Kabar Terkini

Tiga Tema, Dua Zaman, Satu BMS


BMS2Iman, Hidup dan Alam, itulah menjadi tema besar konser Sanguinis Choraliensis 2014 yang dibawakan Batavia Madrigal Singers (BMS) di Balai Kertanegara. Sanguinis Choraliensis ini juga menjadi bagian dari May Music Festival yang bertepatan dengan peresmian Balai Resital Kertanegara. Di bagi menjadi tiga bagian besar dengan masing-masing tema, Avip Priatna tampak menanamkan tema “Iman, Hidup dan Alam” tersebut dalam berbagai gaya dan karya dua jaman yang terpisahkan 500 tahun lamanya.

Nampaknya Sanguinis Choraliensis 2014 ini menjadi ajang juga bagi BMS dalam persiapan mereka menuju kejuaraan di Tours, Prancis, akhir bulan ini yang terlihat lewat bagaimana paduan suara ini memadukan karya-karya kompetisi mereka dalam penampilan mereka kali ini. Karya komponis Ériks Ešenvalds yang akhir-akhir ini menjadi populer dalam berbagai ajang kompetisi pun terlihat mendominasi konser lewat tiga buah karyanya yang tampil malam itu: O Salutaris Hostia, Amazing Grace dan Northern Lights yang memadukan glass harp dan handbells yang menyajikan nuansa magis dalam karya ini.

Di sisi lain, beragam karya dibawakan pada konser sore hari itu. Karya-karya renaisans seperti O Magnum Mysterium dari Victoria dan Ave Dulcissima Maria dari Carlo Gesualdo di sisi musik sakra dipadu dengan madrigal seperti Cantiam la Bella Clori dari Marenzio, Mignonne, allons voir si la rose dari Costeley dan Revecy venir du Printans dari Le Jeune mengembalikan BMS sebagai salah satu paduan suara yang berkonsentrasi pada musik-musik ini sesuai namanya.

Namun sebagian besar karya-karya utama dari konser ini berasal dari abad 20-21, seperti Ériks Ešenvalds dan Ola Gjeilo lewat karyanya The Ground dan Across the Vast Eternal Sky yang secara konsep berlawanan dan mengisi tematik “Iman” dan “Alam”. Little Birds karya Whitacre, Ich Will Dich Lieben karya Peter Cornelius, Paroles Contre dari Machuel dan Salve Regina dari Villette dan juga versi lain dari Ralph Hoffmann. Ronde karya Ravel juga mendapat tempat dalam babak kedua dengan tema “Hidup”. Lain daripada itu juga ada karya-karya populer dari film animasi Disney seperti Trashin The Camp dari animasi Tarzan dan Circle of Life dari Lion King.

Secara umum, Avip dengan kharismanya tampak sedemikian bebas mengarahkan Batavia Madrigal Singers yang juga bernyanyi dengan lepas. Eksekusi dinamika dari 32 orang ini begitu meyakinkan, dari yang kecil hingga besar. Harus dikatakan volume BMS begitu dahsyat hingga memenuhi auditorium berkapasitas 200 orang tersebut hingga terkadang cenderung memekakkan telinga, tidak heran karena suara para vokalis ini juga terbukti mampu mengisi auditorium berkapasitas 1000 orang seperti Aula Simfonia Jakarta. Pianis Yosephine Angkawibowo yang duduk setia memberikan nada dan sesekali memainkan iringan piano di beberapa karya.

BMS1Fleksibilitas juga terjaga dalam banyak bagian, eksekusi juga bersih terlebih untuk karya-karya modern yang banyak menghiasi repertoar malam itu. Luwes, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan BMS pada malam itu. Namun demikian, intonasi bisa jadi perlu mendapat perhatian yang lebih dalam berbagai karya malam itu. Seperti dalam karya Ich Will Dich Lieben yang penuh dengan rasa yang menggelora, nampak bahwa eksekusi intonasi bisa lebih digarap terutama ketika volume dan tensi memuncak. Pun terdengar dalam karya Machuel yang transparan tapi diselingi hentakan kaki yang serempak dan le Jeune yang bersifat konduktus vertikal yang membutuhkan eksekusi harmoni yang tepat dan jernih. Penyanyi pun perlu lebih memperhatikan tekstur suara terutama untuk karya-karya renaisans yang amat mengandalkan suara yang ringan dan jernih namun penuh warna.

Batavia Madrigal Singers juga memiliki kualitas yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Kekuatan vokal anggotanya juga begitu terasa dalam rendisi mereka dalam Amazing Grace yang walaupun masih memiliki sedikit isu intonasi namun secara disampaikan dengan kuat dalam emosi. Circle of Life juga terasa begitu hidup bergelora dan cenderung ramai, namun Little Birds mampu menumbuhkan kesan tenteram tersendiri yang damai dalam balutan permainan piano Yosephine dan puisi berbahasa Spanyol dari penyair Octavio Paz ini. Trashin’ The Camp menutup konser tiga babak ini dengan meriah lewat harmoni barbershop dan ramai dengan scat singing yang mengajak penonton masuk dalam keriangan.

Avip pun membuktikan kehandalannya dalam mengarahkan paduan suara yang terkesan rileks, tanpa gerakan yang membebani kualitas vokal penyanyi paduan suara. Pun nampak bahwa gerakannya efektif bahkan dalam pulsasi alla breve yang dalam O Magnum Mysterium, sebuah lagu yang terlalu sering dibawakan, namun seringpula terlupakan bahwa tingkat kesulitan karya ini begitu tinggi walau dikemas dalam ‘kesederhanaan’. Dan sorak-sorai pun membahana dalam konser yang dipadati muda-mudi pecinta musik paduan suara. Sebuah Sanguinis Choraliensis memang dan semoga sukses dalam berpadu suara di Prancis.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: