Kabar Terkini

Sisi Lain Gedung Pertunjukan: Menunggu dengan Nyaman


Sebagian dari lobby Walt Disney Concert Hall yang nyaman

Walaupun kita telah memiliki beberapa gedung konser di ibukota ini, tapi sepertinya kebutuhan untuk sebuah gedung yang lengkap dan berfungsi sebagai pusat aktivitas budaya yang nyaman nampaknya belum sungguh ada. Beberapa ruang auditorium sudah memiliki fasilitas panggung dan akustik yang cukup baik, penampil yang mumpuni, namun fasilitas pendukung yang seringkali dianggap sebagai pelengkap malahan yang menjadi salah satu faktor kenyamanan penonton.

Ruang tunggu seringkali tidak terlalu dipikirkan, padahal ruang untuk menunggu ini begitu penting bagi para penonton yang hadir dalam sebuah acara konser musik klasik. Seperti yang kita tahu, gedung konser memiliki jam buka pintu, dan seringkali kebijakan buka pintu itu dari segi waktu tidak tentu panjangnya. Ada yang 15 menit, ada yang 30 menit, namun jarang yang 45 menit sebelum acara dimulai. Semakin mepet waktu buka pintu, semakin butuh tempat yang nyaman untuk menunggu.

Bisa kita lihat bahwa sekali pertunjukan sebuah gedung resital bisa menampung 250 orang atau bahkan 1500 orang, tergantung venue. Namun sedikit dari gedung yang memberikan ruang untuk menunggu yang cukup nyaman dan leluasa. Mari kita coba tilik beberapa gedung di Jakarta dan kita lihat dari aspek yang mendasar saja:

Pelataran Erasmus Huis

Goethe Haus dan Erasmus Huis dengan kapasitasnya sebenarnya tidak menyediakan ruang tunggu di dalam yang tidak terlalu besar, terutama Erasmus Huis. Namun kedua auditorium dengan kapasitas 300-350 orang ini memiliki pekarangan yang cukup luas dengan tempat duduk yang bisa dipakai. Namun, kalau hujan memang bisa jadi situasi tidak lagi senyaman kalau cuaca cerah. Terlebih di Erasmus yang ruang menunggu di dalam ruangnya begitu terbatas, namun beruntung gedung di kompleks kedutaan besar Belanda ini membuka tenda permanen di pelataran, ataupun bisa menunggu di galeri di lantai bawah auditorium. Pun di pelataran, Erasmus membuka sebuah kedai kecil bercorak minimilis apabila ada acara yang memungkinkan penonton untuk membeli minuman dan penganan kecil yng dibuka hingga bubaran acara. Di sisi lain, Goethe memiliki kantin yang cukup lengkap, namun sayang hanya dibuka pada sebelum konser, sesudah acara mulai biasanya tutup sehingga sulit untuk mencari minum ketika masa istirahat.

Di sisi lain, tempat seperti Balai Sarbini dengan kapasitas 1000 orang tidak memiliki ruang menunggu yang cukup. Kapasitas ruang menunggu sangat tidak memungkinkan. Untuk penonton berjumlah 300 saja menunggu di bawah sudah terasa sesak, apalagi bila penuh 1000 orang. Namun beruntung bahwa Balai Sarbini menempel langsung dengan Plaza Semanggi yang menyediakan pelataran lobbynya untuk ditongkrongi, juga memiliki cafe ternama yang memungkinkan penonton membeli cemilan di sana sebelum masuk gedung, karena gedung sendiri tidak menyediakan cafe ataupun kedai. Pun penonton yang sudah masuk menunggu tidak disediakan tempat untuk sekedar duduk, kurang akomodatif bagi pengunjung-pengunjung lanjut usia. Yang terjadi penonton terpaksa duduk di bibir tangga pintu masuk gedung atau membeli kopi di kafe terdekat untuk bisa sekedar menumpang duduk.

Lobby Usmar Ismail Hall

Usmar Ismail Hall sesungguhnya menyediakan ruang yang mencukupi untuk menunggu di pelataran lobbynya. Seringkali aula ini juga membuka meja kecil untuk menjual kudapan dan minuman ringan, namun agaknya masih kurang representatif. Namun kekurangan aula berkapasitas 400 orang ini juga adalah minimnya tempat duduk di lobby aula. Yang sering terjadi adalah calon penonton terpaksa lesehan di sepanjang dinding lobby, sebuah pemandangan yang lazim terlihat 45-30 menit sebelum konser dimulai.

Soehanna Hall memiliki cirinya tersendiri. Karena terletak di lantai dua sebuah kompleks gedung perkantoran, aula di terhubung dengan lobby dua buah gedung, The Energy dan CIMB. Alhasil walaupun tidak memiliki Lobby yang besar, namun tertolong oleh lobby gedung perkantoran yang tentunya cukup besar dan terhubung dengan lobby Soehanna lewat sebuah eskalator. Namun lobby Soehanna sendiri bahkan tidak memiliki tempat duduk yang layak ataupun kedai atau gelaran meja menjual panganan. Hanya saja lobby Energy building memiliki beberapa rangkaian sofa yang nyaman dan sebuah restoran italia – tidak cocok untuk sekedar mencari makanan sekenanya, namun tersedia.

Lain lagi dengan Aula Simfonia Jakarta. Aula ini secara khusus menyediakan kursi-kursi terbuka di dekat box office, walaupun secara jumlah tidak banyak tapi mencukupi. Namun lobby Aula Simfonia Jakarta yang banyak didaulat sebagai gedung konser yang memiliki akustik cukup baik di Jakarta ini tidak didukung dengan ukuran lobby yang memadai, terutama lobby lantai 1 yang akan penuh sesak ketika pengunjung konser sudah mencapai 400-500 orang, padahal gedung ini memiliki kapasitas di atas 1000 orang. Namun gedung ini tertolong pelataran taman gedung, namun sayangnya pelataran gedung ini sungguh taman dan bukan berupa plaza seperti di Erasmus ataupun Goethe dan tidak cocok untuk sekedar duduk meluangkan waktu. Auditorium ini juga membuka meja yang menjual makanan dan minuman kecil sepanjang konser namun seperti di Usmar Ismail, belumlah representatif sebagai gedung konser.

Gedung Kesenian Jakarta sebagai gedung pertunjukan peninggalan zaman kolonial menarik karena memiliki teras depan dan samping di kedua sayap yang secara kapasitas mampu mendukung kenyamanan 400 orang penonton. Namun permasalahan sering terjadi apabila penonton belum bertiket ataupun pintu utama belum dibuka sehingga penonton harus menunggu di teras depan yang sudah penuh, namun belum bisa mengakses teras samping yang kebetulan dilengkapi dengan tempat duduk yang cukup banyak. Salah satu teras samping dilengkapi semacam koperasi dengan etalase memajang kudapan dan minuman dan buka sepanjang pagelaran. Pun di sayap ini pun disediakan layar televisi yang menyiarkan apapun yang terjadi di panggung sehingga penonton yang bahkan terlambat bisa memantau pertunjukan yang sedang berjalan.

Teater Salihara sedikit berbeda. Secara gedung, teater 252 kursi ini tidak memiliki lobby sama sekali. Namun karena terhubung dengan ruang komunitas dan gedung lain, suasana sedikit berbeda dan menyediakan tempat menunggu yang informal dan terbuka. Walaupun tempat duduk teramat sedikit untuk yang ingin menunggu, hanya satu set sofa di depan dan dipan di samping, namun di depan kompleks ini tersedia sebuah kopitiam yang menjual makanan kecil dan besar dengan tempat duduk yang tersedia cukup banyak, alhasil terasa menyatu dengan teater dan membuat sekitar teater menjadi lebih hidup.

Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki bisa jadi adalah gedung dengan pandangan kedepan dan dianggap mampu menjadi acuan ruang publik untuk pertunjukan. Secara umum, Teater ini dibagi menjadi dua ruang: satu yang menampung lebih dari 1200 orang dan yang lebih kecil 200 orang. Gedung secara istimewa, ini memiliki lobby yang lapang dengan dekor façade kaca yang semakin membuat lobby terasa lapang. Lobby untuk Teater Besar pun terdiri dari paling tidak 3 lantai yang bisa diakses via lift dan eskalator. Pun di luar dilengkapi plaza yang luas dan tangga dekoratif yang bisa jadi tempat menunggu. Namun hampir bisa dikatakan bahwa gedung ini minim tempat duduk bagi warga lanjut usia pun untuk mencari penganan bisa jadi menjadi sangat sulit apalagi ketika penyelenggara tidak menyediakan secara khusus stand-stand makanan. Memang beberapa penjual kerak telor dengan setia menunggu di depan plaza, namun untuk penganan dan minuman yang bisa jadi kurang bervariasi.

Ini hanyalah sedikit dari evaluasi sederhana ruang tunggu dari beberapa gedung pertunjukan di Jakarta. Menarik, tapi memang walaupun pertunjukannya yang nomor satu, tapi nyatanya tanpa kenyamanan, pengalaman penonton ketika menikmati sajian bisa jadi tidak paripurna. Ya, alangkah baik apabila sedari sekarang kita bisa mencermati sisi lain kenyamanan penonton, sisi yang seringkali diabaikan namun tidak kalah esensial dalam membentuk komunitas basis orkestra yang kuat. Mari!

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Sisi Lain Gedung Pertunjukan: Menunggu dengan Nyaman

  1. Mungkin Mike bisa memberikan sedikit perbandingan dengan ruang tunggu di gedung2 pertunjukan di luar negeri misalnya🙂 thanks

  2. Mas Bowie, saya akan address isu ini dalam beberapa hari untuk referensi perbandingan, tidak usah jauh-jauh, dekat saja banyak referensi mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: