Kabar Terkini

Jadi Gedung Pertunjukan Kalah dengan Bioskop?


Setelah tulisan saya yang berkisar tentang ruang lobby dalam gedung pertunjukan yang sedianya bisa juga difungsikan sebagai ruang tunggu dan ruang makan, muncul pendapat dari pembaca bowiedj untuk membandingkan dengan desain gedung pertunjukan di luar negeri, sedianya sebagai contoh ruang lobby gedung pertunjukan yang layak. Akan tetapi, saya saat ini ingin mengambil contoh yang lebih mudah dan aksesibel untuk para pembaca di kota-kota besar di Indonesia, pun di berbagai belahan dunia kebutuhan lobby gedung pertunjukan seringkali berbeda-beda (di negara 4 musim dibutuhkan ruang khusus menyimpan mantel). Untuk itu saya memilih secara khusus, lobby jaringan bioskop XXI yang ada di kota-kota besar di Indonesia.

Tanpa bermaksud untuk menjadikan lobby bioskop sebuah jaringan bioskop sebagai sebuah lobby panutan standar, mari kita menilik lobby bioskop ini sebagai salah satu contoh lobby yang dikelola swasta, dipergunakan oleh banyak orang dengan berbagai keperluan. Pun bisa dikatakan kebutuhan penonton bioskop Indonesia sebelum menonton film hampir serupa dengan gedung pertunjukan. Penonton masuk beberapa waktu sebelum pertunjukan dimulai dan sementara waktu penonton menunggu di lobby. Pun untuk itu saya mengambil secara umum fasilitas yang disediakan bioskop kita dan mungkin kita melihat apa saja yang bisa dikembangkan dari banyak gedung pertunjukan kita.

Lobby
Setibanya di bioskop, kita umumnya disambut oleh lobby yang cukup luas. Banyak bioskop di kota-kota tersambung dengan sebuah pusat perbelanjaan, namun ini tidak mengurangi kesadaran pengembang untuk mendesain tempat yang lapang dan terbuka untuk para pengunjung. Seringkali dibatasi dengan kaca, area bioskop dipisahkan dari area mall. Umumnya lobby tersebut mampu menampung secara nyaman paling tidak kapasitas dari auditorium terbesarnya, sehingga walaupun penonton menunggu tidak terasa berdesakan di dalam lobby.

Nampaknya berdasarkan pengamatan yang sempat saya tuangkan dalam tulisan, hanya sedikit gedung yang memikirkan desain ini, di antaranya Usmar Ismail Hall, Gedung Kesenian Jakarta, Teater Jakarta, Teater Salihara dan beberapa pusat kebudayaan asing yang didukung dengan plaza di depan lobby. Beberapa yang lain terasa begitu sesak dan kurang kondusif untuk bahkan digunakan untuk menunggu.

Membeli Tiket
Sebagai pengunjung yang baik, kita memasuki lobby dan mencoba mendapati box office/ticket box. Ticket box pun bisa kita lihat dari jauh entah terletak dekat pintu utama atau menjorok ke dalam, namun yang pasti, ticket box terlihat dengan jelas dengan informasi yang terpampang dengan jelas pula di atas layar lebar LCD TV. Penonton pun bisa langsung memilih film dan waktu yang ingin ia ambil. Di banyak bioskop dengan desain baru, ticket box dibangun dengan begitu terbuka tanpa sekat berarti untuk mendukung lapangnya lobby, memberikan rasa nyaman, walaupun beberapa masih melestarikan loket konvensional dengan kaca yang cenderung rapat.

Untuk urusan ticket box, memang hanya beberapa tempat yang secara khusus menyediakan ticket box dan umumnya dengan format box konvensional dan terletak terpisah dengan area tunggu. Aula Simfonia Jakarta menyediakan ticket box yang sedikit berada dipojok, apabila baru datang, mungkin saja tidak sadar bahwa ticket box berada di samping lobby yang sayangnya tidak dilengkapi dengan papan petunjuk yang jelas terbaca oleh pengunjung. Namun demikian, ASJ bisa dikatakan sebagai sedikit dari ticket box yang sudah dilengkapi dengan teknologi IT mutakhir seperti di gedung bioskop. Pengunjung bisa memilih kursi di layar dan tiket dapat dicetak seketika, bahkan disertai barcode untuk menunjukkan keaslian dan dapat dipidai oleh petugas teknologi yang bahkan belum dipakai oleh bioskop kita.

Gedung Kesenian Jakarta, Graha Bhakti Budaya dan Teater Salihara adalah beberapa gedung pertunjukan yang memang memiliki ticket box permanen. Penonton bisa mengunjungi ticket box untuk membeli tiket di tempat yang cukup terlihat oleh penonton ketika tiba di lokasi. Walaupun belum dilengkapi perangkat IT yang njelimet, namun GBB pun sudah memampangkan informasi lewat perangkat LCD di belakang loket, GKJ pun memberikan informasi yang cukup lengkap di ticket box walau tanpa perangkat elektronik. Di kebanyakan gedung pertunjukan lain, yang ada hanya sebatas gelaran meja bertaplak non permanen yang setelah pertunjukan bisa saja hilang ke mana. Teater Jakarta pun pernah saya dapati membangun sebuah stand semi permanen untuk menjual tiket di luar lobi.

Mengudap dahulu
Setelah memegang tiket, pengunjung bioskop biasanya menyempatkan diri untuk membeli makanan dan minuman. Umumnya stand makanan dan minuman ini tersusun rapih dengan pelayanan ala restoran cepat saji. Pun makanan dan minuman yang dijual juga beragam, dari sekedar brondong jagung dan minuman bersoda hingga kopi cappuccino dan makanan hotdog dan sebagainya. Dan tidak sedikit bioskop yang memiliki cafe di dalam area lobby lengkap dengan tempat duduk dan meja makan yang nyaman seperti di restoran, dimana penonton yang tiba lapar bisa memesan nasi goreng ataupun makan besar lainnya. Jujur saja memang konsep cafe ini baru berkembang beberapa tahun terakhir ini, namun cafe seperti ini mampu membangun prestise dan kenyamanan tersendiri bagi bioskop bersangkutan.

Memang harus diakui bahwa menonton konser jaman sekarang bukanlah seperti 200 tahun lalu di mana penonton boleh membawa makanan dan minuman ke ruang pertunjukan, sehingga keadannya seringkali berbeda dengan bioskop. Namun hanya sedikit gedung pertunjukan yang memang diperlengkapi dengan kedai yang mencukupi, terlebih sebuah cafe. Yang paling mendekati kondisi seperti itu adalah Erasmus Huis, Balai Sarbini, Goethe Haus, dan Teater Salihara yang memiliki kedai, counter, kantin dan kopitiam yang memungkinkan penonton menikmati santapan sambil bersosialisasi. GBB dan Teater Jakarta mungkin malah mengandalkan kafe bioskop XXI dan beberapa rumah makan yang terletak di dalam kompleks namun sbenarnya relatif jauh dari area pertunjukan. Walaupun memang makanan tidak dibawa masuk ke ruang auditorium namun penonton yang mungkin sedikit lapar seharusnya dimungkinkan untuk membeli kudapan ringan di sela-sela istirahat ataupun bahkan makan besar sebelum maupun sesudah pertunjukan berlangsung.

Pegal? Duduk…
Dan menarik bahwa di banyakan bioskop, di sepanjang koridor ke studio-studio disediakan tempat duduk untuk mereka yang memutuskan untuk menunggu pemutaran film di dalam bioskop. Sembari menunggu pengunjung bisa bercengkrama ataupun cuma sekedar melepas lelah. Bangku panjang berlapis busa empuk sudah menanti untuk segera diduduki dan walaupun jumlah tak banyak tapi sangat membantu. Bahkan di beberapa lokasi bioskop, disediakan tempat bermain game arcade supaya yang menunggu tidak lekas bosan dan bisa bermain game, seringkali game arcade ini tidaklah besar namun bisa menjadi alternatif permainan bagi penonton sembari menunggu pertunjukan.

Sayangnya di banyak gedung pertunjukan kita hanya sedikit yang menyediakan tempat duduk secara khusus untuk menunggu seperti ini. Goethe, Erasmus mengintegrasikannya dengan area makan outdoor. Hanya Gedung Kesenian Jakarta, Aula Simfonia Jakarta dan Teater Salihara yang sempat memikirkan hal ini. Tempat duduk ini bukanlah hal yang esensial, namun mampu menambah keramahan gedung pertunjukan bagi para pengunjung, seperti lansia dan ibu hamil. Memang pada akhirnya banyak penonton didaulat untuk duduk-duduk di lantai ataupun anak tangga terdekat.

Lain-lain
Masih banyak hal lain yang bisa kita cermati dalam sebuah gedung pertunjukan dan bioskop bahkan hingga toiletnya sekalipun, apakah secara kapasitas mampu mendukung ketika ada serombongan orang keluar dari auditorium dan hendak menggunakan kamar kecil. Apakah kamar kecilnya sedemikian tidak mencukupi sehingga orang harus berlama-lama mengantri, alhasil waktu intermission hanya habis mengantri ke toilet? Belum lagi akses keluar gedung, baik akses darurat maupun pintu keluar biasa bisa menjadi sorotan tersendiri. Bahkan kalau ingin lebih akomodatif, apakah gedung pertunjukan mengakomodasi penyandang cacat juga dapat menjadi catatan.

Pertanyaan saat ini adalah kalau saja bioskop bisa menampung dan mengakomodasi kenyamanan para pengunjungnya, mengapa gedung pertunjukan seakan memiliki keterbatasan? Apakah hal ini disebabkan oleh kurangnya dana dan modal untuk mengelola sebuah gedung pertunjukan yang sungguh representatif dan berorientasi pada penonton? Ataukah disebabkan oleh perbedaan model bisnis dalam jaringan bioskop? Ataukah disebabkan oleh ketidaktahuan, atau malahan lebih parah disebabkan oleh ketidakpedulian?

Namun apapun itu, ketidaktahuan ataupun kurangnya referensi sama sekali tidak bisa menjadi alasan. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, desain bioskop-bioskop terdekat Anda sudah cukup menjawab, namun sungguhkah kita, penonton, pengelola, penampil, arsitek dan interior designer peduli dan mau mengambil langkah?

~Gambar diambil dari link publik sebagaimana tertera pada gambar

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: