Kabar Terkini

Dusseldorf: Titik Temu, Titik Tolak


Dusseldorf, 1853 bisa jadi menjadi menimbulkan tanya bagi para penonton resital musik kamar di Erasmus Huis Minggu sore ini. Dan memang di kota Dusseldorf tahun 1853 adalah kota di mana komponis Johannes Brahms yang kala itu masih muda diperkenalkan dengan Robert Schumann, komponis dan juga seorang kritikus musik terpandang di masanya. Dan dari kontak di kota ini, Brahms dan Schumann saling bersahabat baik dari segi personal maupun pengaruh penciptaan karya. Bahkan hingga setelah Schumann wafat, Brahms masih menjadi sahabat karib bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dan memang kedua komponis itulah yang diketengahkan sore ini dalam tiga karya Bilder aus Osten op.66 dan Dichterliebe op.48 karya Robert Schumann dan Piano Trio no.1 op.8 karya Johannes Brahms.

Bilder aus Osten (Gambar dari Timur) adalah karya piano untuk 4 tangan yang terdiri dari 6 buah impromptu, kelima bagian pertama di antaranya yang dimainkan pada malam ini oleh kolaborasi pianis Ruth Wibisono dan Budi Utomo (Tommy) Prabowo. Permainan piano yang lincah dan terus bergerak mewarnai pergolakan karya yang dinamis dan terus bergerak yang menggambarkan saduran penyair Friedrich Rückert atas kisah kepahlawanan Abu Seid.

Permainan piano keduanya tergambar dengan penuh wibawa, walaupun sempat tergambar bahwa di awal terjadi penyesuaian nafas di antara keduanya. Namun tidak lama berselang, seakan keduanya menyatu dengan ketepatan proyeksi yang sedemikian baik, Ruth di sisi luar bermain register atas dan Tommy Prabowo di register bawah. Terlihat semakin menuju ke belakang, semakin erat pula kerja sama di antara keduanya, sebagai bukti bentuk kolaborasi yang memang baru saja berkembang. Namun keduanya mampu saling mendukung dan membentuk kesatuan tutur musik yang menarik namun akan lebih istimewa apabila tergarap dalam kesatuan visi mendalam.

Karya kedua adalah Dichterliebe op. 48 yang merupakan siklus tembang puitik dari Robert Schumann yang teksnya diambil dari 16 puisi Heinrich Heine yang menggambarkan kepedihan dan sengsara seorang penyair. Dibawakan oleh bariton Joseph Kristanto Pantioso dan pianis Ruth Wibisono, ‘Cinta seorang Penyair’ ini mengisahkan cinta pilu sang penyair yang bertepuk sebelah tangan dan dibawakan dengan ekspresif oleh Joseph Kristanto.

Menarik bahwa Joseph tanpa menghamburkan volume dengan percuma mampu berkisah dengan begitu intim dan akrab namun begitu kaya dengan nuansa sendu, walaupun bernyanyi dengan teknik yang mapan seringkali terdengar di telinga penonton seakan seorang sahabat berbincang dengan untaian puisi. Ruth pun tampil sebagai pianis kolaboratif yang mampu dengan jitu menggambarkan situasi dan menyokong atmosfer musik, terutama sisi kehidupan dari kesenduan ini. Alhasil kedua musisi menyatu dengan tepat dan memberikan nuansa lain dari kebanyakan usaha seorang bariton dalam menyanyikan repertoar ini yang cenderung berat. Joseph dan Ruth berhasil membawa musik ke ranah pribadi yang lebih beresonansi dalam hati para penonton, walaupun dinyanyikan dalam bahasa Jerman yang tidak tentu dimengerti secara eksak oleh pendengar.

Karya ketiga yang mengisi bagian kedua dari pergelaran malam ini adalah Piano Trio no.1 op.8 karya Johannes Brahms yang dimainkan oleh biolinis Yasmina Zulkarnain, cellist Leonard van Hien dan pianis Iswargia Sudarno. Sebagai lanjutan dari pagelaran Reunion di pertengahan Desember lalu, kali ini kelompok trio yang sama membawakan secara lengkap 4 bagian dari karya ini yang penuh dengan intrikasi tersendiri namun penuh dengan daya dan keindahan.

Iswargia Sudarno secara istimewa tampil sebagai lokomotif utama dengan daya pikat dan proyeksi suara yang sedemikian matang dan kokoh. Leonard van Hien juga dengan musikalitas dan penguasaan nafas instrumen yang kaya mampu menjalin alur yang tak terputus dari instrumen cellonya secara mendetail dan intonasi yang terukur. Sesekali mendukung garis alur piano, sesekali tampil menyanyi, van Hien tampil sebagai warna utama dari trio ini. Yasmina pada biola pun menangani permainan sedemikian sulit dan menantang dengan frase-frase tanya jawab panjang dengan cello dan piano. Di beberapa tempat frase terdengar begitu indah namun acapkali masalah intonasi sering merundung permainan sehingga kesatuan tidak dengan mudah dapat dibina, terlebih masuk dalam zona percakapan antara instrumen, namun tertolong dengan Iswargia memberi batasan yang kokoh pada permainan piano.

Dengan berakhirnya Trio dari Brahms, mungkin kita mendapat gambar seperti apa hubungan kedua komponis asal Jerman ini. Pertemuan yang sering kali dianggap singkat, terlebih Schumann sempat dirawat kejiwaan pada tahun 1854 hingga akhirnya wafat tahun 1856, persahabatan ini menjadi bibit dari perkembangan musik Johannes Brahms yang seringkali disandingkan dengan komponis besar Jerman dengan inisial ‘B’ lainnya: Bach dan Beethoven. Namun mungkin Dusseldorf 1853 ini adalah sedikit prolog titik tolak perkembangan musik Jerman di bagian kedua abad ini.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: