Kabar Terkini

Segar Sentuhan Wilson Hermanto bagi JSO


JSO2HermantoMenyegarkan, mungkin itu satu impresi yang muncul ketika not pertama karya The Creatures of Prometheus Overture dimainkan. Dengan jernih, nada pertama seakan membuka gerbang menuju seluruh pergelaran malam itu yang dipersembahkan oleh Jakarta Simfonia Orchestra di bawah konduktor tamu Wilson Hermanto. Di bawah arahan konduktor yang kini bermukim di Swiss dan menimba ilmu di Peabody Conservatory dan Manhattan School of Music ini, JSO tampil seakan dengan warna baru yang segar dan agaknya berbeda dengan orkes yang biasa kita kenal dalam rangkaian program purna-Beethoven malam itu.

Linus Roth, solois biola malam itu juga tampil dengan mengesankan. Mungkin inilah kala pertama penulis melihat dan mendengar dengan sadar sebuah biola Stradivarius yang amat terkenal itu. Ya, Roth memainkan Stradivarius “Dancla” buatan tahun 1703 yang langka dari pembuat biola tersohor itu. Di tangannya, permainan Roth begitu memukau dengan kejernihan eksekusi yang luar biasa bahkan dengan teknik triple-stop sekalipun. Setiap intrikasi dan bahkan alur warna permainan ia kembangkan sedemikian rupa dengan ketelitian yang luar biasa. Perawakannya yang tenang membuat setiap nada yang ia buat terdengar penuh membahana di Aula Simfonia Jakarta bahkan dalam detail dan dinamika terkecil sekalipun dalam karya standard konserto biola, Violin Concerto Op.61 masih dari Beethoven. Permainannya terasa berisi walaupun tanpa perlu masuk ke dalam gaya Dionisian yang bergelora dan memabukkan.

Di sisi lain, orkes tampil dengan dorongan dan temperamen yang kuat, JSO yang sempat terdorong dalam hembusan arahan Wilson yang cepat namun terukur dan tergarap dalam Prometheus op.43, namun pada karya konserto terlihat menahan diri dan agaknya sedikit kurang tergarap. Walaupun sempat bercengkrama dengan solois, namun terlihat bagaimana orkes belum dapat secara ensembel menjadi rekan Roth yang berjalan beriringan, dan gejala semakin terlihat di bagian ketiga. Terdengar bahwa orkes berada di sisi yang berbeda dan seakan tidak terlibat secara aktif dalam dialog. Permainan memang cukup rapih, namun seakan belum mampu menjawab preposisi kalimat musik yang ditawarkan oleh Linus Roth. Orkes pun bermain “by-the-book” tanpa berani menjawab kalimat yang disampaikan Linus dan membiarkan musik dari “Ratunya Konserto Biola” ini bergulir saling terjalin. Mngkin permainan bisa terjun di resiko liar namun tentunya akan lebih hidup dan dinamis.

Walau demikian, permainan Linus sudah mampu mengundang decak kagum dan mengundang tepuk tangan yang luar biasa dari penonton. Ia pun membalas dengan permainan encore karya dari Eugène Ysaÿe, Sonata No.3 “Ballade” yang terdengar sangat dekat di hati biolinis asal Jerman yang kini menjabat sebagai Profesor biola di University of Augsburg. Terdengar berbeda dengan Beethoven, karya solo yang meninggalkan jejak disonansi dan sedikit eksplorasi atonal ini justru mampu menjadi jembatan komunikasinya dengan audiens yang terdengar intens dan membara. Pada saat ini barulah bisa kita katakan bahwa musisi telah melanglang buana di Eropa ini tidak hanya sekedar pemain yang baik dengan instrumen yang teramat bagus, namun sungguh seorang pemusik berkelas yang berbicara hati ke hati lewat biolanya.

Di babak kedua, giliran Wilson Hermanto yang juga adalah alumnus dari Bina Musika Jakarta sebelum mendalami biola di AS yang mempersembahkan Symphony no.2 dalam D Mayor, op.36. Sedikit berbeda dengan konserto biola di babak pertama, orkes bermain dengan lebih lepas. Konsernya bersama dengan Jakarta Simfonia bisa jadi penonton merasa melihat JSO yang berbeda dengan orkes yang biasa mereka saksikan. Oleh Wilson, permainan yang tergarap diramu dengan musikalitas yang teksbook namun kental citarasa memberikan warna lain dari karya yang dibuat semasa komponis kelahiran Bonn ini bereksperimentasi dengan gaya klasik peninggalan Mozart. Sungguh sulit sebenarnya untuk mengelola permainan era klasik akhir yang elegan dengan gaya “Sturm und Drang” yang kaya ledakan-ledakan emosi seperti dalam karya ini. Namun Wilson mampu menggarap semuanya itu tanpa terlalu sering jatuh dalam musik yang hambar yang seringkali terjadi di dalam orkes yang bermarkas di Kemayoran ini.JSO1Hermanto

Memang di beberapa tempat seakan secara teknis ada keterbatasan dari sisi pemain tapi kualitas suara orkes ini secara umum meningkat dengan tajam. Permainan ensembel dengan kunci “saling mendengarkan” berbuah detail panjang nada yang sama, dinamika, arah kalimat dan balans tergarap dengan bobot Beethovenian yang kuat dan berkarakter. Bahkan hingga saat terakhir, Wilson yang kini telah membina karier di Eropa dan AS tetap berusaha mempertahankan arsitektur musik yang terbina sejak awal karya dengan penuh tenaga dan intens walaupun tenaga dan fokus pemain sudah tersedot habis. Alhasil penonton pun bersorak seusai bagian keempat dan berbuah encore yang memainkan kembali Overture Prometheus op.43 tadi.

Menyenangkan melihat setiap pemain Jakarta Simfonia Orchestra berusaha menampilkan musik yang terbaik dengan eksekusi yang berkelas. Memang peningkatan kualitas yang konstan tidak serta merta terjadi dalam semalam-dua malam, namun dengan sentuhan seorang seperti Wilson Hermanto yang juga baru saja minggu lalu menuntaskan debutnya di Malaysian Philharmonic Orchestra yang memiliki reputasi regional, kita bisa melihat bahwa mimpi orkes Indonesia yang berkelas itu tidak begitu jauh di ujung sana. Dan Jakarta Simfonia Orchestra bisa jadi bergerak ke arah yang benar, semoga…

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Segar Sentuhan Wilson Hermanto bagi JSO

  1. bravoooooo…. one of the best concert in ASJ !!!

  2. I felt the same way too ko! Suddenly JSO sounded really different from before😀
    Dan Wilson itu conducting-nya energetic banget yah, tapi mendetail dan arahannya terlihat jelas. Certainly one of the best concert in ASJ. Thanks for the review😉

  3. Terimakasih monic dan jjcb… Senang bisa melihat orkes kita berbunyi dengan semarak kmrn… Sayangnya yang menonton sedikit..

  4. hehehe seru yah melihat bagaimana pemain-pemain itu sebenarnya sangat bisa dan sangat mumpuni bila dipimpin oleh orang yang punya skill dan visi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: