Kabar Terkini

Suguhan Musik Sore


DivertimentoJCOTajuk Divertimento dipilih oleh direktur artistik Avip Priatna untuk suguhan sore ini di Balai Resital Kertanegara bersama anggota-anggota Jakarta Concert Orchestra. Walaupun biasanya menitik beratkan pada sifatnya yang menghibur, divertimento kali ini bukan sekedar ingin menghibur, namun juga nampak sisi serius terutama dari pemilihan karya.

Dibuka dengan permainan Concerto untuk 2 Violin dan Cello dalam D minor RV565 karya Vivaldi, Michelle Siswanto dan Diki Pradana pada biola berkolaborasi dengan Dani Ramadhan pada cello dan Nesca Alma pada basso kontinuo. Menyuguhkan karya dengan 3 bagian ini, ketiganya tampil dengan apik. Nesca membingkai permainan ketiga solois dengan apik, sedang Michelle yang juga adalah concertmaster JCO berkolaborasi dengan Diki yang juga didapuk sebagai prinsipal biola 2. Dengan proyeksi penuh dan mendetail dua pemain biola muda ini bermain dengan bertenaga dan mempesona, frase-frase dialog pun tergarap dengan teliti bersama dengan permainan cello Dani. Penuh warna-warni serta kejelian dalam permainan menjadi suguhan yang indah di awal acara ini.

Dilanjutkan dengan kuintet tiup yang sangat langka, flutis Marini Widyastari, obois Juhad Asyari, klarinetis Eugen Bounty, Yunus pada french horn dan Hendri Waskita pada bassoon menyuguhkan karya Paul Taffanel Quintet for Woodwind Instruments. Memainkan karya dari komponis di jaman romantik, karya ini begitu menantang, dengan struktur yang padat, penuh artikulasi dan tantangan balans menjadi momok bagi kebanyakan. Permainan kuintet ini penuh dengan momen-momen musikal yang berwarna, namun nampak bahwa ada diskoneksi dalam permainan mereka, yang mungkin disebabkan penguasaan akustik ruangan yang kurang tepat. Frase-frase dialog yang intens belum terjawab dengan sempurna, pun ketepatan artikulasi menjadi persoalan tersendiri. Kesulitan ini menyebabkan karya yang memang kompleks ini menjadi semakin menantang.

Selanjutnya tampil soprano Valentina Nova yang tampil bersama flutis Metta Ariono dan Nesca Alma pada piano. Membawakan tiga karya vokal Prancis, Une flûte invisible dari Camille Saint-Saëns, Ecoute dan Viens! Une Flûte invisible soupire keduanya dari André Caplet. Dari segi permainan, Nesca bermain dengan musikal bersama permainan ekspresif dari Metta Ariono yang berani menyala. Valentina Nova sendiri bernyanyi dengan suara dramatisnya yang kental. Namun, mungkin yang perlu menjadi catatan adalah bagaimana menjalin permainan dengan nuansa yang padu. Permasalahan pada intonasi vokalis dan minim permainan warna pada ketiganya akhirnya berdampak pada usaha membangun atmosfer Prancis yang romantis nan impresionistik.

Konser ditutup dengan Sebuah Sonata untuk Cello dan Piano Op.40 dari Shostakovich. Sebagai sebuah karya modern ditulis di masa Rusia Sosialis, karya ini penuh dengan kecerdikan Shostakovich meramu melodi ortodoks dengan sesekali dihempas temperamental modern dalam harmoni yang berani. Permainan pun sedemikian bergairah di tangan cellis Dani Ramadhan, nada-nada terjalin dengan seksama dan padu dalam karakter yang kuat. Menarik. Mungkin jauhnya jarak cellis dari pianis menyebabkan warna permainan Nesca Alma yang cenderung lebih feminin tidak serupa dengan Dani yang bercorak maskulin di beberapa tempat. Dani yang duduk di bibir panggung terlihat jauh dari Nesca yang duduk di belakang. Hal ini mungkin saja merupakan cara yang harus ditempuh oleh keduanya, mengingat kelemahan register bawah instrumen yang digunakan Dani yang tidak selantang nada-nada di dua senar pertama dan akhirnya bisa tertelan akustik ruangan. Namun permainan Dani terlihat begitu meyakinkan untuk karya sedemikian sulit.

DivertimentoJCO2Adalah suatu komitmen yang kuat dari direktur musik Jakarta Concert Orchestra sekaligus pengarah artistik Avip Priatna untuk terus menampilkan musik kamar yang variatif dari bulan ke bulan selama beberapa waktu ini. Jelas sekali bahwa musik kamar seringkali menjadi anak tiri dari dunia musik seni Indonesia yang lebih gemar bermain solo atau rombongan orkes. Dan besar harapan bahwa komitmen ini terus berlangsung dengan disertai keinginan untuk meningkatkan kualitas permainan dan tentunya menjadi warna lain dari aktivitas musik ibukota di sore hari.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: