Kabar Terkini

Mari Bertango, Mari Meretas Batas!


image003Erasmus Huis kembali beraroma tango malam Jumat ini. Hentakan ritmis menggema di seluruh ruangan, menghangatkan auditorium yang dingin setelah diguyur hujan di malam itu. Sesekali nuansa tango itu pekat hingga terasa Erasmus Huis sekejap berubah sementara seperti klub tango yang biasanya merangkap sebagai bar lengkap dengan kepulan asap rokok harus sekaligus menyesakkan yang menghiasi keceriaan dan juga melankoli yang terlambung lewat nada.

Benar, Carel Kraayenhof bersama Kraayenhof Tango Ensemble kembali hadir di Erasmus Huis di penghujung Mei ini setelah kedatangan mereka yang pertama 1.5 tahun yang lalu. Menarik bahwa dalam konser kali ini Carel dan kawan-kawan tidak hanya membesut karya-karya Astor Piazzolla yang adalah Bapak Tango Modern seperti Milonga en Re yang dimainkan oleh J.P. Dobal pada piano, Jan Troost pada cello dan Jacob Brandenhorst pada bass pun juga hadir Revirado. Mereka juga banyak mengetengahkan karya komposisi sendiri yang juga diramu dalam irama Amerika Selatan.

Menarik bahwa di tangan Carel Kraayenhof yang bermain dengan irama ritme yang kuat pada instrumen bandoneon, banyak karya diciptakan. Sebagai seorang seniman Belanda, Kraayenhof pun secara sadar mengembangkan tango dan milonga juga dengan sentuhan Eropa yang kental. Dalam komposisinya “Bamestra” yang mengisahkan kampung halaman Kraayenhof, muncul senandung yang indah pada bandoneon yang secara struktur kerap mengingatkan pada bentuk komposisi chorale namun tetap disuguhkan dalam nuansa latin yang kental. Pun “Lament” hadir dengan imitasi polifonik yang timbul satu persatu dari bandoneon, piano, cello, biola yang dimainkan oleh Bert Vos dan Iefke SL Wang serta kontrabass. Sungguh secara kekayaan bisa jadi karya-karya ini selangkah di depan sang guru Piazzolla karena menyatukan sungguh gaya komposisi Eropa dengan tango dan milonga.

Namun demikian, “Charlotte” dan “Tornillo en la maquina Taguera” Kraayenhof mencoba kembali ke irama tango klasik yang lebih terstruktur dan tradisional. Pun hadir meramaikan acara duo penari yang menarikan tango klasik di bawah panggung, yang mungkin karena keterbatasan tempat tidak bisa terlalu banyak mengeksplorasi gerak. “Cry for Freedom” yang ditulis Kraayenhof untuk film Liberacion mengalun dengan kepedihan yang kuat. Violinis Bert Vos mengangkat melodi dan gaya fiddling khas permainan biola kaum Yahudi dalam “Doina” yang kemudian disambung dengan karya “Ida y Vuelta” yang ditulis oleh Kraayenhof untuk ibu Bert Vos, Ida Vos yang adalah penulis Belanda keturunan Yahudi yang ternama dan salah satu orang yang selamat dari pembantaian Yahudi pada Perang Dunia II.

Komitmen ensembel ini untuk mengedukasi pemusik lokal dalam memainkan musik tango terus dibina. Pun workshop diadakan oleh para musisi dalam beberapa hari terakhir untuk mengenalkan musik ini kepada pemain Indonesia, di antaranya Irsa Destiwi dan String Quartet Pro Art. Karya Kraayenhof yang berjudul “Aleppo” dan “E Fuego del fueye” menjadi sarana mereka bermain bersama dalam konser ini yang tentunya menghadirkan nuansa instrumen gesek yang tebal. Karya sang pianis Juan Pablo Dobal pun memberikan nuansa otentik pada musik berjudul “Andes-Domi” yang dibuka permainan ensembel yang kaya dan dilanjutkan dengan permainan solo piano berirama malambo yang maskulin dan bertenaga. Kraayenhof pun sempat berpesan bahwa Indonesia seharusnya sudah cukup matang untuk mempunyai ensembel tango sendiri.

Kraayenhof memang menularkan semangatnya. Permainannya yang ritmis dipadu dengan tekstur instrumen gesek yang melodius sesekali ditimpali dengan derak yang mengangkat irama permainan. Permainan Dobal yang berapi-api pun dipadu dengan sentuhan jazz yang cukup kental. Hentakan kaki pun sesekali terdengar, seakan tidak lepas dari energi permainan cepat dan garang tango. Harus dikatakan bahwa animo penonton kali ini memang tidak semeriah dan sehiruk-pikuk satu setengah tahun yang lalu, namun itu tidak menyurutkan penonton memaksa ensembel ini bermain dua karya encore yang salah satunya “Bengawan Solo” yang dirintis dalam gaya milonga dinyanyikan oleh vokalis muda Calvin Jeremy, menutup perjumpaan malam itu.

Di sisi lain, memang Piazzolla adalah Bapak Tango Modern, namun Kraayenhof membawa tango sedikit lebih jauh. Dan irama tango pun membawa seorang Belanda ke eksplorasi yang jauh, irama itu juga yang membawa penonton Indonesia bebas mencicipi sedikit kekayaan musik Argentina itu. Sungguh, seni meretas batasnya…

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: