Kabar Terkini

Empat Saxofon, Empat Wanita, Testimoni Chord Pertama


Syrene Sax

Sedari nada pertama sudah terbaca akan betapa indah konser malam kemarin di Erasmus Huis. Chord Bes mayor kemilau dengan warna keemasan dengan kemegahan segemilang organ pipa seakan menjadi pembuka yang mengejutkan sekaligus menakjubkan untuk konser malam kemarin di Erasmus Huis. Betapa tidak, keempat nada yang membentuk chord pertama itu adalah juga tanda lahirnya sebuah genre musik baru pada masanya, kuartet saxofon. Adalah karya Premier Quartuor op.53 dari Jean-Baptiste Singellée yang ditulis tahun 1858 membuka konser semalam dari Syrène Saxofoon Kwartet dari Negeri Belanda yang sekaligus membuka rangkaian program dari pusat kebudayaan Belanda ini.

Selasa malam itu, publik menyaksikan kepiawaian empat orang wanita cantik peniup alat musik yang diciptakan oleh Adolphe Sax, Femke Ijlstra pada saxofon soprano, Lotte Pen pada saxofon alto, Annelies Vrieswijk pada saxofon tenor dan Aukelien Kleinpenning pada saxofon bariton. Ya, keluarga alat musik tiup yang sekarang lebih identik dengan musik jazz dan easy-listening tampil dalam format lengkap kuartet sebagai instrumen musik klasik.

Sebagai salah satu keluarga termuda dari instrumen tiup dan dipatenkan pada tahun 1846, tidak banyak karya klasik yang memang ditulis khusus untuk instrumen ini. Untuk itulah Annelies dan Aukelien – keduanya anggota dari kuartet ini, mengaransemen karya-karya kuartet gesek untuk dimainkan di atas instrumen tiup logam ini. Adalah String Quartet Op. 1 No.2 karya Joseph Haydn yang dimainkan malam itu dalam bentuk aransemen untuk 4 sax. Sebagai sebuah karya kuartet gesek awal mula – sebagaimana diciptakan oleh Haydn, karya ini sebenarnya begitu menantang untuk pemain instrumen tiup yang memiliki karakteristik berbeda dengan instrumen gesek. Namun demikian kuartet ini tampil dengan begitu mengesankan dengan pengkalimatan yang detail serta permainan yang dinamis penuh nuansa. Belum lagi panjang nafas yang dibutuhkan untuk mengeksekusi musik yang seharusnya dibuat untuk instrumen gesek yang seringkali lebih lincah dan bisa berpanjang-panjang kalimat. Dari permainan ini terlihat sekali bagaimana kepiawaian kuartet ini membangun arsitektur karya dengan penempatan yang pas. Permainan penuh nuansa juga disajikan lewat karya String Quartet no.19 – KV465 dari W.A. Mozart, dari kesenduan hingga keriaan rondo. Terlihat sungguh bagaimana keempatnya menjalin nada dan harmoni tanpa kehilangan kontrol. Saxofon pun terasa memiliki ekspresivitas yang tinggi, dari nada rendah yang bergemuruh hingga nada tinggi yang cemerlang, semuanya tereksplorasi dengan menawan.

Selain karya-karya kuartet gesek, kuartet yang dibentuk oleh lulusan konservatori Amsterdam dan Utrecht ini juga menjelajah musik yang khusus ditulis untuk sax kuartet seperti Songs for Tony karya komponis kontemporer Michael Nyman yang ritmis yang banyak menggali melodi dari saxofon alto. Mereka bahkan memainkan karya klasik yang lebih menantang dan bertekstur tebal seperti karya untuk piano solo dan orkestra modern. Dua diantaranya mereka bawakan malam ini yaitu karya Rachmaninoff ”Rhapsody on a Theme of Paganini” dan juga karya ”Rhapsody in Blue” yang digubah oleh Gershwin. Sebagai repertoar standard orkes dan piano, kedua karya ini ditranskripsikan untuk empat buah instrumen saxofon saja, sebuah perlakuan yang pastinya menarik.

Aransemen Aukelien untuk karya komponis Rusia Rachmaninoff, sungguh menunjukkan karakter tema dan variasi tema yang menjadi ide dasar dari karya ini. Satu kalimat tema yang oleh Rachmaninoff akhirnya bisa digubah menjadi variasi 30 menit sungguh menarik. Dalam versi kuartet saxofon, Syrene berhasil mempertunjukkan rangka dasar yang membentuk karya ini, di luar orkestrasi asli yang sedemikian bergelora dan ramai seperti yang ditulis Rachmaninoff. Rangka dasar ini semakin menegaskan intisari dari karya post-romantik yang ditulis tahun 1934 ini, tanpa mereduksi maknanya secara umum. Kelincahan permainan sax begitu terasa, dipadu dengan fleksibilitas teknik permainan mereka. Permainan dinamika yang lembut nyaris tidak terdengar muncul dengan nyata, sedang keraspun tidak terdengar kasar malahan memanjakan telinga. Tonguing (penggunaan lidah) dan fingering (teknik jari) yang lincah dan kalimat panjang dengan nafas sirkular (menarik nafas sembari meniup instrumen) berpadu dalam intonasi yang bersih menjaga kesinambungan musikal karya.  Demikian juga dengan Rhapsody in Blue yang diaransemen oleh pemain saxofon Belanda, anggota Aurelia Saxophone Quartet, Johan van der Linden, berhasil membawakan nafas bebas blues dan jazz Amerika dari karya asli yang ditulis untuk piano dan orkes yang menonjolkan seksi tiup ini dan permainan improvisasi khas jazz di awal abad 20 lalu.

Syrene Sax3Permainan mereka yang unggul dipadu dengan kemauan mereka untuk membangun komunikasi yang hangat dengan penonton, membuat auditorium berkapasitas 340 orang yang penuh itu riuh. Agaknya Syrène Saxofoon Kwartet sungguh berhasil memukau hadirin sesuai namanya yang diambil dari Siren, makhluk laut dalam mitologi Yunani yang memukau para pelaut lewat suara nyanyiannya. Namun alih-alih seperti pelaut yang terpesona hingga karam kapal, empat orang musisi wanita muda ini membekali pulang penonton dengan sukacita, terlebih dengan lagu ”Yamko Rambe Yamko” sebagai encore yang mereka aransemen dengan begitu hidup. Seperti testimoni chord pertama, sungguh malam yang indah!

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: