Kabar Terkini

Musik Klasik tidak Mengalun di Gedung Konser?


Banyak inisiatif untuk membawa musik klasik untuk keluar dari panggung gedung konser, ataupun auditorium formal. Beberapa musisi telah mencoba beberapa cara untuk keluar dari gedung konser. Museum, galeri, taman, Car-free day, sekolah, pusat perbelanjaan adalah sedikit dari sekian banyak venue yang telah dijajaki. Pertanyaannya memang kembali lagi ke persepsi, apakah memang pertunjukan yang mencoba menjangkau langsung ke publik ini pantas dianggap setara dengan pertunjukan di dalam gedung konser?

Konser-konser yang dilakukan untuk menjangkau lebih banyak audiens memang awalnya diadakan sebagai bentuk dari tanggung jawab sosial personal ataupun entitas seni. Berusaha menjangkau mereka yang belum pernah mendengarkan musik-musik yang mereka bawakan tanpa tujuan komersial adalah tujuan semula dari konser-konser ini. Dan seringkali, ini menjadi sebuah event yang menarik untuk komunitas-komunitas yang mungkin sebelumnya belum mengenal musik ataupun musisi yang memperdengarkannya.

Mungkin kesemuanya ini beralih kepada persepsi. Untuk memainkan musik di luar gedung konser jelas merupakan sebuah langkah mengambil resiko. Ya, dengan meninggalkan lingkungan yang terkontrol, musisi dibawa menuju ruang publik yang bising dan seringkali tidak mencukupi secara fasilitas untuk bermain musik dengan apik. Gangguan-gangguan mungkin saja hadir dalam pertunjukan, dari gangguan akustik, sampai dengan kenyamanan penonton.

Alhasil, seringkali tertangkap bahwa konser jangkauan macam ini memiliki kualitas yang lebih rendah daripada konser di gedung konser. Dan bahkan bagi penonton yang mengerti musik, kekurangan dalam permainan musik yang disebabkan arena outdoor seringkali berujung pada pemakluman. Namun parahnya seringkali ini menjadi alasan juga untuk musisi untuk permisif kepada kualitas. Lingkungan tampil yang kurang mendukung akhirnya menjadi alasan untuk tidak mempersiapkan sebaik mungkin. “Bukan pada kondisi terbaik…” sepertinya menjadi kilah terjitu untuk semua.

Namun nyatanya tidak bisa demikian. Seni sebagai sebuah hasil proses panjang, dan kondisi seharusnya selalu menjadi bahan pertimbangan dalam sebuah persiapan pertunjukan. Adalah alasan yang tidak masuk akal apabila penampilan di luar gedung malah dipersiapkan minim, malahan harus lebih matang, karena banyak faktor luar yang akan muncul dan mungkin mendera. Faktor-faktor yang tidak pernah muncul dlm konser di dalam auditorium justru akan muncul di luar gedung konser. Tapi bukan alasan untuk menurunkan kualitas pertunjukan itu sendiri. Malahan adalah baik apabila mampu memaksimalkan faktor-faktor luar tersebut menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. Dan tentu saja, setiap penonton berhak untuk berekspektasi yang terbaik dari pertunjukan tersebut.

Pun akhirnya bisa kita lihat, bahwa sudah seharusnya semua berpersepsi, konser dimana pun itu, dalam ataupun luar ruangan, gedung konser yang layak ataupun dalam bengkel sempit, semuanya adalah bentuk kerja yang tidak bisa setengah-setengah dan seharusnya ekuivalen satu dengan yang lainnya sebagai sebuah kegiatan aktif berkesenian yang nilainya setara. Seni tidak menjadi lebih adiluhung apabila ditempatkan di dalam kotak kaca, tidak juga lebih rendah kalau dimainkan di jalur inspeksi pinggir sungai.

Dan sebagaimana pertunjukan di dalam gedung konser maupun di luar gedung konser, penonton tidaklah boleh pulang dengan tangan hampa. Musik memperkaya insan pendengarnya, adalah sebuah kenicayaan. Bila tidak, mungkin memang seharusnya musisi yang tampil belajar, berlatih dan mempersiapkan pertunjukan dengan lebih giat lagi, dan secara konsep digodok lebih mendalam lagi.

~corat-coret renungan setelah konser taman OSUI Mahawaditra

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: