Kabar Terkini

Carmen dari Bali: Sumatera dan Intimasi


IMG_Heny1Adalah mezzosoprano Heny Janawati yang tampil sore hari ini di Auditorium Galeri Indonesia Kaya di kompleks pusat perbelanjaan Grand Indonesia. Tampil dengan tema Senandung Opera Sumatera, Heny yang asli Bali ini mengeksplorasi karya vokal dengan tema Sumatera, tema Galeri Indonesia kaya dua bulan ini. 

Dibuka dengan tarian Melayu yang dibawakan oleh 6 penari Kinarya GSP asuhan Guruh Sukarno Putra, pilihan repertoar lagu Sumatera pun dijatuhkan pada karya-karya dari Tapanuli seperti O Tano Batak, Sigulempong, Dago Inang Sarge, Nasonang da hita dan Makdekdek Magambiri sembari diiringi permainan piano Aditya Pradana Setiadi. Lalu dirangkum dengan karya Tanah Air dari Ibu Soed yang bersambut senandung dari pihak penonton. Setelah diselingi oleh permainan lagu Intermezzo dari Opera Cavalleria Rusticana, mezzosoprano didikan University of British Columbia hingga tingkat master ini membawakan karya-karya aria kunci dari repertoar mezzosoprano, terutama tokoh wanita gipsi Carmen dari opera dengan judul sama karya Georges Bizet seperti Habanera dan Seguidille. Juga karya Gioachino Rossini L’italiana in Algeri Cruda Sorte dibawakan dengan apik. Pun resital pendek 40 menit kemudian bungkus dengan senandung Neapolitan O Sole Mio.

Dari pemilihan karya dan penyusunannya bisa dikatakan cukup menarik karena secara umum Heny Janawati memilih karya-karya yang cukup ramah di telinga penonton bahkan familiar. Aditya Setiadi pun mengaku bahwa untuk mempertahankan tema, ia menggunakan berbagai gaya opera dalam karya-karya tradisional Batak – sebuah upaya yang besar mengingat secara esensi karya-karya ini adalah musik tradisi yang secara prinsip tidak terlahir dalam kompleksitas. Lagu-lagu dari Tapanuli pun seakan mengajak para penonton berdendang lewat permainan improvisatoris di atas piano. Memang dikenal di seantero negeri bahwa saudara-saudara dari Tanah Batak adalah mereka yang sehari-hari bergaul dengan nyanyian dan musik, sehingga tidak heran seperti pada lagu Sigulempong, sebagian penonton yang berasal dari tanah Batak berdiri, menari dan turut menyanyikan lagu tersebut, bahkan terselip harmonisasi spontan dari penonton, hal yang pada prakteknya biasa dilakukan di tanah Batak.IMG_Heny3

Suasana santai dan mengundang partisipasi penonton itu sebenarnya bukan muncul dari mana-mana, melainkan memang muncul dari bagaimana Heny Janawati membawakan seluruh kemasan acara ini. Kehadirannya di atas panggung pertama kali ketika menyanyikan lagu-lagu tradisi langsung mengingatkan akan sosok Carmen yang berani dan atraktif. Kulit sawo matangnya yang berbalut batik dari butik Zeta, menyiratkan kesan eksotis yang lekat pada sosok wanita gipsi Carmen itu. Dengan kualitas vokal yang terjaga namun dengan proyeksi yang rileks namun tidak bombastis, Heny begitu interaktif dengan penonton. Sesekali ia meninggalkan panggung untuk menari bersama penonton, bahkan menjadikan penonton seolah lawan mainnya dalam bernyanyi dan berakting. Sebuah interaksi yang agaknya masih jarang dalam penampilan-penampilan vokal kita. Ia pun dengan santai mengajak penonton bernyanyi bersama apabila ia mendapati penonton dapat bersenandung karya tersebut. Atraksi panggung yang seru sore tadi dibungkus dengan vokal yang juga prima dan warna mezzosoprano yang hangat. Jadi, jelas Heny bukan hanya mengandalkan aksi panggung semata, namun juga kaya dengan penyampaian pesan operatik yang terpancar lewat pesona diatas panggung, walaupada karya musik tradisi sekalipun. Sungguh mirip dengan tokoh Carmen.

Walaupun acara sore ini tergolong pendek, namun bisa dikatakan acara ini adalah acara yang menghibur bagi 150 orang yang hadir dalam auditorium ini. Walaupun kesan ‘wah’ seakan coba ditampilkan oleh Galeri Indonesia Kaya selaku penyelenggara, namun nyatanya acara sore ini malah lebih sukses tergolong sebagai acara yang ramah terhadap penonton, jauh dari kesan megah dan wah – begitu membumi. Inilah sebuah persembahan manis dan intim untuk Sumatera dan Indonesia dari seorang mezzosoprano yang telah meniti karier di Eropa dan diklaim sebagai satu-satunya orang Bali yang dididik sebagai penyanyi opera ini.IMG_Heny2

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Carmen dari Bali: Sumatera dan Intimasi

  1. adakah videonya ?

  2. Nda milik bu vivi… Ada di penyelenggara spertinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: