Kabar Terkini

Setuju Seni adalah Gaya Hidup Mahal?


Menarik bahwa mulai bermunculan sebuah hiburan mahal di Jakarta. Dan jawaranya ternyata adalah musik klasik. Ya, musik klasik didaulat sebagai hiburan mahal, dan sukses didaulat sebagai hiburan berkelas di Jakarta. Bagaimana tidak, baru saja kita melihat sebuah konser musik klasik dengan mendatangkan 5 orang pemain musik kamar saja, sudah dibanderol minimal 1.5 juta sampai 5 juta rupiah per helai tiketnya, untuk menonton satu pertunjukan konser.

Classical Jakarta1

Menarik bahwa oleh penyelenggara yang berkunjung dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik yang paling glamor dan naik kendaraan termewahnya. Dan ditekankan bahwa ini adalah sebuah event gaya hidup, bukan sekedar konser dengan pemain tingkat dunia.

Membuat konser untuk musisi dunia boleh saja, dibanderol harga mahal dan apabila memang ada konsumennya mengapa tidak. Itu sah-sah saja. Apalagi dengan niatan baik untuk mendukung siswa-siswi seni kurang mampu yang ingin belajar musik lebih mendalam. Terlebih dengan masterclass yang diadakan oleh penyelenggara untuk siswa-siswi musik di Jakarta untuk belajar pada para seniman yg datang, sebuah keuntungan yang harus diwujudkan secara nyata dan dapat dirasakan efeknya dalam perkembangan seni di tanah air. Itulah yang ditulis oleh penyelenggara. Semoga memang komitmen ini benar dilakukan dan bukan sekedar janji-janji pemanis pemasaran belaka.

Great works of art are only great because they are accessible and comprehensible to everyone. ~Leo Tolstoy, What is Art?

Memang dahulu musik seni adalah musiknya kalangan aristokrat. Tapi apakah ide tersebut masih berlaku di masa kini? Siapa yang sungguh tahu. Ketika mereka yang di dunia Barat sibuk membuka akses musik klasik untuk semua kalangan, ternyata di Indonesia memiliki persepsi pasar yang berbeda untuk musik seni atau istilah kita musik klasik, sebagai gaya hidup/hiburan kelas atas. Agak kontradiktif memang. Tapi apabila memang persepsi kita adalah “Musik seni sebagai hiburan kelas atas” wajar saja ada promotor yang siap memfasilitasi – Hukum Supply and Demand di pasar juga berlaku di dalam dunia seni.

Toh memang harus diakui bahwa, tidak ada seni  berkualitas yang murah. Seni sebagai hasil akal budi dan kerja keras memang sepantasnya mahal. Ya, mahal. Di luar sana, ketika isu harga membatasi akses, negara turun tangan untuk membukakan akses lewat dukungannya kepada institusi seni, supaya harga tiket pertunjukan menjadi murah. Entah lewat kebijakan mendukung kegiatan filantropis, ataupun kucuran dana langsung pemerintah dalam bentuk subsidi. Tapi di Indonesia, sepertinya pendekatan itu masih cukup jauh dari harapan akan terwujud. Jadi, tiket mahal adalah keniscayaan dari sebuah pertunjukan seni yang berkualitas.

Art belong to humanity. Without this we are animals. We just fight, we live, we die. Art is what makes us human ~Mikhail Piotrovsky, Director, Hermitage Museum

Namun agaknya sebagai pekerja dan pengamat seni, penulis masih agak terganjal dengan pernyataan Classical Jakarta bahwa yang datang dianjurkan dengan pakaian terglamor dan kendaraan paling berkelas. Apalagi dengan pernyataan “… not just about the best musicians in the world, it is a lifestyle event.” Ternyata seni di mata penyelenggara hanya sejauh gaya hidup yang bisa diikutsertakan. Prestise dan gaya itulah yang diutamakan. Agak menyedihkan memang apabila pernyataan ini keluar dari penyelenggara sendiri.

The aim of art is to represent not the outward appearance of things, but their inward significance. ~Aristotle

Apabila demikian “Seni Musik adalah Gaya Hidup Mahal” adalah pernyataan yang valid. Mungkin kepercayaan “seni adalah untuk memuliakan kemanusiaan itu sendiri” hanyalah pandangan idealis belaka. Nyatanya yang memuliakan manusia masa kini adalah gaya hidupnya, seperti tercermin secara tersirat dalam pernyataan penyelenggara. Dan, kutipan Aristotles di atas sepertinya tidak lagi tepat, Seni bukan lagi merepresentasikan signifikansi intrinsik sang karya seni, tetapi kini sudah merepresentasikan signifikansi ego sang penikmat seni. Zaman memang sudah berubah…

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: