Kabar Terkini

Keroyokan… Ramai! Mungkin Lebih Baik


Seni hampir selalu berbicara tentang pelayanan masyarakat, lebih setelah kita menyadari bahwa masyarakatlah yang seharusnya berhak atas seni itu sendiri. Namun sayangnya selain perlu digodok lagi mengenai konsep seni sebagai kearifan masyarakat, nampaknya kita belum terlalu paham dan bersedia untuk melibatkan masyarakat dalam proses kepemilikan dan tanggung jawab atas kemajuan dan geliat dari kesenian tersebut. Salah satu cara yang patut dicoba adalah crowdsourcing.

Crowdsourcing sendiri sebagai sebuah istilah sebenarnya muncul dari kata “crowd” dan “outsourcing” dimana publik mendapatkan tempat untuk berkontribusi terhadap perkembangan maupun pengoperasian suatu entitas, kegiatan, ataupun inisiatif. Sungguhpun demikian kita harus menyadari bahwa crowdsourcing macam ini tentunya harus disertai dengan penerapan metode dan limitasi yang cukup jelas terhadap lingkup pekerjaan, namun umumnya dibuka seluas-luasnya demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi.

Dalam seni, crowdsourcing bisa jadi merupakan bagian dari langkah untuk melibatkan publik lebih jauh dalam proses yang berkaitan dengan kegiatan maupun karya seni. Proses kreativitas, marketing hingga penentuan arah manajemen bisa jadi dilakukan dengan melibatkan crowdsourcing di dalamnya. Langkah ini bisa jadi dilihat dari bagaimana masukan dan kontribusi masyarakat menjadi nyata dalam dukungan terhadap keberlangsungan seni dan proses penciptaannya. Beberapa frase dari tweet berbagai kontributor misalnya bisa saja dirangkai menjadi karya sastra yang tidak kalah indah. Ataupun mungkin bentuk lain crowdsourcing dalam sisi finansial adalah crowdfunding di mana setiap pihak yang hendak berkontribusi, secara terbuka, terfasilitasi untuk mendanai – siapapun mereka tanpa dibatasi.

Alangkah pun demikian, seringkali upaya crowdsourcing dalam bidang seni terutama dalam segi penciptaan seringkali dicibir karena seakan menanggalkan konsep romantisme seni yang berfokus pada karya individu yang tercerahkan saat membuat karya seni tersebut. Juga kita mendapati bahwa ada anggapan bahwa upaya mengkonsolidasikan berbagai ide dari berbagai pihak malahan menjadi alasan bahwa upaya tersebut bukanlah upaya penciptaan karya seni.

Walaupun ide crowdfunding adalah ide yang menjadi dasar dalam kebanyakan bentuk patronik modern, namun bentuk manajemen ataupun proses kreatif agaknya masih tersangkut menerapkan Crowdsourcing. Banyak yang mengatakan bahwa dalam crowdsourcing ada kecenderungan bahwa pemberdayaan sumber daya tidaklah terarah dan itu adalah benar. Selain itu pendekatannya yang bisa jadi sporadis dan cenderung kurang efisien. Pun dunia seni juga berhadapan langsung dengan efisiensi di masa seperti sekarang ini dan memang outsourcing yang tidak terkelola dengan baik hanya akan menjadikan tak inisiatif yang tidak berarah dalam perkembangannya.

Namun demikian yang bermasalah terutama adalah proses kreatif dan pandangan seni. Walaupun seni adalah dunia yang altruis, namun seni yang mendengarkan kemauan publik seringkali dicap bukan sebagai karya seni yang sungguh berkualitas. Seakan kita semua terbuai akan gambaran seorang seniman yang seorang diri berkarya dan menerabas publik, apalagi mendengarkan apa aspirasi yang ada di publik. Pun dalam seni, kita langsung mencap apa yang berasal dari publik walaupun terdengar unggul tetaplah dianggap sebagai karya kelas dua. Dan paradigma inilah yang harus dibuang jauh-jauh.

Kelas dua maupun kelas satu, nyatanya publik adalah pemilik dari seni itu sendiri dan adalah harga mati yang membutuhkan partisipasi publik. Malangnya kita sebagai pekerja seni lebih senang menempatkan publik dalam ikatan penonton yang pasif dan bahkan hanya terdiam terpana melihat hasil saja, tanpa terlibat dalam proses.

Yang pasti seni tanpa patron dan crowdfunding adalah konyol dan akan mati cepat atau lambat. Pertanyaan kita sekarang adalah sudikah organisasi seni dan insan seni mau lebih aktif mendengarkan? Kalaupun tidak, ketika bisnis masa kini semakin terbuka akan kontribusi dari luar entitas lewat crowdsourcing seni dan penggerak seni malahan menutup diri. Maka bersiaplah karena kita tidak akan mampu berkutik apabila kita berada di tengah serbuan dan citra seni populer yang seringkali menimbulkan kesan yang lebih relevan di tengah penikmatnya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: