Kabar Terkini

Satu Dekade ‘Amatir’ Berbicara


ACME1

Mendengarkan sekelompok pemusik amatir sore ini di Griya Jenggala menjadi sebuah hiburan tersendiri. Merayakan dasawarsanya yang pertama di tahun ini, konser ini menjadi ajang pembuktian bahwa ternyata di dunia musik klasik masih memiliki kelompok amatir yang hidup dan berkegiatan.

Adalah kelompok “Amateur Chamber Music Ensemble” atau yang akrab disapa ACME yang menggelar konser sore itu. Dipimpin oleh direktur musik Mario Djengki yang pada kesehariannya adalah seorang dokter spesialis radiologi, kelompok ini memiliki keistimewaan tersendiri. Dengan beranggotakan profesional di bidang non-musik, dokter, IT-profesional, direktur, ilmuwan, editor, marketer, mahasiswa, kelompok ini menggarap musik yang menjadi kecintaan mereka. Konser ini pun dibuka secara cuma-cuma bagi siapa saja yang hadir di kompleks di bilangan Kebayoran Baru itu.

Bagian pertama konser diisi oleh permainan musik kamar dari anggota-anggota kelompok musik kamar ini. Mengambil bentuk sebagai kelompok musik kamar, kelompok ini memiliki dinamika yang beragam. Dari permainan trio gitar Bajo de la Palmera Albeniz, piano trio Mozart K.564, Trio fagot, piano dan klarinet Beethoven Op.11, yang membuat pagelaran malam ini bervariasi. Menarik bahwa dalam pergelaran malam ini, diketengahkan juga duet dari tokoh senior pianis Indonesia Latifah Kodijat-Marzoeki dan Charlotte Panggabean yang memainkan karya Etude dari Schumann Op.56 no.3 dan 4 yang diaransemen untuk 4 tangan oleh Charlotte Panggabean. Babak pertama pun ditutup semarak dengan permainan prima biola Amin Tamin yang diiringi permainan piano Prionggo Mondrowinduro melalui permainan “From the Native Country no.2” dari Smetana.

Di babak kedua, giliran ACME muncul dengan format orkes kamar dan membawakan berbagai karya. Dimulai dari karya jenaka rentetan lagu “Happy Birthday” dalam berbagai gaya musik, dari Bach, Beethoven, Mozart, waltz khas Wina dan banyak lagi yang mengundang senyum penonton. Concerto Grosso Op.6 No.9 karya A. Corelli juga dimainkan diikuti dengan beberapa bagian dari Fantasia para un Gentilhombre untuk orkes dan gitar karya Joaquin Rodrigo. Konser pun ditutup dengan karya Varia Ibukota yang digubah oleh Mochtar Embut.

Menarik bahwa untuk menunjang permainan dan keterbatasan alat, banyak karya malam itu diadaptasi untuk permainan instrumen yang terlibat. Beberapa karya seperti Trio Sonata Beethoven dimainkan dalam format klarinet dan fagot, yang dimainkan oleh Marcel Prasetyo alias Mario Djengki dan Seto Damarjati. Karya Rodrigo pun diadaptasi untuk dua gitar dengan mengakomodasi tingkat kesulitan karya ini dan dimainkan oleh Sonar Panigoro dan Putri Sastra. Demikian pula dengan Impresario Overture Mozart dan Varia Ibukota yang pada awalnya ditulis untuk sebuah orkes lengkap.

Memang adalah sebuah tantangan tersendiri bagi para pemain untuk bermain dalam format musik kamar, terutama di babak pertama karena memang belum tentu pemain profesional dalam negeri pun berani tampil sebagai pemain musik kamar. Beberapa pemain secara mengejutkan menunjukkan kualitasnya yang tidak kalah dengan pemain profesional, salah satunya pianis Prionggo dan biolinis Amin Tamin. Orkes kamar pun dibawah baton Mario Djengki juga tampil dengan tergarap. Walaupun memang di beberapa tempat sempat terkendala teknis, namun terlihat bahwa karya-karya di babak kedua telah dikupas dengan mendetail sehingga mampu menghasilkan penampilan ACME yang terolah, mulai dari tekstur, dinamika dan bahkan gaya.

Tentunya menjadi sebuah pencapaian yang patut untuk dicatat, bahwa musik bukan saja dimainkan dengan bertanggung jawab oleh mereka yang ‘profesional’, namun juga oleh mereka yang ‘amatir’ sekalipun namun memiliki kecintaan yang tinggi dan komitmen yang besar untuk musik. Dan apabila membandingkan kualitas permainan ‘pro vs amatir’ merupakan perbandingan yang tentunya tidak adil, namun sepertinya perbandingan kesungguhan dan keberanian mereka dalam bermusik bisa jadi sedikitpun tidak berbeda jauh. Terbukti dengan keberadaan ACME selama 10 tahun ini merupakan sebuah prestasi yang patut dicatat.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Satu Dekade ‘Amatir’ Berbicara

  1. Nice post!
    Proud to be an amateur..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: