Kabar Terkini

Sendu, Cicilia Yudha Membatin di Depan Piano


Ketika Cicilia Indah Yudha memulai resital pianonya malam itu lewat persembahannya kepada sahabat dekat almarhum Kris Biantoro yang juga adalah persona pertelevisian Indonesia, perlahan kabut kesenduan turun di dalam Erasmus Huis malam Senin ini. Kabut yang pekat ini sesekali tertembusi warna merah menyala gaun pianis ini, namun agaknya suasana sendu itu semakin paripurna di babak pertama resital malam itu.

Dengan suara piano yang melodramatis, karya Scarlatti Sonata K.466 tumbuh dalam suasana F minor. Kalimat yang tertutur mendalam berpadu dalam nuansa yang terkesan sederhana, cemerlang namun demikian kontemplatif. Pun sentuhan ini terus berlanjut hingga Sonata Piano op.90 dalam E minor karya Beethoven yang disusun dalam dua bagian saja, sedikit berbeda dengan karya sonata pada umumnya. Suasana yang terkesan introvert namun dengan berpadu dengan gemuruh sang komponis yang dikenal meledak-meledak. Walaupun dibina dalam paradox, namun suasana sendu terasa begitu mengakar, terlihat dari bagaimana pianis yang menyelesaikan pendidikan doktorat musiknya di University of North Carolina Greensboro membentuk semuanya itu dalam permainan musiknya yang terasa intim, berapi namun seakan membentuk jarak dan pembatas yang tidak kelihatan dari penontonnya.

Babak ini kemudian dilanjutkan dengan dua komponis abad-20, 3 karya Encore dari Luciano Berio yang berpadu dengan elemen alam. Dalam Wasserklavier, piano seakan tenggelam dalam arus-arus air yang tenang dan sesekali deras berderai, Erdenklavier elemen aksentuasi yang melambangkan tanah berbatu seakan mengakar kuat dalam bobot yang dipadu sentuhan pasir yang berdesir lembut. Luftklavier sebagai karya ketiga melambangkan desau angin yang berderai bertiup di sela-sela dedaunan yang dimainkan dengan lembut namun sesekali menghardik di tangan Cicilia Yudha. Adapun karya Robert Casadesus, Toccata op.40 yang menjadi topik disertasinya menutup konser dengan nuansa yang sama sekali berbeda sekali dengan diawal. Karya ini pun menjadi ajang adu sentuh piano yang gemerlapan, sesuai dengan nama karya ini. Dimainkan dengan begitu teliti, terlihat dalam karya ini bagaimana pianis yang memulai debutnya sebagai pianis solo dengan Cleveland Orchestra ini, menjalin setiap kalimat dan tekstur yang terbina indah dan berstruktur, sebuah nilai tambah terutama apabila memainkan karya modern ini.

Babak kedua giliran karya Schumann yang dimainkan, Carnival Jest from Vienna op.26. Dalam karya lima bagian ini, nampak Iin yang kini menjadi pengajar di Youngstown State University AS, bermain dengan mengedepankan sosok Schumann yang dramatis dan sesekali menjalin melodi yang panjang dan indah. Sesekali juga tersingkap bagaimana fase-fase kegelisahan komponis yang menjadi nyata dalam permainan yang melankolis dan terkadang malah energik, karya ini pun dibuat sang pianis berbicara mengenai keanggunan, semangat, melankoli, juga kesenduan yang kembali merundung di babak kedua ini, sungguh cerminan Robert Schumann dalam berbagai fase hidupnya. Berbagai faset terbersit dari sang komponis yang aktif awalnya sebagai pianis, lalu komponis dan kritikus musik yang mengakhiri kariernya akibat gangguan kejiwaan.

Karya Maurice Ravel, La Valse menjadi gambaran lain dari pianis yang setelah menyelesaikan pendidikan di Yayasan Pendidikan Musik, yang juga adalah institusi penyelenggara resital malam ini, melanjutkan ke Cleveland Institute of Music. Berbagai warna dan kecermatan Iin dalam mengolah kalimat. Seperti kebanyakan karya orkestrator ulung ini, Ravel memang menjalin karyanya dengan berbagai warna dan karakteristik instrumen orkes dan dapat menjadi lubang jebakan bagi pianis yang kurang bijak dalam memilah-milah dalam permainan. Malam ini, kecermatan sang pianis dalam membentuk karya yang berstruktur tanpa terlalu tenggelam dalam obesesi pewarnaan yang berlebihan. Setiap kalimat digarap dengan seksama, dengan warna yang secukupnya pada latar, menjadikan karya ini mencuat dan mudah dipahami oleh pendengar tapi juga mengundang decak kagum.

Permainan Cicilia Yudha begitu tergarap dengan seksama sepanjang konser. Eksekusinya pun tergolong cermat dan memiliki konsep yang kuat, pun alur nafas dan frase yang dipilihnya meskipun sedikit banyak berbeda, namun dapat diikuti. Alhasil nuansa musik pun terbentuk dengan kuat sedari awal resital di auditorium berkapasitas 330 orang yang nyaris penuh disesaki penonton, pun juga kefasihan tutur permainannya di atas rata-rata. Namun agaknya ini pun menjadi bumerang bagi Iin, demikian pianis ini dipanggil, yang sempat beberapa saat terasa jelas mendadak ragu dalam permainannya yang membuat penonton sesekali terkesiap dan ikut waswas. Tapi walaupun demikian setiap karya, mampu ia tutup dengan begitu meyakinkan dan mantap. Tepuk tangan pun meriah. Alhasil dua encore pun disajikan, satu adalah karyanya bagi sekolah musik YPM yang menyanyi romantis dan juga sebuah lagu berjudul Widmung juga dari Schumann yang menawan hati dan diganjar dengan transkripsi permainan virtuos Franz Liszt.

Resital ini memang menjadi persembahannya bagi negara ini, yang seperti pesan alm. Kris Biantoro, bahwa pianis ini sekalipun belajar di Amerika Serikat tidak boleh melupakan akarnya sebagai seorang Indonesia. Pun dalam konser, sedapat mungkin ia menjelaskan makna karyanya dalam bahasa Indonesia, sebagai komitmennya terhadap bangsa ini, walaupun tentu lebih mudah untuk berbicara dalam bahasa Inggris, bahasa yang ia gunakan sehari-hari selama 18 tahun terakhir. Komitmen itu bergema terus dalam batin, disampaikan lewat secercah suara dari balik tuts piano.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: