Kabar Terkini

Crowdsourcing, Tweet Opera yang Gagal, Sebuah Pemikiran


Anda percaya bahwa tweet dari banyak orang bisa menjadi sebuah opera? Ya, Royal Opera House di London telah membuktikannya. Lewat sayembara tweet, tweeps berhak menentukan arah kisah opera “Tweet Opera” yang dilakukan tahun 2009 yang lalu. Ya, sudah 5 tahun gebrakan nakal ini dimulai.

Ya, crowdsourcing ini telah menjadi sebuah eksperimentasi sosial dalam penulisan naskah opera. Ingat masa-masa ketika di sekolah, kita bersama teman sekelas menulis sebuah cerpen dengan maksimal 3 kalimat? Ya, saya dan kawan mencobanya dan hasilnya memang jauh diluar ekspektasi saya, sebut saja ini sebagai crowdwriting. Di satu sisi begitu mencengangkan dan magis, di sisi lain memang tidak berarah tanpa juntrung. Nyatanya itulah yang terjadi dalam “Tweet Opera” ini. Lihat kisahnya di sini.

Harus diakui bahwa kompleksitas yang akhirnya berbuah ruwet bisa terjadi dalam penerapan crowdsourcing. Itulah juga yang terjadi ketika proses penciptaan “Tweet Opera” ini memasuki babak kedua dikarenakan plot cerita yang tidak lagi terlalu jelas arahnya – suatu kenyataan yang memang tidak bisa dipungkiri akan terjadi. Walaupun babak satu selesai, namun agaknya sudah semakin sulit untuk menjahit kedalam babak kedua. Alhasil apa yang ada itu dahulu yang dipentaskan. Lihat kisahnya di sini.

Namun demikian, bukan berarti sebuah kebijaksanaan dan keindahan tidak mungkin muncul dari publik. Mengidentifikasikan publik sebagai massa yang bertindak dungu tentu adalah salah kaprah. Walaupun demikian, memang ide-ide yang berterbangan dari crowdsourcing bisa jadi semakin tidak berarah, namun crowdsourcing seperti ini apabila digunakan secara mawas dapat menjaring keterlibatan dan bahkan membuahkan ide-ide brilian yang penuh warna. Meskipun banyak ide-ide bermunculan, memang pada akhirnya tetap membutuhkan sang seniman untuk menjahitnya dan menjadikannya kesatuan yang hidup dan berkonsep.

Demokratisasi proses penciptaan seni? Bisa jadi terlalu jauh dan terlalu lepas, seperti ketika demokrasi tanpa limitasi yang jelas akan berbuah anarki. Juga sama dengan kisah babak ke-2 “Tweet Opera”. Tetapi sekarang, budaya masa kini yang kita lihat adalah budaya yang sedemikian reseptif akan berbagai sugesti dari luar. Semua seakan bergerak sedemikian cair dan cepat dan ide datang bertubi-tubi. Dan lewat crowdsourcing, beragam warna dan sudut pandang bisa kita pegang dan jadikan sebagai modal awal bekerja dalam penciptaan. Selanjutnya terserah sang kurator untuk menentukan mana yang relevan untuk konsepnya.

Bisakah kita melibatkan banyak orang, mengakomodasi pemikiran mereka tanpa menjadikannya picisan? Ya, pada akhirnya bergantung kepada kualitas sang editor yaitu sang seniman itu sendiri. Walaupun mungkin materi detil adalah hasil crowdsourcing, namun si seniman tetap memiliki tanggung jawab atas keberlangsungan karya itu. Seniman tidak akan kehilangan pekerjaannya kok hingga saat ini…

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: