Kabar Terkini

Tunas Muda Orkes Kamar Bersemi


jcomco

Agaknya jarang kita melihat sebuah orkes dipimpin oleh seorang konduktor di depan papan nada. Layaknya W.A. Mozart yang semasa hidupnya memimpin orkes sembari dirinya bermain piano, demikian juga Iswargia Sudarno, konduktor dan pianis kawakan yang memimpin Jakarta Conservatory (JCom) Chamber Orchestra dalam konser debutnya di Goethe Haus Sabtu kemarin.

Memimpin orkes sembari berperan sebagai solois piano, Iswargia dan orkes kamar yang terdiri dari siswa-siswi Konservatorium Musik Jakarta jurusan instrumen gesek dan tiup, memainkan karya Piano Concerto in E-flat Major, KV449 dari komponis kenamaan kelahiran kota Salzburg ini. Adalah perkara yang tidak sederhana untuk memimpin orkes sembari bermain piano dan tentunya membutuhkan koordinasi dan penguasaan musik dan papan nada yang tiada terkira. Namun Pak Lendi, demikian Iswargia sering disebut, duduk membelakangi penonton menghadap orkes dan memainkan karya ini dengan keluwesan di papan nada yang mumpuni sembari sesekali mengayunkan tangan memberi aba-aba dan arahan musikal pada orkes.

Memang masih terdengar bahwa ada sedikit kelimpungan tersendiri dalam membina konsistensi tone pada kalimat panjang pada permainan piano dari pianis yang dikenal memiliki penguasaan tone yang mumpuni ini. Namun, permainannya tetap terdengar indah dengan garis nyanyian yang penuh warna. Memang dalam memimpin dari depan piano pertama-tama orkes yang dipimpin haruslah memiliki inisiatif permainan yang kuat dan ketajaman intuisi. Beruntung JCom Chamber Orchestra memiliki Andi IB Prawira sebagai concertmaster yang berperan dengan baik dalam konser ini, pun orkes ini juga digawangi oleh 12 talenta muda berbakat serta didampingi oleh 3 orang tutor senior. Suara pun terbina cukup baik dengan teknik yang terjaga, namun sayangnya kurang tergarap dikarenakan permasalahan intonasi pada awal tuning. Jam terbang bisa jadi menjadi alasan betapa stem senar alat gesek dan tiup pada saat pertama kurang diperhatikan, padahal sangat krusial dalam membentuk permainan yang guyub. Permainan musik kamar yang saling bertanya jawab dalam orkes dan bahkan dengan solois piano sulit terjadi, terutama karena problem intonasi.

Meskipun demikian, di babak pertama permasalahan intonasi ini tidak terjadi. Iswargia yang juga adalah Direktur Akademik sekolah musik di bilangan Cipete ini di babak pertama mengambil peranan sebagai konduktor tulen, memimpin pemusik-pemusik gesek menjelajahi tari-tarian eropa dalam Capriol Suite for String Orchestra karya Peter Warlock. Menarik bahwa dalam karya ini menjelajah keriaan permainan musik 6 tari-tarian yang bersemangat ala Basse-Dans dan juga yang lambat anggun seperti Pavane. Cukup menakjubkan bagaimana 14 orang pemain gesek bermain dengan kesatuan hati yang baik dan berkarakter. Memang permainan yang ringan dan lincah bisa jadi menjadi pilihan ketika memainkan karya ini, namun permainan kemarin yang tebal dan penuh ekspresi bisa jadi approach yang lain yang juga tidak kalah valid. Untuk sebuah kelompok yang baru memulai perjalanannya, permainan ini bisa jadi menjadi tolak ukur yang baik untuk perkembangan petualangan musikal selanjutnya.

Konser debut ini tidaklah hanya menampilkan musik orkes, namun juga permainan karya-karya musik kamar dari para pemain orkes sembari didukung permainan pianis muda dari JCom. Trio biolinis Adrian Ichsan, Andi IB Prawira dan pianis Teofilia Onggowinoto bisa menjadi contoh yang baik dalam kesigapan kerjasama membangun arsitektur musik Darius Milhaud dari satu bagian yaitu Animé dari Sonata untuk dua biola dan piano yang cukup rumit. Biolinis Alisha Aprilia dan cellist Adrian Setiawan bersama Jessica Suandrianna pada piano memberikan sentuhan permainan yang berenergi dari bagian pertama Trio op.70 karya L.v. Beethoven. Pun Luqman Taufiqurrahman pada piano, biolin Sandara Alga Cipta dan cello Sulityo Rini mengemas Elegiac Trio dari Rachmaninoff dalam kemasan yang penuh romantisme. Tampil juga flutis Abigail The, Ade Nicolas cello, biolinis Verena Amanda, Yusuf Prabananta dan Mahdiyya Damayanti serta Athalya Salim pada piano.

Secara umum, konser ini bisa jadi menjadi sebuah representasi yang baik dari sebuah orkestra. Orkestra yang kuat selalu dibina dari kefasihan setiap pemainnya dalam musik kamar yang membutuhkan komunikasi dan interaksi musikal satu dengan yang lain dalam format kecil. Dan dalam konser ini tergambarkan bagaimana permainan musik kamar menjadi salah satu fokus dalam pengembangan talenta musisi muda ini. Memang belum semuanya tergambar dengan gamblang pada permainan malam ini. Namun, ini barulah langkah pertama dari Jakarta Conservatory Chamber Orchestra, dan tentunya kita menantikan langkah kedua, ketiga dan seterusnya yang lebih baik dan lebih matang lagi.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: