Kabar Terkini

Pendidikan Musik Anda Berhasil?


Sering kita dibombardir bahwa pendidikan musik adalah soal mendidik dan melatih rasa. Bahwa mempelajari musik berarti mencoba untuk mengolah rasa yang tertanam pada musik ataupun menelaah perasaan diri sendiri. sebuah pernyataan yang menurut saya sama sekali tidak salah, tapi apakah memang hanya itu? Oh tidak, banyak ahli mengatakan bahwa mempelajari musik meningkatkan kecerdasan kognitif seseorang dan penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif bermusiklah yang mencerdaskan, sedangkan penelitian lain mengambil kesimpulan bahwa hanya mendengarkan musik saja sudah mencerdaskan. Tapi apakah memang demikian?

Pendidikan musik adalah sebuah pendidikan yang tidak hanya berujung pangkal pada kualitas emosi dan perasaan semata, bukan juga berujung pada sebuah kecerdasan kognitif seseorang. Klaim bahwa nilai matematika menjadi tinggi setelah mempelajari musik, mungkin ada benarnya. Namun, pendidikan musik bukan serta merta berisik soal rasa dan pikiran, ada hal esensial yang sebenarnya harus dibangun dalam siswa-siswi yang mengikuti pendidikan musik sejak dini, yaitu dedikasi, tanggung jawab, dan apresiasi.

Walaupun hal ini penting, tapi nampaknya sering terlupakan dalam dunia pendidikan musik kita. Kadang kala saking parahnya hanya bertujuan pada peningkatkan skill bermusik semata, sesuatu yang jelas nampaknya penting, akan tetapi semu ketika dilihat dari kacamata orang banyak. Ya, semu karena skill bisa datang dan pergi. Ketika ia rajin berlatih mungkin skill akan meningkat, ketika malas skill berkurang. Dan seringkali seorang siswa tidak tahu apa yang sedang ia kerjakan ketika mempelajari sebuah etude (karya yang khusus ditulis untuk meningkatkan teknik bermusik), sesuatu yang tentunya penulis pernah rasakan. “Musik kok cuma ngulang-ngulang gini!” itu yang ada di benak saya ketika itu, “Apa sih bagusnya?”

Tapi pada saat yang sama, secara tidak sadar penulis belajar untuk mengapresiasi. Bahwa setiap musik ditulis pasti dengan maksud dan keindahan, itu yang harus langsung dapat ditangkap oleh seorang guru dan menularkannya pada para murid, terlebih pada mereka yang berada pada usia remaja ketika rasa bosan dan keinginan memberontak semakin kuat. Apresiasi ini bukan hanya berbicara soal apresiasi musik semata, tapi apresiasi secara umum, bukan diri sendiri saja, tapi berusaha juga untuk mengapresiasi kerja keras orang lain. Kemauan untuk mengapresiasi orang lain merupakan bentuk tenggang rasa dalam dunia yang haus akan sistem merit, di mana pribadi dinilai berdasarkan kontribusinya di dalam masyarakat. Dan kemampuan seseorang untuk mengapresiasi hasil karyanya sendiri dan orang lain adalah kunci jika ia ingin berbaur dalam masyarakat modern saat ini.

Selain itu, semangat lain yang coba ditumbuhkan dalam bermusik adalah dedikasi. Jujur saja, tidak semua bentuk pendidikan mengutamakan dedikasi, padahal pemupukan dedikasi sejak dini adalah salah satu karakteristik pendidikan yang teramat penting. Terutama di Indonesia, negara di mana pendidikan seni seringkali menjadi anak tiri, pendidikan musik sejak dini harus selalu bercirikan dedikasi akan bentuk kesenian itu sendiri yang tercermin dalam keinginan untuk selalu melakukan yang terbaik untuk seni itu sendiri. Di dalam pendidikan sekolah yang ketemu setiap hari saja, tidak tentu menghasilkan bibit-bibit yang berdedikasi pada pilihan hidupnya, apalagi pendidikan musik yang pada tahap pemula seringkali hanya bertemu seminggu sekali atau dua kali, dan kemudian menghabiskan hidup di rumah untuk berlatih secara mandiri mengikuti arahan dari guru yang tentunya tidak berada disamping untuk mendampingi di rumah. Dari sini jugalah sebuah bentuk tanggung jawab pribadi juga harus dibentuk. Bersyukur bahwa musik adalah bentuk seni yang transparan, ketika seorang tidak berlatih/belajar dengan cukup, penangkapan dan eksekusinya akan dengan jelas terlihat, sehingga dengan cukup mudah bisa dirasakan dan ditangkap apabila seseorang kurang berdedikasi untuk mengembangkan dirinya. Bentuk kecintaan seperti itu yang seringkali terlupakan dalam pendidikan musik. Dan ketika masuk dalam kehidupan yang lebih umum, dedikasi akan suatu hal serta tanggung jawab adalah sebuah nilai yang sampai saat ini penulis lihat sebagai nilai tambah dari seseorang.

Masalahnya tidak semua insan pendidik sadar betul bahwa nilai-nilai dedikasi, tanggung jawab dan apresiasi itu sebagai nilai sari yang harus diturunkan kepada murid-murid. Dan acap kali kita bisa menilai apakah pendidikan musik itu berhasil atau tidak, bukan dari seberapa mahirnya seseorang memainkan alat musik, bukan pula selera musiknya yang selangit, namun seberapa berhasilkah membentuk pribadi-pribadi yang bertanggung jawab dan berdedikasi pada hal yang ia tekuni, baik itu musik ataupun bidang lainnya. Pun kecintaannya pada manusia dalam tindakan-tindakan yang apresiatif pada hasil karya orang lain, juga menjelaskan seberapa pribadi tersebut mengambil nilai dari pendidikan musik yang pernah ia tekuni.

Ujung-ujungnya, merugilah anda yang lupa akan ketiga hal tersebut, karena barangkali anda juga melupakan apa buah dari pendidikan musik itu sendiri, ataupun bahkan buah dari pendidikan secara umum.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: