Kabar Terkini

Stakeholder: Teridentifikasi?


Seni dan seniman seringkali berputar pada dunianya sendiri, mungkin itu yang seringkali terpikirkan oleh banyak orang mengenai seniman yang ia kenal. Seniman seolah tidak berkepentingan untuk mengetahui apakah dampak dari karyanya pada orang lain dan celakanya pedekatan romantisme yang terlalu subjektif malah menjadikan sang seniman hanya peduli pada dirinya sendiri, seakan dunia berputar mengelilinginya.

Ngeri? Ya tentu saja. Apakah seniman macam ini akan berhasil? Bisa saja, namun peluangnya tidaklah terlalu besar. Sebagaimana dunia korporasi, seni pun untuk berhasil harus sungguh mengerti siapakah stakeholdernya. Siapakah pemangku kepentingan yang harus dikenali oleh sang seniman?

Stakeholder dalam pengertian dunia korporasi adalah mereka yang dapat mempengaruhi ataupun terpengaruh oleh pergerakan dan aktivitas korporasi tersebut. Adapun ada dua jenis stakeholder: Primer yang menyangkut pihak yang berhubungan langsung dengan bisnis seperti pelanggan, karyawan, pemegang saham, suplier, serta Sekunder tidak tersangkut langsung seperti contohnya masyarakat, pemerintah, komunitas, dan media. Dan juga ada Key Stakeholder yang sungguh berpengaruh pada pergerakan korporasi dan wajib diberi perhatian lebih.

Dalam dunia seni, apakah stakeholder ini penting? Menurut hemat saya tentu penting, karena karya seni tidak berdiri sendiri tanpa dinikmati orang, tanpa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Alhasil, tidak mungkin bahwa stakeholder dari seniman adalah sang seniman sendiri, tanpa sangkut pautnya dengan dunia luar. Nyatanya dunia seni yang tidak bersinggungan dengan orang lain dan di mana sang seniman bisa berkreasi sesuai kehendak hatinya sendiri tanpa campur tangan pihak luar adalah pemikiran utopis yang menyesatkan.

Stakeholder tidak melulu menyoal uang dan pendanaan, tidak sama sekali. Tapi kejelian mengenali pemangku kepentingan tentunya akan menjadi basis bagi sang seniman untuk mengerti keadaan di sekitarnya dan berkarya dalam kerangka yang mendukung ekosistemnya dan pada akhirnya mendukung keberlangsungan seni itu sendiri.

Nyatanya banyak organisasi seni dan bahkan pelaku seni pribadi yang belum mengenali siapakah pemangku kepentingan baik di dalam dan di luar entitas mereka. Alhasil organisasi dan pelaku seni macam ini bagaikan orang-orang yang tidak tahu kemana harus melangkah. Visi ada namun seakan tidak mengakar, karya terus dihasilkan namun terlupakan begitu cepatnya. Tidak jarang sang seniman sibuk mengutuki sekitarnya yang tidak visioner dan kurang terdidik untuk dapat mengerti idealismenya dan berharap di masa mendatang ada pihak yang cukup ‘cerdas’ untuk bisa menghargai hasil keringatnya.

Visi tanpa mengerti unsur dan kepentingan stakeholder adalah visi yang kosong. Visi yang kosong akan menjadi sebab misi yang gagal dan operasional yang sia-sia. Pelaku seni dan organisasi harus sadar bahwa mereka berdiri di atas bahu penyokong mereka, baik karyawan, patron, pemodal, penyuplai, masyarakat pecinta seni, fans dan bahkan komunitas sesama seniman. Mengenali keberadaan mereka dan melihat skala signifikansi mereka dalam berbagai aktivitas berkesenian dan operasional akan memberikan gambaran yang jelas siapa mereka dan bagaimana setiap pihak bisa berkontribusi untuk menentukan visi dan menggerakkan roda bersama menuju tujuan.

Perlu diingat bahwa sadar akan adanya stakeholder bukan berarti melacurkan diri dan melacurkan seni untuk kepentingan uang dan popularitas. Melacur adalah pilihan untuk mengorbankan idealisme dan kualitas untuk sekedar mencari keuntungan yang bersifat jangka pendek serta biasanya bergantung pada oknum baik dari seniman, organisator ataupun stakeholder tersebut. Karenanya kecerdasan dalam mengenali medan adalah harga mati untuk tetap relevan di mata sekitar namun tetap berpegang pada idealisme berkesenian.

Pada akhirnya memang berkesenian tidak melulu soal si seniman dan karya seninya, karena apabila hanya itu yang menjadi satu-satunya fokus, sangat besar kemungkinan, sang seniman dan karya seninya akan kehilangan relevansinya di jagad. Tentunya apabila demikian, tinggal tunggu waktu saja sebelum seni tersebut mati. Idealistik dan realistik serta membumi itu harus menjadi resep utama dalam berkesenian yang berkualitas. Lebih banyak tulisan tentang Relevansi, komunitas, upaya relevan.

Mungkin tanpa berpanjang lebar, saya bertanya dengan singkat saja untuk memulai Stakeholder Analysis Anda, siapa stakeholder Anda dan bagaimanakah peran yang bisa ia bantu untuk kemajuan berkesenian dan berorganisasi Anda? Apakah kepentingannya dalam organisasi Anda dan bagaimana Anda bisa mengakomodasinya dalam kebijakan, perencanaan dan program Anda? Mari petakan dalam kuadran di atas, dalam kuadran manakah ia?

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Business Plan Seni: 9 Poin Penting untuk Organisasi Anda | A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: