Kabar Terkini

Abad ke-18 dalam Wajah Piano Modern Edna Stern


IMG_Edna Stern1Mengikuti jejak pianis-pianis romantik di zaman keemasannya di awal abad ke-20, bisa jadi bukanlah pilihan yang banyak diambil oleh pianis masa kini. Namun semalam di Goethe Haus, Institut Français Indonesia mendatangkan pianis Belgia-Israel Edna Stern yang tampil seakan menjejaki kembali langkah-langkah pianis lampau.

Dengan mengambil repertoar dari abad ke-18, Abad Pencerahan, pianis wanita yang menimba ilmu di Brussel, Basel dan Tel Aviv ini seakan mencoba menyelami sisi lain dari komponis abad tersebut seperti Couperin, Haydn, Mozart dan Galuppi. Belajar dari raksasa piano saat ini seperti Argerich, Zimerman, Fleischer dan de Larrocha, dosen piano di Royal College of Music London ini mengambil perspektif yang sungguh berbeda dari kebanyakan pianis.

Memainkan Ordre 25eme de clavecin karya Couperin, dua Sonata dari Galuppi (C minor dan D minor), Stern bukan hanya memainkan karya kibor Prancis saja, tetapi juga komposisi Austro-Jerman Fantasia dalam D minor, Sonata no.11 dan Variasi “Ah, vous dirai-je maman” dari Mozart, karya Haydn Variations in F minor Hob XVII/6 dan ditutup dengan karya penghabisan abad itu oleh Beethoven lewat Sonata op.13 “Pathetique”.

Sebagai seorang pianis yang juga mempelajari pianoforte, Edna Stern ternyata tidak mengadopsi suara pianoforte kuno dalam permainan piano modern sama sekali ke dalam karya-karya abad ke-18 yang sedikit banyak diciptakan untuk instrumen pianoforte yang memiliki karakteristik berbeda dengan piano modern. Malahan ia seakan menanggalkan konsep bunyi pianoforte yang ringan, apa adanya namun rigid dan mencoba memainkan karya-karya Mozart, Haydn, Couperin dan Galuppi dengan memaksimalkan potensi piano modern.

Permainan warna dan tone yang beraneka ragam disertai keberanian mengeksekusi permainan pedal sustain seakan membawa komponis-komponis ini terbang untuk mengenal dan mengeksplorasi kekayaan suara piano modern yang secara historis tidak mereka kenal. Terlebih dengan sentuhan luar biasa dari Edna seakan berusaha berandai bagaimana apabila Mozart sempat mengenal piano modern yang saat ini Edna mainkan, dan kita dewasa ini gunakan. Kelincahan jarinya mengekskusi nada dengan berani, tajam dan luwes, tanpa jatuh dalam ekstrim dinamika yang berlebih. Pianis yang telah berkolaborasi dengan banyak orkes ternama ini selalu sempat mengambil waktu dalam rubato dan kekayaan sustain piano modern yang asing namun bersesuaian dengan konteks musikal.

Jujur saja pendekatan ini bukan pendekatan yang populer, banyak penonton bertanya-tanya mengapa ia mengambil pendekatan yang sedemikian jauh, terlebih apabila penonton menyadari bahwa pianis ini pun juga mendalami pianoforte. Kesalahan pendekatan adalah suatu kesalahan yang tabu untuk diambil oleh seorang pianis kenamaan yang paham betul dengan karakter instrumen pianoforte abad-18, dan bahkan seorang akademisi. Dan apabila kita menilik lebih jauh, pendekatannya untuk karya-karya ini sedemikian romantik hingga hampir mustahil apabila menggunakan pianoforte.

Namun agaknya Edna tampil dengan argumentasi yang valid. Sebagai seorang seniman yang tampil dengan instrument piano modern. Bukan mencoba meniru suara pianoforte, ia memilih memainkan karya-karya dengan memaksimalkan karakter instrument yang ia mainkan. Suara lembut dan manis digarap maksimal dengan dipadu gaung pedal dan kalimat yang panjang terjaga, semua dieksekusi dengan citarasa.

Alhasil, penonton walaupun bertanya-tanya dalam hati tetap terkesima dengan permainannya. Dengan sambutan yang ramai, penonton meminta pianis kelahiran 1977 ini untuk tampil kembali di atas panggung. Dan Edna pun dengan penuh wibawa membawakan 3 buah encore yang mengundang decak kagum. Karya Chopin, Prokofiev, dan Scriabin membawa Edna Stern dan piano Grotrian di auditorium itu kembali ke khitahnya di abad-19 dan 20, semakin menguatkan keperkasaan Edna sebagai seorang pianis dan menuai nafas lega dari penontonnya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: