Kabar Terkini

Seni Tanpa Komentar, Bisakah?


Hidup itu, Tuhan yang ciptain, kita yang jalani, orang lain yang komentarin  ~Ananda Sukarlan

Inilah sentilan yang sempat terdengar dari pianis dan komponis Ananda Sukarlan dalam Jakarta’s New Year Concert yang baru lalu yang diselenggarakan di Soehanna Hall yang mengundang gelak tawa penonton. Sesuatu pernyataan yang benar sedari dahulu namun semakin valid dewasa ini. Dengan budaya komentar yang diperlancar dengan hadirnya media sosial, komentar dan dikomentari adalah suatu hal yang bahkan tidak bisa dilepaskan. Beberapa individu sibuk berkomentar, sedang beberapa pihak lain sibuk mencari-cari sensasi agar bisa dikomentari orang lain. Di lain sisi, ada beberapa pihak yang memilih berdiam diri di sudut kehidupan, menahan diri agar tidak berkomentar ataupun dikomentari.

Namun saat ini saya sungguh tertarik untuk mengupas pernyataan yang disampaikan oleh seniman ini, terutama berkaitan dengan Seni itu sendiri. Ya, dan tentu saja apabila pembaca ingin melihat ini sebagai sebuah komentar, tentu saja kupasan ini adalah sebuah komentar, valid. Mampukah seni berdiri sendiri tanpa unsur komentar?Walaupun terkandung sentilan dalam ucapan Ananda Sukarlan yang mencoba mengurangi peran komentar dalam seni, namun nyatanya seni itu sendiri adalah bentuk sebuah komentar dari seorang seniman. Karya seni secara nyata adalah bentuk komentar terhadap kehidupan itu sendiri, sebuah opini yang disampaikan dengan cara pernyataan yang berbeda dengan sedikit alterasi pada bentuk dan media. Maka tidak heran bahwa banyak seniman adalah komentator ulung atas hasil karya seni, terlebih karya yang dekat dengannya ataupun keahliannya.

Dan lebih daripada itu, komentar adalah bentuk nyata dari sebuah apresiasi seni. Seni tanpa bentuk komentar adalah seni yang hidupnya terseok-seok. Memang seringkali banyak seniman berpikir bahwa karyanya akan membangkitkan perasaan yang mendalam atau bahkan menambah kekayaan insan di dalam hati penikmatnya sebagai sebuah opini. Namun itu adalah sebuah opini seringkali tidak mudah ditangkap apabila kita tidak melihatnya dalam bentuk komentar, baik komentar baik dalam bentuk pujian, komentar netral dalam bentuk apresiasi dan masukan, atau bahkan komentar negatif dalam bentuk cercaan.

Opini baik maupun buruk adalah salah satu daya dari perkembangan seni itu sendiri. Bahwa masih ada yang ingin berkomentar berarti bahwa seni masih mendapat perhatian dan hati di masyarakat. Nyatanya, seni hanya akan bisa berkembang dan mendapat dukungan apabila bangkit komentar-komentar baik dan sehat di sekitarnya.

Namun lucunya kita seringkali terlalu sibuk untuk menangani komentar buruk dan bahkan mengasosiasikan komentar dengan cercaan. Dan lupa bahwa pujian atau bahkan tanda jempol dan retweet di media sosial adalah bentuk dari komentar baik berupa dukungan untuk si penerima komentar tersebut. Seringkali karena terlalu terokupasi dengan komentar negatif, kita lupa bahwa komentar sehat itu ada, pujian-pujian dari media sosial, komentar langsung yang disampaikan secara pribadi, berita dari mulut ke mulut, liputan dari media – semua adalah bentuk komentar yang ada.

Nyatanya Seni dan apresiasi, baik kepada sang seniman maupun hasil karya seni itu sendiri, tidak bisa dilepaskan dari budaya komentar. Tanpa komentar kita akan sulit mengetahui imbas dari kerja keras yang sudah kita lakukan untuk berkembang dan mencipta, bentuk opini apa yang terbentuk atas kehidupan berkesenian kita. Seni tanpa komentar pada dasarnya adalah seni yang hampir mati, karena seni tersebut hanya memenuhi hasrat pribadi si pencipta tanpa berimbas kuat pada penikmatnya, tanpa apreasiasi, tanpa opini. Untuk itulah dunia komentar yang sehat dan membangun harus kita bangun bersama, dan jangan sampai menjauhkan diri dari budaya komentar itu sendiri. Kita pun harus sadar bahwa komentar baik maupun buruk adalah sebuah konsekuensi dari hidup.

Masih maukah hidup berkesenian kita diam tanpa komentar, bahkan komentar baik sekalipun? Mari kita pilih bersama.

~mungkin lain kali kita coba membahas bagaimana membangun dunia komentar yang sehat

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Seni Tanpa Komentar, Bisakah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: