Kabar Terkini

Organisasi Seni bisa Profesional?


Seberapakah organisasi seni kita telah dikelola secara profesional? Mungkin itu pertanyaan yang harus kita selalu jawab, terutama bagi sebuah organisasi seni yang menjadi corong perkembangan seni dan budaya publik. Seringkali pertanyaan ini terlupakan karena seringkali seni dianggap sebagai hal yang terlalu magis dan mistis sehingga dalam upaya pengelolaannya pun seakan tidak sesuai dengan standar manajemen pada umumnya, sebuah cara pikir yang jelas tidak tepat.

Apabila kita melihat organisasi seni, ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dijawab untuk kemajuan organisasi dan seni itu sendiri:

  1. Sudahkah melihat bahwa seni sekalipun bukan komoditas adalah sebuah produk dari proses yang sustainable dan berkelanjutan?
  2. Sudahkah penyelenggaraan kegiatan seni, pengelolaan fasilitas dan manajemen sumber daya yang sudah dilakukan secara profesional?
  3. Apakah efisiensi dan efektivitas sudah menjadi salah satu perhatian dalam manajemen sembari terus meningkatkan value/nilai yang diterima oleh masyarakat?
  4. Sudahkah nilai-nilai profesionalisme dan tanggung jawab organisasional dibina oleh internal organisasi seni?
  5. Apakah unsur perencanaan dan audit sudah menjadi bagian integral dari organisasi?

Seni bukanlah barang murah, tapi juga bukan berarti tidak bisa dikelola secara lebih ekonomis, menekan pengeluaran sembari terus mempertahankan kualitas secara jeli. Pada akhirnya memang butuh ketangkasan dan keterampilan tersendiri untuk terus memanage ekspektasi, baik dari audiens, seniman, organisasi, sponsor dan patron, serta lingkungan masyarakat sekitar, pemerintah dan bahkan internal organisasi sendiri.

Yang sering terjadi memang banyak organisasi seni kita tidak akuntabel, dan seringkali tidak terbina dengan profesional. Mengelola institusi seni seakan mengelola warung di pojok perumahan, mungkin itu yang sering kita lihat. Efektivitas dan efisiensi pekerjaan tidak diperhatikan. Pengeluaran membumbung, tapi tidak dibarengi dengan nilai yang dikontribusikan ke stakeholders. Komunikasi eksternal walaupun terlihat mutakhir dengan pemberdayaan media sosial namun tidak tergarap dengan profesionalitas kerja yang cukup, dibareng dengan etika yang jelas. Pun fasilitas seringkali terbengkalai dan tidak dimaintain dengan baik, belum inventarisasi asset yang berantakan. Pembukuan pun bisa jadi tidak jelas dan tidak terpapar dengan baik.

Alasan yang terbaik memang menyalahkan faktor finansial dan tidak adanya kepedulian dari masyarakat. Tapi ada baiknya sesekali kita melihat ke dalam apakah memang organisasi sudah beres secara internal? Pun ketidaktahuan malah menjadi alasan, dan problemnya seringkali adalah kebebalan yang menjadi sandungan. Apabila tidak bisa dibenahi secara mendalam oleh sumberdaya internal, mungkin sudah saatnya organisasi seni tersebut mempekerjakan konsultan eksternal yang bertanggung jawab mengidentifikasi dan membuat langkah-langkah penyehatan yang diperlukan.

Mungkin buat beberapa pihak dan bahkan pekerja seni sendiri ini adalah barang aneh, bahwa organisasi seni bisa dibina layaknya sebuah badan usaha. Kenyataannya adalah seni pun harus dibina secara profesional. Profesional bukan berarti terima uang untuk jasa Anda, tapi sungguh melayani kebutuhan publik. Pun seberapapun tertutupnya organisasi seni, seni ujung-ujungnya melayani komunitas dan bukan pelanggan yang cuma sejumlah jari di satu tangan. Untuk itulah transparansi, akuntabilitas dan tanggung jawab terhadap publik dan komunitas adalah harga mati. Etika juga menjadi satu poin yang harus selalu dibina. Apabila tidak, yang ada adalah komunitas dan publik tidak dapat lagi melihat value yang ditawarkan oleh organisasi, kepercayaan pun hilang dan tidak heran gulung tikar.

Bukan pekerjaan mudah? Tentu saja tidak, malah butuh etos kerja yang lebih kuat. Kalau mau bekerja di seni cari mudah dan senangnya saja, mungkin sedari awal oknum tersebut memang sudah tidak cocok bekerja di bidang ini.

 

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Organisasi Seni bisa Profesional?

  1. Organisasi Seni bukan (apakah) bisa profesional tapi HARUS bisa profesional. Profesional disini bisa saya artikan dalam koridor asas legal formal. Karena kalau diluar itu maka tidak akan ada aturan kerja, tidak ada manajemen keuangan dsb, serta standar yang baku.
    Adapun kegiatan yang berlaku di sebuah organisasi seni pada umumnya adalah project. Ini artinya ada sebuah kegiatan yang bermula pada waktu yang ditentukan, pun berakhir pada waktu yang ditentukan pula. Berbagai literatur mengenai manajemen proyek bisa banyak kita temukan. Akan tetapi pengalaman saya ketika menjabat direktur eksekutif lembaga kesenian, ketika turut serta dalam sebuah lokakarya yang diprakarsai Yayasan Kelola bekerja sama dengan PPM, mengenai manajemen proyek. Kegiatan ini diikuti oleh sebagian besar pengelola lembaga kesenian yang perwakilannya dikirim dari bbrp wilayah baik di Jawa maupun di luar Jawa.
    Cukup menarik bahwa lembaga2 seni yang turut serta ini tidak bisa serta merta disebut organisasi karena mereka memiliki karakter sebagai perpanjangan tangan Dewan Kesenian atau Dinas Kebudayaan sebuah provinsi, disamping juga ada lembaga2 yang didirikan oleh komunitas/kelompok atau perorangan yang memiliki interest pada sebuah bentuk kesenian. Ini yang lantas saya garis bawahi ‘memiliki interest’ karena cara pandang yang cenderung sempit hanya kepada lembaga yang dinaunginya, pula kurang memiliki intuisi tajam atau strategi jangka panjang. Hal mana yang selalu ditemukan pada organisasi formal adalah adanya elemen Eksekutif untuk menentukan platform serta perencanaan baik jangka pendek, menengah dan panjang, elemen artistik untuk menentukan apa yang akan dikerjakan, siapa yang menjadi bintang utama dsb, serta elemen administratif sebagai denyut nadi jalannya organisasi.
    Selalu harus ada titik temu antara elemen eksekutif dan artistik, karena bagaimanapun sebuah perencanaan strategis akan selalu aware pada persoalan budget, situasi ekonomi politik budaya dsb, sementara artistik selalu berkutat pada sisi idealisme karya seni.
    Adapun organisasi seni yang cukup mapan berkesinambungan adalah organisasi festival seni. Misalnya JavaJazz yang memiliki program festival musik (walau tidak melulu) jazz setiap tahunnya dengan melibatkan musisi2 dari dalam dan luar negeri.
    Sementara jika menyebut nama Teater Koma yang juga kerap menggelar pementasan, namun tidak bisa ditentukan apakah setiap dua bulan atau enam bulanan karena lagi2 alasan utamanya adalah sponsor. Lantas bagaimana dengan komunitas atau kelompok kecil yang ada di daerah2?
    Kurang lebih demikian pemaparan saya terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: