Kabar Terkini

Ocha dan Identitas dalam Keragaman


Ocha1Malam ini menjadi malam debut Ocha atau Rosa Sabina Aliandoe di hadapan publik. Lewat resitalnya “A Musical Potrait” Ocha membawakan warna yang sedemikian kaya pada pagelaran di Usmar Ismail Hall Kuningan, Sabtu malam kemarin.

Sebagai seorang mezzosoprano, Ocha yang tahun ini menginjak usia 40 tahun tampil dengan luwes di atas panggung, berkisah baik dalam suara nada maupun dalam kata-kata. Walaupun sempat belum panas benar di awal babak pertama, namun Ocha mampu membawakan tembang-tembang puitik yang menjadi spesialisasinya. Musik tembang puitik dari dua dari masing-masing Johannes Brahms, Schumann, serta satu dari Faure, Ned Rorem dan Richard Strauss dipadu dengan karya Trilogi “Puntung Berasap” Mochtar Embut lewat puisi  Usmar Ismail yang adalah kekayaan tembang puitik lokal. Kemampuan Ocha berkisah dengan natural tergambar lewat nyanyiannya yang mampu menggarap teks menjadi seakan hidup dan personal. Terlebih dengan personanya di atas panggung, Ocha yang diiringi oleh pianis Priska Budihardjo tampil memikat penonton dengan kemampuannya menguasai panggung Usmar Ismail yang tidak bisa dikatakan kecil.

Keluwesan Ocha bukan hanya ditunjukkan melalui bagaimana ia berkisah di atas panggung, namun juga melalui kemampuan musikalnya. Keberanian untuk bereksplorasi namun disertai tanggung jawab sungguh menjadi potret mezzosoprano yang telah menimba ilmu dari begawan vokal tanah air seperti Catherina Leimena, Binu Sukaman, Aning Katamsi dan Joseph Kristanto Pantioso yang juga bertindak sebagai direktur musik pagelaran malam ini bersama Marthin Tupanno.

Babak kedua adalah saat Ocha tampil dengan rileks melalui keberaniannya merambah genre musik lain seperti Jazz dan Keroncong yang secara mengejutkan dieksekusi dengan fleksibilitas yang luar biasa. Jujur saja, mezzosoprano adalah cenderamata di kedua genre ini. Ocha yang tampil bersama combo jazz band membawakan 4 karya jazz standar seperti My Funny Valentine dengan Lullaby of Birdland. Dalam keempat karya ini tidak lupa Ocha juga mengeksplorasi scat singing yang menjadi ciri khas improvisasi penyanyi jazz. Walaupun memang bukan ranahnya, Ocha berusaha membuang keragu-raguan dan lepas dalam berscat ria sembari ditimpali improvisasi setiap anggota band. Suaranya yang khas dan rendah membawa kehangatan tersendiri pada nomor-nomor jazz ini, sebuah kualitas yang patut dicatat secara khusus.

Ocha2

Lain daripada itu, Ocha juga membawakan 2 buah karya Bing Slamet, secara minimalis namun indah, dengan iringan gitar dan 3 orang penyanyi latar. Dua lagu itu adalah “Belaian Sayang” dan “Trima Laguku”. Dan lalu karya-karya keroncong standar yang giliran mengisi babak kedua hingga penutupnya, karya-karya Ismail Marzuki “Selendang Sutra”, “Tanah Airku”, karya Gesang “Jembatan Merah”Lagu pop “Gang Kelinci” yang dipopulerkan oleh Titiek Puspa yang riang pun diadopsi menjadi sebuah karya keroncong. Dan lagi-lagi Ocha dengan fleksibel membawakan karya-karya keroncong ini dengan rileks. Cengkok khas keroncong pun ia adopsi dengan leluasa. Iringan orkes keroncong pun memberi warna yang lain dari yang lain. Dorongan dan intensitas seakan tersembunyi dalam kocokan cak dan cuk serta lantunan biola dan flute yang santai.

Suguhan malam ini sungguh adalah potret musikal yang kaya oleh seorang mezzosoprano Ocha. Ya, mungkin ini adalah debut concertnya di depan umum. Namun di usianya yang ke-40 yang memang dengan sengaja ia jadikan sebagai sebuah momen untuk konser ini, ia menunjukkan kematangannya dan fleksibilitasnya sebagai seorang musisi. Kapan lagi kita bisa menyaksikan klasik, pop, jazz dan keroncong di atas satu panggung dan dibawakan oleh seorang vokalis – sebuah kesempatan yang teramat langka, dengan kualitas yang baik dengan proyeksi natural ataupun teramplifikasi dengan mic. Pun lagu-lagu barat bersanding dengan lagu-lagu Indonesia, tembang puitik maupun keroncong tanah air?

Satu encore yang disuguhkan malam itu nampaknya belum cukup mengobati keingintahuan audiens akan mezzosoprano yang menempuh pendidikan sebagai sarjana hukum dan ilmu pendidikan ini. Dan dengan keragaman kecakapan seperti ini, jelas Ocha sudah menempatkan diri sebagai vokalis unik yang patut diperhitungkan. Sebuah potret? Bukan, sebuah identitas yang lekat sebagai seorang seniman vokal Indonesia.Ocha4

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: