Kabar Terkini

Tahun Baru – Tahunnya Jiwa Muda


971692_10151750389610882_2025831338_n2014 ini dibuka dengan Jakarta New Year’s Concert yang diadakan oleh Yayasan Musik Sastra Indonesia. Sedari penyelenggaraannya setiap tahun dari tahun 2006, baru kali pertama penulis mendapat kesempatan untuk menyaksikan secara langsung.

Konser ini pun secara khusus mengetengahkan karya-karya komposisi dari sang direktur musik, pianis sekaligus komponis Ananda Sukarlan. Mengambil tema “Juvenum”, pagelaran kali ini memang mengetengahkan secara khusus talenta-talenta muda yang bersama sang komponis membawakan karya-karya komposisinya. Pianis muda Randy Ryan, biolinis Giovanni Biga, soprano Isyana Sarasvati dan tenor Nikodemus Lukas Hariono adalah beberapa musisi muda berusia di bawah 20 tahun yang berkolaborasi membawakan karya-karya ini. Acara ini pun dimeriahkan oleh Nusantara Symphony Orchestra dan konduktor kawakan Edward van Ness serta paduan suara garapan Indra Listianto, Svaditra-Bandung Chamber Choir.

Dibuka dengan permainan Djitron Pah and Friends dengan medley pada Sasando dan perkusi, pagelaran hari ini secara umum mengetengahkan ide nasionalisme sebagai inti dan garis besar konser yang diselenggarakan di Soehanna Hall Energy Building. Babak pertama diapit dengan karya solo piano Rhapsodia Nusantara No.5 dan No.8 yang mengetengahkan potongan dan variasi dari lagu daerah Marencong-rencong, Anging Mamiri dan O Ina Ni Keke, komponis Ananda Sukarlan menunjukkan kefasihannya sebagai seorang pianis kawakan dengan teknik yang tinggi. Di antara melodi dan modulasi terselip serpihan-serpihan frase pianistik virtuos yang mengingatkan penulis pada komponis romantik Franz Liszt. Soprano Isyana Sarasvati tampil dengan meyakinkan dengan penguasaan panggung yang baik dan teknik vokal yang tergolong tebal untuk seorang seusianya. Tenor Nikodemus Lukas Hariono juga tampil dengan pendalaman yang baik. Keduanya membawakan Tiga Sajak Pendek dari sastrawan Sapardi Djoko Damono.

Di babak kedua giliran Nusantara Symphony Orchestra menjadi tuan rumah dipimpin bergantian oleh Ananda Sukarlan dan konduktor residen Edward van Ness. Bergantian tema nasionalisme berkumandang berturutan lewat paduan suara Svaditra dan karya “Bentangkan Sayapmu, Indonesia!” dan karya “Selamat Pagi, Indonesia” yang dibawakan duet Isyana dan Lukas sebagai pemenang Kompetisis Vokal Nasional “Tembang Puitik Ananda Sukarlan 2013” diiringi orkes yang cukup kondang di tanah air ini. “Fons Juventatis” mengentengahkan solis piano Randy Ryan yang sekarang menimba ilmu di Juilliard, New York. Bersama NSO, pianis muda ini menjelajah keyboard dengan teknik pianistik tinggi dengan eksekusi pentatonis yang membutuhkan ketelitian permainan. Giovanni Biga pun dengan bersemangat memainkan biola pada nomor Fantasia “Wanita” yang mengambil tema dari lagu “Wanita” karya Ismail Marzuki. Terlihat bahwa memang secara teknik biolin, karya ini memang menantang dengan eksekusi yang tidak lazim, namun Biga membawakannya dengan konsentrasi penuh. Sedang konser ditutup dengan meriah oleh nyanyian “Krawang-Bekasi” yang diangkat dari karya puisi terkenal Chairil Anwar, dibawakan oleh Svaditra dan Nikodemus Lukas.

Sayangnya karena kondisi Soehanna Hall yang sebenarnya bukan diperuntukkan bagi orkes, orkes terpaksa untuk bermain di lantai penonton dengan karpet yang cukup tebal, sedang solois di atas panggung di belakang orkes. Untunglah akustik aula ini cukup baik sehingga suara orkes terasa penuh bagi pendengar di baris belakang. Namun agaknya Biga dan Randy kurang diuntungkan karena walaupun menggunakan pengeras suara, agaknya secara posisi di belakang orkes mengikis karakter instrumen masing-masing yang tertelan dengan barisan orkes 37 orang dengan seksi gesek, tiup kayu, tiup logam dan perkusi yang cukup lengkap.

Gaya komposisi Ananda Sukarlan yang penuh kejutan kental terasa pada karya-karyanya yang ditampilkan. Kegemarannya untuk merambah wilayah nada dan modulasi (perpindahan nada dasar) sangat terlihat melalui resolusi chordal yang seakan terus bergerak. Orkestrasi yang dikerjakannya bersama asisten orkestrasi Vinson Vivaldi beberapa kali mengingatkan penulis pada tekstur musik film Amerika yang ringan namun cukup rimbun, sedang di beberapa tempat lainnya terdengar seperti rangkaian untaian iringan yang berpindah dari satu instrumen ke instrumen lainnya dengan lincah.

Juvenum, yang mengambil bahasa Ananda Sukarlan sebagai “Brondong” memang mengetengahkan jiwa muda. Jiwa muda di tahun 2014? Mungkin itu yang kita butuhkan untuk membumbui nasionalisme kita yang bisa saja kian hari kian usang.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Tahun Baru – Tahunnya Jiwa Muda

  1. tentang svaditranya bagaimana

  2. Eksekusi secara umum bagus dan cukup rapih, svaditra terlihat lumayan siap, nanun sepertinya perlu memberikan perhatian lebih pada diksi sehingga pengucapan mudah dimengerti dan bukan hanya sekedar proyeksi suara yg baik saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: