Kabar Terkini

Serba Aneka dari Bach hingga Mendelssohn


bach-mendelssohn01“From Bach to Mendelssohn” sejenak menimbulkan persepsi kedekatan hubungan antara dua komponis Johann Sebastian Bach dan Felix Mendelssohn. Walaupun keduanya terpisahkan 125 tahun apabila ditilik dari tahun lahir, namun Mendelssohn yang sungguh mengidolakan Bach memiliki kedekatan visi dengan Bach. Keduanya adalah komponis dalam tradisi Austro-Jerman yang disegani pada masanya masing-masing dan memiliki kedekatan dengan medium musik-musik religius. Bahkan Mendelssohn adalah tokoh yang menghidupkan kembali minat pada musik Bach yang sebelumnya sempat dianggap ketinggalan zaman.

Namun, bukan itu yang ingin diangkat konduktor Billy Kristanto bersama dengan Jakarta Simfonia Orchestra. Di markasnya, Aula Simfonia Jakarta, sungguh acara ini bertumpu pada istilah “Dari Bach ke Mendelssohn” – penuh dengan berbagai karya dari berbagai komponis.

Babak pertama menjadi ajang Billy Kristanto untuk menggarap karya dalam spesialisasinya yang bertumpukan pada pendekatan musik Eropa kuno. Memainkan karya Keyboard Concerto dari Thomas A. Arne dari organ pipa, Billy Kristanto diiringi orkes yang dipimpin langsung oleh Wenwen Bong dari kursi concertmaster. Setelah itu Billy turun memimpin lantunan Orchestral Suite no. 3 BWV 1068 dari J.S Bach diikuti oleh karya Antonio Vivaldi Concerto for Guitar and String Orchestra RV 93.

Bermain dengan mencoba menekankan gaya permainan rokoko dan barok yang penuh dengan kontras dan semangat. Pergerakan terus dijaga dan menarik bagaimana pemain orkes berusaha sedapat mungkin mengubah alat modern mereka agar dapat memiliki karakteristik alat musik kuno yang bahkan bermain dengan selipan improvisasi dan ornamentasi. Permainan kontras pun terbentuk walaupun tidak semua terbentuk dengan jelas dan kecemerlangan yang terjaga. Namun konser malam itu menjadi tanda, bagaimana setiap pihak membentuk permainan dalam karakter zamannya. Permainan solois gitar Yakub Kertawidjaja pun menarik dengan padanan tone yang cukup tebal namun lincah dengan eksekusi yang mendetail menutup babak pertama.

Babak kedua bisa jadi adalah sisi lain dari konser ini. Berfokus pada Mendelssohn, babak kedua didominasi karya komponis yang memiliki nama belakang asli Bartholdy ini. Dibuka dengan Overtur dari A Midsummer Night’s Dream yang mengambil tema dari drama dengan judul serupa dari Shakespeare. Konser pun dilanjutkan dengan karya Misa dalam G Mayor D167 karya Franz Schubert yang berisi enam bagian. Mengetengahkan Medan Oratorio Societ, Reformed Oratorio Society Singapore dan Jakarta Oratorio Society, ketiga paduan suara ini membawakan karya misanya yang paling terkenal ini. Berformat relatif pendek, paduan suara tampil dengan didukung sekitar 85 orang vokalis, karya ini terasa monumental walaupun belum didukung dengan proyeksi vokal yang solid. Intonasi beberapa kali menjadi sandungan dan kematangan suara dari seksi tenor, bass dan sopran belum sungguh terasa dan mengakar.

Menarik bagaimana Billy memilih tiga orang solois yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda untuk karya Schubert ini. Soprano Suminah Kusuma yang cenderung liris dramatis dengan pendekatan yang cocok dengan karya romantis dipadu dengan tenor Jethro Rachmadi yang sangat nyaman dengan gaya barok dan Jimmy Naga yang cenderung tanpa pendekatan gaya yang jelas. Alhasil, warna ketiga solois ini sungguh berbeda satu dengan yang lain dengan pendekatan yang berbeda juga, suatu langkah yang sebenarnya jarang diambil oleh konduktor lain.

Konser pun dilanjutkan dengan karya motet Mendelssohn acapella “Denn er hat seinen Engeln berfohlen über dir”. Di sini seperempat dari paduan suara besar mencoba membawakan karya yang sangat mengandalkan pergerakan harmoni dengan eksplorasi rentang dinamika dan kalimat panjang yang terjalin satu dengan yang lain. Cukup menantang. Tanpa diiringi orkes, paduan suara berhasil membawakan pergerakan harmoni dengan baik, pun dinamika pun digarap dengan musikal. Namun, agaknya penampil masih kesulitan dalam menjalin pergerakan masing-masing suara dalam anyaman melodi kolektif yang membius, tanpa memecahnya dalam bentuk suara yang bersahut-sahutan.

Jakarta Simfonia Orchestra pun kembali untuk mengiringi karya “Singet dem Herrn ein neues Lied” yang digubah dari teks Mazmur 98 oleh Mendelssohn. Dengan karya yang digubah dengan beragam bentuk dari homofonik, hingga kanon yang bersahutan, karya untuk koor ganda ini menunjukkan keberagaman musik dan kematangan komponis yang sewaktu kecilnya disejajarkan kejeniusannya dengan W.A. Mozart.

Orkestra sendiri di tangan Billy Kristanto sangat hidup terutama untuk karya-karya barok dan pra-klasik abad 18, dan terdengar cukup dinamis untuk musik abad 19. Namun seringkali keragu-raguan orkes untuk memulai sebuah frase ataupun karya sungguh terasa. Beberapa kali orkes terdengar seperti membeo, karena berbunyi setelah salah satu pemain mengambil inisiatif untuk memulai dengan bermain lebih keras. Pun ini seringkali mempengaruhi permainan hingga beberapa kali tempo kurang terjaga dengan arah kalimat yang tidak seberapa jelas. Namun keteguhan sungguh terdengar di bagian akhir karya pujian ini yang mengundang tepuk tangan penonton. Dengan itu berkumandanglah Wedding March dari musik drama Midsummer Night’s Dream yang begitu populer dalam acara-acara pernikahan sebagai encore penutup.

Bisa jadi konser malam ini adalah dua buah program konser pendek yang dijalin menjadi satu. Dari Bach dan kawan-kawan hingga Mendelssohn dan kawan-kawan, menjadi acara malam ini begitu berwarna. Aneka pendekatan dan gaya menjadi sorotan malam itu. Serba-serbi musik, mungkin inilah tema yang cocok untuk konser malam itu, sebuah konser yang menggelitik keilmuan kita.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Serba Aneka dari Bach hingga Mendelssohn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: