenarnya sangat kuat dan dikembangkan dengan kental serta dimainkan dengan khusyuk oleh Mira Veronica Soesilo-Ong.

Dalam acara yang digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta ini, karya baru juga diperdanakan, yaitu ‘Suroboyo’ yang dikembangkan dari tembang dhandanggula “Semut Ireng” karya sastrawan Jawa abad 19, Ronggo Warsito. Karya ini sendiri ditulis untuk kwintet, yaitu piano, horn, flute, cello dan solo vocal alto. Sebelum solo alto menembangkan Semut Ireng dalam bahasa Jawa dalam laras pelog, terlebih dahulu horn memecah waktu dengan lirih permainan sepi yang lambat. Kemudian semua berpadu dalam struktur yang jarang-jarang memainkan nada dan bebunyian, sembari seluruh instrumentalis bernyanyi mendaraskan potongan-potongan suku kata yang menyusun kalimat tembang yang kerap disetarakan dengan ramalan bangsa Jawa yang secara linguistik tersusun dengan sintaks yang tepat namun secara makna menimbulkan multi persepsi dan penafsiran. Bertindak sebagai pengaba malam itu adalah Budi Utomo Prabowo.

IMG_3493Laga pembuka konser Rabu ini juga tidak kalah menarik. Pesinden Peni Candra Rini menembang diiringi Sentana Art Ensemble pimpinan Dwi Nugroho. Sentana Art sebagai pembuat instrumen sekaligus peserta pameran Organologi Instrumen Dawai dalam rangkaian ini secara menarik menampilkan permainan musik mereka yang sungguh menyita perhatian. Tanpa embel-embel komponis, karya ‘Balung’ dan ‘Sekar’ malah terdengar begitu segar dan memikat. Dengan barisan pemusik yang mayoritas dari Makassar, permainan terasa begitu bertenaga mengiringi kecakapan Peni menembang dengan eksekusi yang begitu terkontrol namun berekspresi dengan lepas. Kendang yang bersahutan dalam improvisasi dengan vokal membuat pendengar menahan nafas dan terenyuh. Saron, kecapi, sitar, gitar bas, set kendang drum, biola, rebab semuanya hasil karya produksi Sentana Art dimainkan dengan cakap. Heran bahwa tanpa embel-embel komponis, pemusik dari Sentana bersama Peni malah terkesan berhasil mengawinkan tradisi, modernitas dan dramaturgi yang mengundang decak kagum. Di satu sisi, nyata bahwa Sentana bukan hanya membuat produk alat musik, tetapi juga menempanya berdasarkan kecintaan yang kuat akan seni musik itu sendiri.

Di atas kertas, Slamet Abdul Sjukur membuat permainan bunyi menjadi ciri utama yang dibungkus dalam misteri multitafsir yang disusun atas dasar struktur Rasio Emas yang dipikirkan secara menyeluruh. Namun memang kematangannya dalam menyusun bebunyian memancing penonton untuk terus berpikir dan hanyut dalam renungan, untuk masuk dalam alam yang sederhana namun seakan tidak terselami – karya yang bukan untuk serta-merta dihakimi, tapi untuk dicerna dan dibawa pulang. Di sisi lain, Sentana Art Ensemble dan Peni berbicara dalam bahasa musik yang terkesan tanpa pretensi mampu menyuguhkan hati yang memikat dan pertunjukan yang membuat penonton terbuai dalam berbagai nuansa emosi. Ide musikal tidak terkesan dipaksakan namun mengalir membentuk penampilan yang berkelas malam itu. Malam ini benar adalah pertunjukan yang istimewa.

Baca juga review:

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: