Kabar Terkini

Mariama di Salihara: Nada, Warna dan Kala


Mariama DjSabtu malam ini menjadi saksi resital piano Mariama Djiwa Jenie, pianis senior Indonesia. Bertempat di Teater Salihara, Mariama yang dikenal bukan saja sebagai seorang pianis, tetapi juga penari tampil dengan membawa aura yang kental.

Malam hari itu, tampil penuh sebagai pianis, Mariama yang menimba ilmu di Wiener Musikhochschule ini tampil dengan membawakan program yang berdasar pada repertoar romantik, dilengkapi dengan 2 buah karya modern yang monumental. Sajian pertama, Piano Sonata D.959 dari Franz Schubert yang diikuti dengan 2004: Komposisi untuk Piano karya Tony Prabowo dan ditutup dengan karya piano dari Oliver Messiaen Vingt Regards sur l’Enfant Jesus: Par Lui tout a ete fait – sebuah program di babak pertama yang begitu penuh dengan bobot. Babak kedua sendiri lebih singkat, dibuka dengan karya L.v. Beethoven Andante in F major, dan dua karya Franz Liszt Sonetto 104 Petrarca dari Annees de Pelerinage dan Hungarian Rhapsody no.14 dalam F minor.

Tampil dengan hampir seluruh karya hafal, kecuali karya Tony Prabowo, Mariama menunjukkan betapa kekuatan ingatannya masih prima untuk mengeksekusi karya-karya yang memang strukturnya panjang, seperti Sonata Schubert dan secara bentuk sedemikain rumit seperti Vingt Regards Messiaen. Warna nada yang bernyanyi dari bilah piano pianis yang telah banyak melakukan tur di sepanjang karirnya begitu berupa warna, menunjukkannya sebagai kaliber pianis yang tidak main-main.

Cukup mengejutkan bahwa pianis ini mengambil tempo yang cenderung tergolong sangat lambat untuk setiap karya yang dibawakan. Kemampuannya menjaga konsistensi kalimat panjang menjadi modalnya yang utama selain pewarnaan spektrumnya yang begitu beragam yang membuat permainannya layak diperhatikan. Permainannya yang terdengar melodius di berbagai tempat tertata dengan apik, dan membuai penonton.

Hanya saja, terlihat bahwa tempo yang begitu lambat ini seringkali terasa menghambat alur musik secara umum. Kontras bagian cepat dan lambat tidak lagi terasa jelas. Sesekali terasa bahwa permainan penampil malam ini membuat penonton terombang-ambing. Stamina pun tersedot, baik pemain sendiri maupun pendengar, gejala yang sudah dapat ditangkap dari bagian pertama karya Schubert yang menjadi spesialisasi pianis ini.

Nafas musikal yang dengan berani diambil Mariama sebagai bagian dari interpretasinya yang sebenarnya baik dan unik. Besar kemungkinan bahwa kepiawaiannya dalam mengelola jeda-jeda musik yang menjadikan kariernya bersinar di Eropa dan Asia, melalui resital-resitalnya di berbagai kota di Eropa. Sayangnya banyak jeda nafasnya yang relatif panjang ini terlihat seakan-akan seperti sang pianis perlu mempersiapkan otot dan tubuhnya untuk eksekusi musik, sebuah hal yang sebenarnya dihindari sebagai seorang musisi. Otot haruslah dipersiapkan dan dilatih fleksibilitasnya untuk mendukung alur musik, dan bukan musik dibuat fleksibel demi mengakomodasi fisik penampil, sebagaimana terjadi dalam pagelaran malam ini.

Di mata penulis, tampak bahwa pianis ini sedang berusaha membangun fasilitas tekniknya kembali untuk bermain prima dalam karya virtuosik, sebuah spesialisasi motorik yang harus selalu dijaga dan dirawat oleh seorang atlet papan nada. Alhasil, penonton mencoba dengan susah payah menghubungkan kalimat dan struktur umum karya yang sudah terproyeksi dengan baik terlebih dengan mengoptimalkan potensi instrumen yang ada.

Setelah sebuah encore dari Hungarian Rhapsody no.2 Liszt yang terkenal usailah konser malam itu. Harus diberikan apresiasi lebih, bahwa seorang pianis senior masih memiliki hati untuk kembali merevitalisasi diri dan mengadakan resital tunggal, memberikan persembahan hati yang seringkali malah dihindari banyak musisi-musisi bahkan yang muda sekalipun. Dan karenanya decak kagum masih tersisa di bibir, sebuah semangat yang harus dilestarikan.

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: