Kabar Terkini

Korps Musik, Cermin dan Kebanggaan


Bhayangkara 1aKetika menonton Bhayangkara Wind Orchestra Senin lalu dan juga tentunya acara-acara kenegaraan seperti Peringatan Hari Kemerdekaan tentu kita semua berpikir apakah fungsi Korps Musik dalam sebuah angkatan bersenjata dan kepolisian. Terkadang terbersit pula dalam benak banyak pecinta musik bahwa sering kali memang kualitas siaran dan permainan yang kita saksikan di televisi nasional ketika acara ini berlangsung kurang memuaskan di hati kita. Lalu membuat kita semua bertanya, mengapa tidak kita pakai saja orkestra profesional yang kualitasnya lebih baik daripada Korps Musik ini. Sejatinya Korps Musik memiliki sejarah yang panjang dan mungkin tidak tercatat dalam fungsi yang jelas dalam usaha bela negara Indonesia. Ada baiknya kita sedikit berkaca pada sejarah dan mencoba berbagi definisi tentang fungsi dan pentingnya Korps Musik ini.

Fungsi
Korps Musik sudah menjadi bagian dari angkatan bersenjata sejak dahulu. Dalam kitab suci Yahudi sepeninggal zaman Musa, tercatat bahwa dalam peperangan merebut kota Yerikho, mereka sudah menggunakan musik sebagai salah satu senjata. Bahkan dilukiskan bahwa selain mengarak Tabut perjanjian keliling benteng kota yang sedemikian tebal, pasukan Israel bernyanyi dan bermadah dengan iringan sangkakala, tembok kota Yerikho pun runtuh dengan ajaib dan mereka bisa masuk kedalam kota.

Dalam catatan sejarah yang lain di Eropa, pasukan Romawi sudah menggunakan sangkakala dan trompet dan genderang untuk aliran instruksi masal dan membangun semangat para tentara profesional mereka. Pun trompet dan genderang pun seringkali berdiri sejajar dengan panji legiun, sebuah simbol kesatuan yang vital dan menjadi penggerak kesatuan dan penerus rantai komando, fungsi yang teramat vital. Pada Kisah Tiga Kerajaan di Tiongkok juga digambarkan bagaimana perdana menteri Zhuge Liang saat berhadapan dengan musuh yang lebih besar jumlahnya dapat menipu lawan dengan pasukan jerami dan keramaian genderang serta memaksa musuh mundur karena khawatir akan diserbu oleh pasukan Zhuge Liang yang terlihat seakan lebih besar.

Pun dalam berbagai kisah kepahlawanan kuno, kita melihat bagaimana pandangan umum seorang Yunani dapat berfungsi sebagai warga negara yang utuh adalah ketika mampu mengangkat senjata tapi juga mampu bermusik dan berpuisi. Nabi Daud berangkat sebagai gembala yang pandai bermusik sebelum menjadi jenderal dan raja bagi Kerajaan Israel. Dalam kisah Mahabharata pun disebutkan bahwa Arjuna, sebagai salah satu pemimpin, prajurit paling handal dan pemanah terbaik dari kubu Pandawa, adalah seorang yang sangat terampil sebagai seorang penari dan pemusik, bahkan di masa pengasingan karena keterampilannya ini, ia mampu menyamar sebagai guru tari dan musik yang meyakinkan.

Dalam 500 tahun terakhir fungsi musik dalam sebuah kesatuan berkembang dengan pesat. Musik pun dibentuk dalam sebuah korps dan berfungsi menggerakkan pasukan dan menjaga moral pasukan. Bahkan pergerakan satu pasukan penembak bersamaan dengan rentetan permainan pada drum, agar berderap rapi dalam satu barisan hingga mengambil posisi menembak. Timpani pun pada fungsinya juga digunakan dalam peperangan dan dibawa oleh kuda, satu di kiri satu di kanan. Trompet menjadi santapan sehari-hari dengan bugle call dipagi hari untuk membangunkan para prajurit. Musik pun menjadi penyeimbang, sebagai hiburan para prajurit selama masa peperangan sekaligus memiliki fungsi taktis dalam pertempuran. Pada masa itu adalah wajar apabila sebuah pasukan memiliki korps musik kecil di antara mereka yang memang bertugas bermusik dan menjalankan fungsi sebagai penyampai pesan komando sebelom munculnya radio. Mungkin fungsi inilah yang seringkali tidak dirasakan oleh tentara modern di Indonesia, sehingga nilai historisnya kurang terasa dalam pengembangan kualitas permainan dan nilai pentingnya korps ini.

Di masa modern bisa dikatakan korps musik angkatan bersenjata adalah mayoritas kelompok musik atau orkestra tiup profesional di dunia. Tidaklah banyak kelompok lain yang secara purna-waktu mendedikasikan diri untuk musik jenis ini. Mengapa orkes tiup dengan dilengkapi perkusi? Karena memang secara historis, kelompok instrument tiup dan perkusilah yang menjadi tulang punggung kehidupan militer modern, karenanya format ini terus dipertahankan hingga sekarang. Alhasil korps musik angkatan menjadi cerminan bentuk kesenian ini dan juga kualitasnya menjadi kualitas bentuk kesenian ini di mata publik, lokal maupun internasional.

Pun sama keadaannya di Indonesia, kelompok musik dan orkestra tiup professional bisa dikatakan tidak ada. Hanyalah kelompok yang berada di kesatuan TNI dan Polrilah yang dapat disebut orkes tiup professional, dengan disokong kelompok marching band di belakangnya. Fungsinya pun seperti diutarakan pada acara konser Bhayangkara Wind Orchestra, tidak hanya terbatas untuk melayani acara kenegaraan saja, tapi juga acara-acara masyarakat lainnya. Selain itu diharapkan bahwa orkes ini dapat menjadi upaya Polri untuk lebih dekat pada masyarakat, memberikan penyuluhan dan pesan publik dari Polri sendiri. Menarik.

Sisi Lain
Di sisi lain, orkes tiup angkatan juga menjadi cermin kualitas dan profesionalitas angkatan. Karena korps musik di kebanyakan negara di dunia biasanya digarap secara profesional oleh angkatan dengan sistem yang berlaku di angkatan dan kesatuan tersebut, oleh karenanya menjadi cerminan bentuk dan profesionalisme yang dianut dari kesatuan tersebut.

Rekrutmen menjadi salah satu hal yang mampu kita garis bawahi. Angkatan bersenjata dan kepolisian yang profesional pasti merekrut mereka yang sesuai dan memiliki potensi yang sesuai dengan penempatannya. Musik adalah bidang yang sangat khusus sekali dalam militer, sebagaimana bidang medis dan Zeni angkatan darat yang membutuhkan keahlian khusus dari setiap anggotanya. Alhasil merekrut pemain dan calon pemain dan anggota terbaik adalah suatu hal yang tidak boleh dilupakan. Pun kualitas pendidikan dasar kita pun dapat terlihat, seberapa jauh kita memperhatikan musik, karena para pemusik yang baik tentunya sudah dibekali sejak dini dalam pendidikan dasar mereka, sebelum masuk ke dalam kesatuan.

Pembinaan dan profesionalitas kesatuan juga dapat terlihat dari bagaimana korps musik beroperasi baik dalam keseharian maupun dalam penampilan di hadapan umum. Pembinaan yang baik tentu akan terlihat dan terasa dalam bentuk kualitas penampilan dan peningkatan kemampuan musikal yang baik terlebih mereka banyak adalah para anggota purnawaktu yang sungguh bertugas untuk musik. Sedikit catatan bahwa di Inggris Raya, karena pentingnya korps musik, Angkatan Laut mereka memiliki Royal Marines School of Music yang secara khusus melatih para anggota kesatuan untuk mampu menjalankan fungsinya dengan lebih baik lagi. Profesionalitas dan disiplin dari kesatuan juga dapat dengan jelas terlihat dalam permainan musik kelompok ini. Kedisiplinan jelas terlihat dalam penggarapan musik dan permainan yang teliti dan musikal. Dalam permainan yang profesional jelas kesalahan mendasar karena keterbatasan teknis dan permasalahan seperti intonasi seharusnya tidak lagi menjadi permasalahan dan ini akan secara jelas menggambarkan kualitas kedisiplinan angkatan secara umum. Pun kerja sama dan keindahan bisa dilihat dari kualitas permainan korps ini.

Karena sifatnya yang khusus dan kuat di setiap kesatuan, Korps Musik selalu menjadi kebanggaan setiap angkatan dan kesatuan. Karenanya perhatian angkatan dan kesatuan akan kelompok ini menjadi hal yang esensial bagaimana cara Kepala Staf Angkatan dan Jenderal Polisi melihat fungsi musik dan korps ini, pun menjadi cerminan seberapa baik manajemen personil dan juga pengelolaan kemaslahatan prajurit dikedepankan, sebagai sebuah unit yang lengkap dan mengabdi pada negara dan masyarakat.

Nyatanya fungsi Korps Musik dan tentunya imbasnya tidaklah bisa dianggap remeh. Untuk itu mari kita berharap kita mempunyai Korps Musik militer yang semakin mumpuni, menjadi sebuah kebanggaan bagi kesatuan dan cermin dunia militer kita yang semakin berkembang dan terhormat, untuk kedaulatan bangsa dan pelayanan masyarakat yang semakin baik.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: